

Sumber gambar: kabarmadura.id
Klub sepak bola, bagi sebagian orang, mungkin tampak sederhana. Sebelas pemain berlari di atas rumput, mengejar bola, mencetak gol, lalu pulang dengan kemenangan atau kekalahan.
Tetapi, bagi sebagian masyarakat yang lain, sepak bola selalu lebih dari itu. Olahraga ini adalah ruang tempat identitas dipertaruhkan, dirayakan, sekaligus dinegosiasikan. Dan Madura United menjadi klub yang melampaui urusan permainan tentang kalah-menang itu.
Ketika Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, mengatakan bahwa sepak bola menjadi ruang perubahan bagi masyarakat Madura, maka ungkapan ini mesti dibaca bukan hanya perihal prestasi di papan klasemen semata, melainkan tentang sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana sebuah masyarakat berusaha keluar dari penjara stereotip yang selama puluhan tahun membelenggunya.
“Stigma dan persepsi orang Madura yang tidak terima dengan kekalahan dan perbedaan, perlahan itu berubah,” kata Achsanul dalam sebuah podcast bertajuk Presiden Madura United: Membela Nama Madura di Lapangan, Mengubah Nasib Madura Di Ladang Tembakau di akun YouTube Politika ID (05/06/2026). Pernyataan itu menarik bukan hanya karena urusan optimisme, melainkan karena menyentuh persoalan yang selama ini jarang dibicarakan secara serius: problem identitas Madura.
Tentang Identitas
Selama bertahun-tahun, Madura sering kali hadir dalam imajinasi publik Indonesia melalui citra yang sempit. Masyarakatnya kerap diasosiasikan dengan kekerasan, keras kepala, temperamental, atau sulit menerima perbedaan. Tidak sedikit yang memandang Madura sebagai wilayah yang ditakdirkan untuk tertinggal dan terbelakang. Citra tersebut begitu kuat sehingga sering kali dianggap sebagai kenyataan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Padahal, seperti semua identitas sosial lainnya, identitas Madura tidak pernah tunggal.
Ekonom dan filsuf peraih Nobel, Amartya Sen, dalam bukunya Identity and Violence (2006), mendedah bahwa manusia tidak pernah memiliki hanya satu identitas. Setiap orang membawa banyak identitas sekaligus yang saling bertaut dan berubah sesuai konteks. Seseorang bisa menjadi bagian dari kelompok etnis tertentu, warga negara, pekerja, penggemar olahraga, anggota komunitas keagamaan, atau bagian dari kelompok sosial lainnya dalam waktu yang bersamaan.
Perspektif Sen membantu menjelaskan mengapa stereotip terhadap orang Madura sebenarnya bermasalah sejak awal. Ketika seseorang hanya melihat orang Madura sebagai representasi dari satu identitas etnis semata, maka ruang bagi identitas lain menjadi hilang. Akibatnya, kompleksitas manusia direduksi menjadi sekumpulan label yang kaku.
Di titik inilah sepak bola bekerja dengan cara yang unik.
Seorang pemain Madura United bermain untuk klub kebanggan orang Madura. Ia mewakili kebanggaan masyarakat Madura. Namun pada saat yang sama, ia juga bagian dari komunitas sepak bola Indonesia yang tunduk pada aturan permainan yang sama. Ia bermain bersama pemain dari berbagai daerah, bekerja di bawah regulasi liga nasional, dan berkompetisi dalam ekosistem yang menuntut disiplin, profesionalisme, serta penghormatan terhadap lawan.
Di sini, identitasnya menjadi cair.
Ia adalah pemain Madura United yang membawa mimpi penggemar sepak bola di Madura, tetapi di sisi lain dia juga atlet profesional. Ia bagian dari Madura United, tetapi juga bagian dari sepak bola Indonesia. Jika suatu hari memperkuat tim nasional, ia juga akan menjadi representasi Indonesia. Bahkan dalam kompetisi internasional, ia dapat menjadi bagian dari representasi Asia Tenggara. Lingkaran identitas itu terus melebar tanpa pernah menghapus identitas sebelumnya.
Karena itu, sepak bola sesungguhnya menawarkan sesuatu yang sangat berharga: kesempatan untuk melihat manusia Madura dalam spektrum yang lebih luas daripada sekadar stereotip lama yang melekat padanya.
Melampaui 90 Menit
Gagasan ini sejalan dengan apa yang pernah ditulis Franklin Foer dalam How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (2014). Bagi Foer, sepak bola tidak pernah berhenti pada pertandingan yang berlangsung sekitar 90 menit. Di dalamnya terdapat perjumpaan antara budaya, ekonomi, politik, nasionalisme, hingga proses globalisasi yang membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri.
Foer menulis bahwa dalam perjalanannya mengamati sepak bola di berbagai negara, ia menggunakan para pemain, suporter, dan strategi permainan sebagai cara untuk memahami bagaimana manusia mengidentifikasi dirinya pada era baru. Dengan kata lain, sepak bola adalah cermin sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun makna tentang siapa mereka.
Apa yang dilakukan Achsanul Qosasi melalui Madura United berada tepat dalam kerangka tersebut.
Klub ini bukan sekadar institusi olahraga. Ia telah menjelma menjadi arena simbolik tempat masyarakat Madura memperkenalkan wajah lain tentang dirinya. Ketika ribuan orang datang ke stadion untuk mendukung tim yang sama, mereka sedang belajar menerima aturan bersama. Ketika tim mengalami kekalahan dan suporter tetap memberikan dukungan, mereka sedang belajar menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan. Ketika pemain dari berbagai daerah dan negara diterima sebagai bagian dari keluarga besar klub, mereka sedang belajar hidup dalam keberagaman.
Proses-proses kecil semacam itu mungkin tampak biasa. Namun dalam perspektif sosial, ia merupakan latihan kolektif yang sangat penting.
Karena itu, ketika Achsanul mengatakan bahwa stereotip tentang Madura tidak akan hilang hanya melalui slogan, ia sesungguhnya sedang menyampaikan sesuatu yang fundamental.
“Stereotip tentang Madura kasar dan tertinggal itu dibuat. Nah, yang bisa mengubah itu adalah orang Madura sendiri. Tidak hanya dengan omongan, tapi harus ada action,” ujarnya.
Kalimat merupakan sebuah proyek sosial yang lahir dari seorang pemilik klub sepak bola.
Selama ini banyak kelompok masyarakat yang mencoba melawan stigma melalui kampanye, seminar, atau narasi di media. Semua itu penting. Namun Madura United menawarkan pendekatan yang berbeda. Achsanul berusaha mengubah persepsi melalui pengalaman konkret yang dapat disaksikan publik secara langsung. Setiap pertandingan, setiap interaksi antarsuporter, setiap sikap sportif di lapangan menjadi bukti yang jauh lebih kuat daripada seribu pidato.
Tentu saja, satu klub sepak bola tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan identitas yang dihadapi Madura. Stigma sosial tidak lenyap dalam semalam. Ia terbentuk selama puluhan tahun dan membutuhkan waktu panjang untuk mengubahnya. Namun setidaknya, Madura United telah membuka satu jalur penting yang selama ini jarang ditempuh.
Karena pada akhirnya, pertaruhannya memang lebih besar daripada sekadar trofi juara.
Yang sedang diperjuangkan bukan hanya kemenangan di lapangan, melainkan hak masyarakat Madura untuk dikenali secara lebih adil. Bahwa mereka bukan sekadar kumpulan stereotip yang diwariskan dari masa lalu. Bahwa mereka mampu menunjukkan nilai-nilai sportivitas, keterbukaan, disiplin, dan penghormatan terhadap perbedaan. Dan jika sepak bola mampu membantu menghadirkan wajah Madura yang lebih utuh kepada publik, maka Madura United sesungguhnya sedang memenangkan pertandingan yang jauh lebih penting daripada apa pun yang tercatat di papan skor. (Red)

Tidak ada komentar