x

Pamekasan Economic Fest dan Optimalisasi Potensi Madura Berbasis Riset

waktu baca 4 menit
Sabtu, 13 Jun 2026 17:15 33 Kamura

Pamekasan Economic Fest 2026 memang sudah rampung. Walaupun gembar-gembor tentang kesuksesan perhelatan itu masih bisa kita telusuri di berbagai situs berita nasional.

Cobalah untuk menelusurinya, niscaya akan terpampang di sana sebuah data yang menggembirakan: Bupati Pamekasan Kholilurrahman, saat penutupan kegiatan, Selasa (9/6/2026), membeberkan data yang diperolehnya bahwa sepanjang acara yang dilangsungkan selama tanggal 1 hingga 9 Juni 2026 ini, omzet total mencapai angka Rp1,3 miliar.

Jika dipecah, maka kita akan mendapatkan angka rerata 750 hingga 900 pengunjung setiap malam, dengan omzet yang mampu menyentuh angka lima juta rupiah per stan dalam satu putaran rembulan.

Angka-angka ini, dalam kacamata bupati dan para pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI, adalah bukti otentik bahwa kolaborasi lintas sektor memang dibutuhkan. Pemerintah menyediakan ruang, pelaku usaha menghadirkan produk, masyarakat datang sebagai konsumen, dan ekonomi bergerak dalam satu tarikan napas yang sama.

Namun, tulisan ini hadir bukan hanya untuk mempertebal permak terhadap kegiatan tersebut. Sebaliknya, penulis ingin mengajak warga Madura untuk melihat betapa kegiatan ini telah menampilkan potensi ekonomi Madura yang begitu besar. Tetapi di tengah kubangan potensi itu, ada satu hal yang masih absen: optimalisasi.

Optimalisasi Berbasis Riset

Praktik optimalisasi ini meliputi banyak upaya. Salah satu yang paling elementer dan masih sangat sedikit dilakukan di Madura adalah riset.

Akh. Fawain dkk. (2021) turut menyoroti persoalan ini. Dalam jurnal berjudul Pengangguran dan Potensi Ekonomi Kreatif Madura, mereka menyingkap tabir tentang potensi besar ekonomi kreatif di Madura yang justru tidak mampu dimaksimalkan demi kesejahteraan masyarakat, salah satunya karena minimnya tradisi riset.

Aji Mulya Pratama dan Alief Laili Budiyono (2024) juga menyajikan temuan yang senada. Melalui penelitia mereka yang berjudul Group Guidance with Madura Cultural Values Bhupa Bhabu Guru Rato to Prevent Adolescent Identity Crisis, Pratama dan Budiyono mengulas nilai budaya Bhupa’ Bhabhu’ Guru Rato sebagai bukti nyata bahwa kekayaan budaya Madura menyimpan sumber daya sosial yang sangat besar untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat kontemporer.

Penelitian ini juga menandaskan bahwa nilai-nilai lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi instrumen pendidikan, penguatan karakter, bahkan solusi atas krisis identitas generasi muda. Sayangnya, potensi tersebut baru muncul ke permukaan jika terlebih dahulu diteliti dan didokumentasikan secara ilmiah.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Madura bukan wilayah yang miskin potensi. Yang sering kali kurang adalah kemampuan untuk mengenali, mengukur, dan mengembangkannya secara sistematis. Kita memiliki kekayaan budaya, hasil pertanian, sektor perikanan, industri kreatif, hingga tradisi kewirausahaan yang kuat. Akan tetapi, sebagian besar potensi itu masih berjalan berdasarkan intuisi dan pengalaman semata, belum ditopang oleh data yang memadai.

Padahal, di era ekonomi modern, data adalah bahan bakar utama pembangunan. Sebelum sebuah produk dipasarkan, perlu diketahui siapa konsumennya. Sebelum sebuah destinasi wisata dikembangkan, perlu dipahami apa yang dicari wisatawan. Sebelum sebuah kebijakan dibuat, perlu diketahui persoalan apa yang paling mendesak dihadapi masyarakat. Semua itu tidak lahir dari dugaan, melainkan dari riset.

Refleksi Pasca Pamekasan Economi Fest

Karena itu, keberhasilan Pamekasan Economic Fest semestinya tidak berhenti sebagai laporan angka omzet dan jumlah pengunjung. Kegiatan seperti ini justru harus menjadi laboratorium ekonomi yang menyediakan banyak pertanyaan untuk diteliti. Produk apa yang paling diminati? Kelompok usia berapa yang paling banyak berbelanja? Dari daerah mana pengunjung datang? Berapa tingkat kepuasan mereka? Apa kendala yang dialami para pelaku UMKM? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tampak sederhana, namun sampai saat tulisan ini dimuat, belum ada jawaban yang sophisticated terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut.

Padahal  mudah kita bayangkan jika setiap kegiatan besar di Madura selalu disertai riset yang serius. Dalam beberapa tahun saja, kita akan memiliki basis data yang kaya mengenai perilaku konsumen, tren pasar, karakter wisatawan, hingga peta potensi ekonomi daerah. Dari sana, pembangunan tidak lagi berjalan dengan pendekatan coba-coba, melainkan berdasarkan pengetahuan yang terukur.

Maka, yang perlu dirayakan dari Pamekasan Economic Fest bukan hanya angka Rp1,3 miliar yang berhasil diputar selama sembilan hari. Lebih dari itu, yang harus disadari adalah adanya bukti bahwa pasar untuk produk-produk lokal Madura sesungguhnya ada. Masyarakat memiliki daya beli, pelaku usaha memiliki kreativitas, dan pemerintah memiliki ruang untuk memfasilitasi. Kini, tugas berikutnya adalah memastikan bahwa seluruh potensi tersebut tidak berhenti sebagai peristiwa tahunan yang ramai sesaat.

Sebab sejarah kemajuan suatu daerah tidak pernah dibangun hanya oleh potensi. Potensi hanyalah bahan mentah. Kemajuan lahir ketika potensi itu dikenali, diteliti, dikelola, dan dioptimalkan secara berkelanjutan. Dan jika Madura ingin melompat lebih jauh dalam arena ekonomi regional maupun nasional, maka riset bukan lagi pilihan tambahan. Ia harus menjadi kebiasaan baru. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x