
Bupati Pamekasan, Kholilurrahman. KAMURA.id—Di bawah langit Pamekasan yang membentang luas, di tengah aroma garam dan debur ombak, seorang putra Madura berdiri teguh, membawa harapan bagi tanah kelahirannya. Dr. KH. Kholilurrahman, S.H., M.Si., atau yang akrab disapa Kholil, adalah lebih dari sekadar Bupati Pamekasan.
Ia adalah cerminan jiwa Madura: keras, agamis, namun penuh kepekaan terhadap denyut nadi rakyat. Dilantik pada 19 Maret 2025 sebagai bupati untuk periode keduanya, Kholilurrahman adalah tokoh yang menjalin benang tradisi dan modernitas, menapaki perjalanan panjang dari pesantren hingga kursi pemerintahan.
Akar yang Kuat
Lahir pada 14 Juni 1960 di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Kholil adalah putra sulung K.H. Hasan Abdul Wafi dan Ny. Hj. Aisyah Zaini, dua figur berpengaruh dari Pamekasan. Darah Madura mengalir kental dalam dirinya, membentuk karakter yang kokoh namun rendah hati.
Dibesarkan di lingkungan pesantren, ia belajar nilai-nilai keislaman sejak dini, dari doa-doa di pagi buta hingga diskusi panjang tentang kehidupan. “Orang Madura itu pantang menyerah,” katanya suatu kali, mengenang pelajaran dari ayahnya yang menjadi pegangan hidupnya.
Pendidikan Kholil mencerminkan keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas. Ia menamatkan pendidikan dasar dan menengah di madrasah-madrasah ternama di Probolinggo dan Malang, sebelum meraih gelar sarjana syariah dan hukum di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel dan Universitas Darul Ulum.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi magister dan doktor di bidang administrasi publik di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, lulus dengan predikat cemerlang pada 2010 dan 2012. Pendidikan ini menjadi fondasi bagi karirnya yang berpijak pada dua dunia: agama dan pemerintahan.
Perjalanan dari Pesantren ke Parlemen
Kholilurrahman bukanlah pemimpin yang muncul dari kehampaan. Perjalanan karirnya adalah mozaik pengabdian yang panjang. Pada akhir 1990-an, ia memulai langkah politiknya sebagai anggota DPRD Jawa Timur, mewakili aspirasi rakyat Madura selama dua periode (1999-2008). Di sana, ia dikenal sebagai sosok yang vokal namun bijaksana, memperjuangkan pembangunan daerah tertinggal. Pada 2008, ia terpilih sebagai Bupati Pamekasan periode pertama, membawa angin segar dengan fokus pada infrastruktur dan pendidikan berbasis pesantren.
Setelah masa jabatannya berakhir pada 2013, Kholil melangkah ke panggung nasional sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 2014-2018. Di Komisi VI, ia memperjuangkan kebijakan yang mendukung industri, perdagangan, dan UMKM, termasuk untuk petani garam dan tembakau Madura.
Namun, panggilan tanah kelahiran terlalu kuat. Pada Pilkada 2024, Kholil kembali ke Pamekasan, memenangkan hati 291.246 pemilih meski menghadapi sengketa di Mahkamah Konstitusi. Kemenangannya adalah bukti kepercayaan rakyat, sekaligus beban untuk memenuhi harapan yang kian besar.
Di luar politik, Kholil adalah ulama dan pendidik. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Matsaratul Huda di Panempan, Pamekasan, ia membimbing ratusan santri dengan nilai-nilai keislaman yang moderat.
Ia juga aktif sebagai dosen, Ketua MUI Pamekasan (2005-2010), dan Wakil Rois Suriyah PCNU Pamekasan, menunjukkan dedikasinya pada keagamaan dan pendidikan. Tak hanya itu, ia mendirikan LSM Madura Crisis Centre dan menjadi Komisaris Utama PT Persepam Madura United, memperkuat identitas lokal melalui sepak bola.
Visi untuk Pamekasan: Bangkit Bersama
Dengan visi “Bangkit Bersama untuk Pamekasan Maju,” Kholilurrahman menempatkan rakyat sebagai jantung kebijakannya. Misinya mencakup transformasi sosial melalui SDM unggul, pembangunan infrastruktur, ekonomi inklusif berbasis potensi lokal, pelestarian budaya agamis, dan tata kelola pemerintahan yang akuntabel.
“Pamekasan harus jadi tempat di mana anak-anak kita bermimpi besar, tapi tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur,” ujarnya dalam pidato pelantikannya.
Langkah nyata Kholil terlihat sejak awal masa jabatan keduanya. Pada Juli 2025, ia mendukung program becak listrik untuk lansia, bagian dari gerakan “Pamekasan Sehat dan Lansia Sejahtera.”
Pada Agustus 2025, ia menghadiri Hari Pramuka ke-65, mengajak generasi muda menjadi garda terdepan pembangunan. Di bulan yang sama, ia mengukuhkan Kepala Desa Ambender, menunjukkan komitmen pada tata kelola desa. Pada September 2025, Kholil melakukan sidak ke gudang tembakau, memastikan harga yang adil bagi petani melalui kerja sama dengan PT Djarum dan Disperindag Pamekasan. Ia juga mendukung program “Sekolah Rakyat” Presiden Prabowo Subianto, menegaskan sinergi dengan kebijakan nasional.
Badai di Tengah Perjalanan
Namun, perjalanan Kholil tidak selalu mulus. Pada Agustus 2025, sekelompok mahasiswa menyegel kantor bupati, memprotes kinerja yang mereka anggap kurang amanah. Sebulan kemudian, usulan pemakzulan dari mantan rival politiknya, Suhairi, mencuat di DPRD Pamekasan.
Kholil menanggapi dengan tenang, mengajak masyarakat menjaga keamanan dan menghindari provokasi. “Saya di sini untuk melayani, bukan untuk bertikai,” katanya, menegaskan fokus pada pembangunan.
Kontroversi ini, bagaimanapun, tidak mengurangi dedikasinya. Dengan harta kekayaan yang dilaporkan sebesar Rp3,89 miliar, termasuk tanah warisan di Pamekasan, Kholil menunjukkan transparansi sebagai pemimpin. Ia tetap aktif di lapangan, dari pasar tembakau hingga pesantren, mendengar keluh kesah petani dan santri.
Jiwa Madura yang Tak Pernah Padam
Di pasar tradisional Pamekasan, di mana pedagang berteriak menjajakan batik dan garam, nama Kholil sering disebut dengan penuh hormat. “Beliau orang Madura asli, tahu susahnya kami,” ujar Siti, seorang penjual batik. Di sisi lain, ada harapan besar yang disandarkan padanya. “Kami ingin jalan yang lebih baik, pasar yang ramai, dan anak-anak kami sekolah tinggi,” kata Hasan, seorang petani tembakau.
Kholilurrahman adalah cerminan pepatah Madura: “Bhuppa’ bhâbbu’ guru rato”—bapak, ibu, guru, dan raja. Ia adalah ayah bagi masyarakat, guru bagi santri, dan pemimpin bagi Pamekasan.
Dengan akar kuat di pesantren dan pengalaman luas di pemerintahan, ia merajut harapan untuk Madura yang lebih maju, tanpa melupakan jiwa agamis dan budaya yang menjadi denyut nadi pulau garam. Di tangan Kholil, Pamekasan bukan sekadar kabupaten—ia adalah mimpi yang sedang dibangun, satu langkah pada satu waktu.

Tidak ada komentar