x

Madura United, KEK Tembakau, dan Mimpi Besar Achsanul Qosasi Mengubah Wajah Madura

waktu baca 6 menit
Senin, 8 Jun 2026 17:16 25 Kamura

KAMURA.id—Madura United bukan sekadar klub sepak bola. Di balik warna loreng hitam, sorak suporter, dan pertandingan yang kadang penuh air mata, ada cita-cita yang lebih besar: membangun kebanggaan orang Madura, menyatukan empat kabupaten, lalu menggerakkan energi itu untuk membenahi masa depan ekonomi Madura.

Demikian disampaikan Prof Dr Achsanul Qosasi, Presiden Madura United Fc dalam podcast channel Politika.id bertajuk Presiden Madura United: Membela Nama Madura di Lapangan, Mengubah Nasib Madura di Ladang Tembakau, yang diunggah pada Jumat (5/6).

Dalam perbincangan itu, Achsanul menjelaskan bahwa sepak bola sejak awal ia pilih sebagai jalan kultural untuk menyatukan Madura. Ia melihat Madura sebagai satu pulau dengan bahasa, kebudayaan, dan hasil bumi yang relatif sama, tetapi sering berjalan sendiri-sendiri dalam pembangunan.

“Satu hal yang membuat saya ingin melakukan itu adalah dari sisi anak muda dulu, emosi dulu. Jadi kita jangan paksa mereka mencintai Madura kalau mereka tidak bangga. Jadi bangga dulu, baru mereka punya rasa cinta,” ujar Achsanul.

Menurutnya, kebanggaan itu lebih mudah dibangun melalui sepak bola. Sebab di stadion, semua identitas sosial melebur. Orang kecil, pejabat, kiai, santri, pedagang, dan anak muda bisa merasakan emosi yang sama.

“Sepak bola ini adalah persatuan. Menyatukan kita semua, mulai dari tukang becak sampai dengan presiden. Bisa nangis bareng, bisa lompat bareng, bisa pelukan bareng, bisa histeris bareng, bisa marah bareng,” katanya.

Bagi Achsanul, Madura United tidak hanya hadir untuk mengejar kemenangan di lapangan. Klub itu juga menjadi ruang belajar sosial bagi masyarakat Madura: belajar menerima kekalahan, menghargai perbedaan, dan memahami bahwa hidup adalah kompetisi yang tidak selalu harus dimenangkan dengan permusuhan.

Ia mengakui, mengajarkan kekalahan bukan perkara mudah. Dalam kultur masyarakat yang keras oleh pengalaman panjang, kekalahan sering dianggap aib, sementara perbedaan kerap dilihat sebagai permusuhan. Melalui sepak bola, kata Achsanul, cara pandang itu pelan-pelan diubah.

“Hidup itu sebuah kompetisi. Ada yang menang, ada yang kalah, ada yang berbeda. Berbeda itu rahmat,” ujarnya.

Namun, perbincangan Achsanul tidak berhenti pada sepak bola. Dari stadion, ia membawa pembicaraan menuju ladang tembakau. Sebab baginya, kebanggaan terhadap Madura harus berujung pada kerja nyata untuk memperbaiki ekonomi rakyat.

Achsanul menilai Madura memiliki anugerah besar yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan. Jika Sumatera memiliki sawit, Kalimantan memiliki batubara, Sulawesi memiliki nikel, dan Papua memiliki emas, maka Madura dianugerahi tembakau dan garam.

“Di Madura itu Allah kasih tembakau dan garam,” kata Achsanul.

Masalahnya, menurut dia, tembakau Madura tidak pernah sungguh-sungguh ditata dengan regulasi yang adil. Berbeda dengan komoditas lain yang memiliki tata kelola kuat, tembakau Madura selama ini dibiarkan berada dalam mekanisme yang ia sebut sebagai “tarung bebas”.

“Tembakau enggak ada regulasinya. Suruh tarung bebas. Keadilan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat Madura,” tegasnya.

Achsanul menjelaskan, tembakau bukan sekadar komoditas bagi masyarakat Madura. Pada musim panen tembakau, uang beredar di desa-desa. Petani memegang hasil kerja kerasnya. Buruh, pedagang, pemilik gudang, sopir, hingga keluarga-keluarga di kampung ikut merasakan denyut ekonominya.

“Mereka akan pegang uang pada saat panen tembakau. Begitu berartinya tembakau bagi Madura,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai persoalan tembakau Madura tidak bisa hanya didekati dengan kacamata penindakan. Ketika ada industri hasil tembakau rakyat yang dianggap melanggar, negara perlu lebih dulu bertanya mengapa pelanggaran itu terjadi. Menurutnya, banyak tindakan yang tampak sebagai pelanggaran sesungguhnya lahir dari ketidakadilan tata niaga dan ketiadaan pembinaan.

“Pengusaha rokok juga kalau bisa, ya enggak akan ada yang ingin melanggar. Siapa sih yang ingin melanggar? Tapi kalau peraturannya tidak berpihak kepada kita, sementara kita memiliki produsen terbesar, lama-lama mereka protes,” kata Achsanul.

Ia menegaskan, yang dibutuhkan Madura adalah pembinaan dan regulasi yang adil. Jika setelah dibina dan diberi jalan legal pelaku usaha tetap melanggar, maka penegakan hukum dapat dilakukan. Namun jika sejak awal tidak ada perhatian, tidak ada proteksi, dan tidak ada jalan masuk yang masuk akal, penindakan semata tidak menyelesaikan akar persoalan.

“Bukan menghukum, tapi membina. Kalau pembinaan dengan regulasi sudah baik, mereka masih nakal, hukum silakan,” ujarnya.

Dalam pandangan Achsanul, ketidakadilan tata niaga terlihat dari posisi petani yang lemah. Petani menanam, memetik, merajang, dan menjemur tembakau, tetapi harga kerap ditentukan oleh pembeli. Nilai tambah juga banyak keluar dari Madura karena tembakau hanya berhenti sebagai bahan mentah.

“Selama ini kita menanam hanya jadi tembakau, habis itu pergi. Nah, kita maunya habis jadi rokok, dibungkus, hasilnya punya nilai tambah untuk Madura,” kata Achsanul.

Di sinilah gagasan Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Tembakau Madura menemukan tempatnya. Achsanul ingin Madura tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Madura harus memiliki ekosistem ekonomi tembakau dari hulu sampai hilir: mulai dari petani, gudang, industri hasil tembakau rakyat, legalitas, pembiayaan, produksi, pengemasan, pemasaran, hingga pengawasan cukai.

Menurutnya, KEK Tembakau bukan sekadar kawasan industri, melainkan desain besar untuk menata ekonomi rakyat Madura secara legal, tertib, dan berkeadilan. Dengan KEK, pelaku usaha kecil tidak hanya diminta patuh, tetapi diberi jalan untuk naik kelas. Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi diperkuat posisi tawarnya.

Achsanul menyebut, gagasan itu tidak lahir dari keluhan semata. Selama sekitar enam bulan, ia bersama tim anak-anak muda Madura melalui Kamura menyusun basis data, melakukan survei, FGD, seminar, dan pemetaan potensi. Data mengenai lahan, petani, gudang, industri tembakau, hingga persoalan tata niaga dikumpulkan agar Madura bisa berbicara kepada negara dengan dasar yang kuat.

“Dari dulu kita meminta sesuatu kebijakan yang berpihak ke Madura, tapi kita sendiri tidak tahu berapa data yang ada di Madura. Berapa data tembakau, berapa jumlah gudang, berapa jumlah garam, luas lahan garam, migas ada berapa, dana bagi hasil migas berapa yang diterima Madura. Data ini kan tidak pernah disampaikan ke publik,” jelasnya.

Hasil kajian dan pemetaan itu kemudian disampaikan kepada empat bupati di Madura. Menurut Achsanul, para bupati menyambut baik gagasan tersebut dan menyetujui upaya menjadikan KEK Tembakau sebagai landasan memperbaiki fundamental ekonomi Madura.

“Bupati empat kabupaten mendengar dan menyambut baik. Mereka kemudian bersepakat menyetujui itu semua untuk menjadikan landasan memperbaiki fundamental ekonomi Madura,” katanya.

Bagi Achsanul, perjuangan ini adalah kelanjutan dari upaya panjang membangun kebanggaan Madura. Sepak bola membangun rasa memiliki. Pendidikan membangun cara berpikir. Tembakau dan garam harus menjadi jalan kesejahteraan.

Ia menolak cara pandang yang hanya melihat Madura dari stereotip negatif. Menurutnya, Madura harus dilihat secara lebih utuh: sebagai pulau dengan kebudayaan kuat, rakyat pekerja keras, potensi ekonomi besar, dan keinginan untuk maju dengan cara yang benar.

“Pertama karena campaign negatif tentang Madura. Oh, di Madura itu mengerikan, kasar orangnya. Siapa investor yang mau masuk? Kan enggak ada. Tapi kan enggak begitu,” ujarnya.

Achsanul ingin stigma itu dilawan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata. Madura harus membuka diri, memperbaiki tata kelola, membangun data, mengundang orang datang, dan menunjukkan bahwa pulau ini memiliki potensi besar.

Dari stadion ke ladang tembakau, Achsanul sedang membangun satu garis perjuangan yang sama: mengangkat martabat Madura. Madura United menjadi bahasa persatuan. KEK Tembakau menjadi tawaran kebijakan. Di antara keduanya, ada cita-cita agar Madura tidak lagi hanya dikenal karena stereotip masa lalunya, tetapi dihormati karena masa depannya.

“Madura ini harus punya nilai tambah,” kata Achsanul.

Dan nilai tambah itu, bagi dia, harus dimulai dari keberanian menata apa yang selama ini menjadi napas ekonomi rakyat: tembakau, garam, dan kebanggaan sebagai orang Madura. (SM)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x