x

Akademisi Madura di Antara Pusaran Prestasi dan Stigma

waktu baca 4 menit
Rabu, 28 Jan 2026 15:03 158 Kamura

KAMURA.id – Beberapa hari terakhir, jika kita mengetik kata Madura di kolom pencarian Google, akan terselip kabar tentang Hadiatullah yang menyabet gelar Ph.D. di bidang kimia terapan dari Tianjin University; atau KH. Muhammad Aunul Abied Shah sebagai putra Madura yang meraih gelar doktor pertama dari Universitas Al-Azhar. Kabar-kabar ini muncul di antara riuh rendah representasi Madura yang selama ini lebih sering dipenuhi potret lain: yang keras, banal, dan jauh dari dunia intelektual.

Kesan “terselip” itu penting dicatat. Ia menunjukkan betapa prestasi akademik orang Madura kerap hadir sebagai sisipan, bukan sebagai arus utama.

Seolah-olah pencapaian intelektual memang bukan sesuatu yang lazim lahir dari pulau ini. Padahal, jika tidak melihat dengan kacamata kuda, iklim akademik dan tradisi intelektual di Madura bukanlah hal baru. Yang baru, justru cara publik (utamanya media) memandang Madura secara sempit dan berulang-ulang.

Tradisi Intelektual yang Tidak Pernah Absen

Prestasi Aunul Abied Shah di Al-Azhar atau Hadiatullah di Tianjin University sering dirayakan sebagai kisah luar biasa dari daerah yang dianggap tertinggal. Seolah Madura secara inheren tidak dapat bertemu dengan kultur seorang akademisi.

Sejarah dengan tegas membantah asumsi itu.

Madura memiliki jejak intelektual yang panjang dan berlapis. Hari ini kita mengenal, misalnya, Mun’im Sirry, akademisi yang karya-karyanya beredar dan diperdebatkan di ruang akademik internasional. Generasi sebelumnya kita juga mencatat Abdul Hadi WM (alm), sastrawan dan pemikir yang puisinya berkelindan dengan tradisi Islam, sufisme, dan kebudayaan Nusantara.

Bahkan jauh sebelum itu, pada era pra dan awal kemerdekaan, Madura melahirkan tokoh-tokoh intelektual seperti M. Tabrani, penggagas istilah “Bahasa Indonesia”, atau Halim Perdanakusuma, figur penting dalam sejarah militer Indonesia yang namanya kini diabadikan sebagai bandara.

Jika mau diurut, nama-nama akademisi yang lahir dari rahim Madura itu akan berderet memenuhi seluruh tubuh tulisan ini.

Mereka adalah bukti bahwa Madura sejak lama tidak hanya menjadi pinggiran sejarah, melainkan ikut membentuk fondasinya.

Dengan demikian, kelahiran akademisi Madura hari ini bukanlah fenomena baru. Ia adalah kelanjutan dari tradisi lama yang kerap diabaikan.

Pesantren, Tradisi Keilmuan dan Stigma

Salah satu stereotip yang paling bertahan tentang Madura adalah anggapan bahwa pesantren hanya melahirkan kesalehan ritual, bukan kecakapan intelektual. Padahal, justru dari pesantrenlah banyak tradisi keilmuan di Madura bertumbuh. Di sana, kitab-kitab klasik dibaca, diperdebatkan, dan dikritik; metode berpikir diasah melalui disiplin yang ketat dan panjang.

Disertasi Aunul Abied Shah di bidang Ilmu Kalam, yang mengkaji kritik internal dalam tradisi klasik Ahlussunnah, atau Hadiatullah dengan latar Ma’had Tahfidz membuktikan bahwa disiplin pesantren tidak hanya berurusan dengan kesalehan ritual semata.

Keilmuan di Madura bisa jadi sangat terbuka, hanya mungkin perspektif model masih belum dikenal publik sebab sudah kadung riuh dengan label yang sebaliknya.

Masalah utamanya bukan pada absennya intelektual, melainkan pada kuatnya stigma. Madura terlalu lama diproduksi dalam citra yang tunggal: keras, kasar, terbelakang.

Di ruang media dan media sosial, Madura lebih sering hadir dalam bentuk potongan-potongan sensasional: goyang-goyang di atas galon, kekerasan, konflik, atau potret-potret yang jauh dari kecermatan berpikir.

Citra ini lalu direproduksi tanpa henti, hingga menjadi semacam pengetahuan bersama. Dalam situasi seperti itu, prestasi akademik orang Madura tidak pernah benar-benar mengubah persepsi. Ia hanya dianggap pengecualian, bukan bagian dari pola.

Akibatnya, setiap kali ada doktor, Ph.D., atau profesor dari universitas ternama dunia, publik terkejut. Bukan karena prestasinya, tetapi karena asal-usulnya. Seolah-olah Madura tidak seharusnya melahirkan pencapaian semacam itu.

Untuk itu, prestasi akademik yang belakangan muncul semestinya tidak berhenti pada ucapan selamat dan kebanggaan simbolik. Ia perlu dibaca sebagai pintu untuk meninjau ulang cara kita memahami Madura. Bahwa Madura bukan sekadar objek kebijakan, bukan pula sekadar latar cerita kekerasan dan keterbelakangan, melainkan subjek yang sejak lama aktif memproduksi pengetahuan.

Jika kita terus memelihara stigma, maka setiap prestasi akan selalu terasa asing di rumahnya sendiri. Tetapi jika kita mau membuka arsip sejarah dan menengok tradisi intelektualnya, kita akan sampai pada satu kesimpulan sederhana: Madura tidak kekurangan intelektual. Yang sering kurang justru pengakuan dan keadilan dalam cara kita bercerita tentangnya. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x