x

Film Foufo dan Potret Budaya Madura yang Perlu Dioptimalisasi

waktu baca 5 menit
Jumat, 19 Jun 2026 13:00 28 Kamura

Sumber gambar: grid.id

KAMURA.id – Film Foufo adalah film yang menarik untuk ditonton, khususnya bagi manusia Madura. Bukan karena ia menampilkan alien yang mendarat di Madura (premis yang pada permukaan terdengar seperti lelucon), melainkan karena ia membuat pilihan yang jarang dilakukan sinema Indonesia: menempatkan budaya lokal bukan sebagai latar, melainkan sebagai inti cerita.

Tujuh puluh persen dialog film ini berbahasa Madura. Sisanya bahasa Jawa dan Indonesia, berganti secara alami tergantung konteks sosialnya. Bagi Bayu Skak, sutradara film ini, itulah cara hidup nyata masyarakat yang ia potret.

Para pemainnya bukan bintang besar. Mereka dipilih lewat audisi terbuka di Surabaya yang diikuti 2.500 peserta, lalu dikarantina selama 45 hari di Jakarta agar chemistry keluarga mereka terasa sungguhan di layar.

Hasilnya adalah film yang berangkat dari dalam: dari nilai, dari bahasa, dari keseharian masyarakat Madura. Bukan film yang menempelkan lokasi Madura sebagai pemandangan eksotis ala kadarnya dan bisa diganti kapan saja.

Tulisan ini tidak hendak mengulas apakah film ini bagus atau tidak, melainkan untuk mengutarakan sebuah tanya: mengapa langkah seperti ini (menjadikan budaya lokal sebagai episentrum sebuah film) masih terasa luar biasa, padahal seharusnya ini adalah praktik lumrah jika mengingat betapa beragamnya fakta geografis dan sosiologis Indonesia?

Kembali Pada yang Lokal

Ada tren global yang sudah berlangsung cukup lama dan semakin menguat: di tengah dunia yang semakin seragam akibat digitalisasi dan globalisasi, perhatian justru bergeser ke hal-hal yang spesifik dan berakar.

Ini bukan sekadar tren pasar. Para peneliti budaya menyebutnya local turn, yang merujuk pada perpindahan fokus dari yang universal ke yang partikular. Film-film Korea Selatan mendominasi platform streaming global bukan karena mereka menanggalkan ke-Korea-annya, melainkan karena mempertahankannya. Kuliner dari berbagai penjuru dunia yang sebelumnya dianggap terlalu asing kini masuk ke restoran bergengsi di kota-kota besar. Pariwisata berbasis pengalaman autentik tumbuh jauh lebih cepat dari wisata massal konvensional.

Dalam lanskap seperti ini, keunikan adalah aset. Dan Madura memiliki banyak aset itu.

Sistem nilai bhuppa-bhabhu-ghuru-rato, tradisi mamaca, rokat tase’, karapan sapi, keunikan Bahasa, sastra daerah, hingga pola diaspora masyarakat Madura yang menyebar ke hampir seluruh Indonesia sambil tetap membawa identitas budayanya, semua itu bukan sekadar catatan antropologi. Itu adalah modal yang bisa ditawarkan ke panggung yang lebih luas.

Penelitian Farida Nurul Rahmawati dkk (2023) bertajuk Wellness Tourism Development Strategy In Madura Based on Local Wisdom menunjukkan hal ini secara konkret. Mereka menemukan bahwa kearifan lokal yang mendasari perilaku budaya sehari-hari masyarakat Madura memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas pariwisata baru, bahkan model ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Kuncinya ada pada diversifikasi produk, penguatan pendidikan kearifan lokal, dan kolaborasi kebijakan yang serius antara pemerintah, koperasi, dan komunitas.

Potensi itu ada. Yang belum ada adalah ekosistem untuk mengolahnya.

Celah yang Mesti Kita Isi

Komunitas Muda Madura (KAMURA) adalah salah satu contoh gerakan yang sudah lama berjalan. Sebagai lembaga think tank, KAMURA fokus pada praktik riset, analisis, dan rekomendasi kebijakan. Praktik ini meliputi juga upaya dokumentasi budaya, dan upaya menjembatani nilai-nilai lama dengan konteks kehidupan yang baru.

Tapi gerakan sejenis hingga saat ini masih mengalami beberapa hambatan elementer seperti adannya gap yang menganga, sumber daya terbatas, dan masih perlunya perluasan jejaring. Ini gambaran kondisi: bahwa gerakan pelestarian dan promosi budaya Madura masih memerlukan koordinasi yang memadai serta dukungan struktural yang cukup.

Jika ditelaah, akar masalahnya ada di beberapa tempat sekaligus.

Pertama, perhatian pemerintah daerah terhadap isu kebudayaan masih minim. Kebudayaan sering muncul dalam pidato, tapi jarang dalam anggaran dan kebijakan yang operasional. Tidak ada program yang secara konsisten mendokumentasikan, mengembangkan, dan mendistribusikan kekayaan budaya Madura ke tingkat nasional dan global.

Kedua, tidak ada kebijakan yang secara spesifik menempatkan budaya sebagai agenda strategis pembangunan daerah, bukan sebatas hiasan dalam acara seremonial, tapi sebagai sektor yang punya rencana jangka panjang.

Ketiga, kesadaran kolektif masyarakat tentang nilai budaya mereka sendiri belum tumbuh merata.

Ini bukan soal rasa bangga yang berlebihan, melainkan soal pemahaman bahwa apa yang mereka miliki adalah sesuatu yang berharga dan bahwa nilai itu bisa hilang jika tidak dijaga dan dikembangkan secara aktif.

Foufo sebagai Cermin

Foufo menarik justru karena ia membuktikan bahwa narasi budaya lokal yang kuat tidak harus mengorbankan daya tariknya untuk penonton luas. Film ini diproduksi dengan standar teknis yang serius: 120 animator dari Surabaya mengerjakan efek visual alien selama tujuh bulan, dengan pendekatan hibrida antara kostum fisik dan pengerjaan digital. Distribusinya pun ambisius.

Artinya, pilihan untuk menjadikan budaya Madura sebagai inti cerita bukan mengurangi potensi komersialnya, justru itu yang membuatnya berbeda dan layak diperhatikan.

Ini hikmah yang relevan dan melampaui industri film. Jika sebuah film dengan 70 persen dialog berbahasa Madura berani bersaing di bioskop nasional, maka tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa budaya Madura terlalu sempit untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mempresentasikannya secara serius, bukan memalsukannya agar terasa lebih familiar, dan bukan pula menjualnya sebagai eksotisme murahan.

Madura memiliki cukup bahan untuk menjadi sesuatu yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun global. Tapi bahan itu membutuhkan pengolahan yang sistematis: kebijakan yang mendukung, komunitas yang terorganisir, dan kesadaran kolektif yang tumbuh dari dalam masyarakat itu sendiri.

Foufo, sebuah film yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2026 ini, barangkali menjadi satu langkah yang representatif. Langkah berikutnya, yang itu lebih besar dan lebih berkelanjutan, masih menunggu untuk diambil. (LITBANG KAMURA)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x