x

Impian Pemekaran Provinsi yang Menggema

waktu baca 4 menit
Kamis, 18 Sep 2025 09:29 174 Kamura

KAMURA.id—Di bawah langit cerah Sumenep, pada 13 Agustus 2025, sebuah gagasan besar kembali menggema di tanah Madura. Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, dengan penuh keyakinan menyuarakan potensi pemekaran Madura menjadi provinsi tersendiri, terpisah dari Jawa Timur.

Di tengah hembusan angin laut dan aroma garam yang khas, kata-katanya bukan sekadar wacana, melainkan sebuah undangan untuk bermimpi besar—mimpi tentang identitas, otonomi, dan kemajuan bagi masyarakat Madura.

 

Akar Impian: Identitas dan Kebutuhan Lokal

Madura, pulau garam yang kaya akan budaya dan sejarah, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari Jawa Timur. Dengan empat kabupaten—Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep—Madura memiliki karakter yang kuat, dari tradisi karapan sapi yang mendebarkan hingga keramahan masyarakatnya yang terkenal. 

Namun, di balik kebanggaan itu, ada keinginan yang terus menggelora: menjadi provinsi mandiri yang mampu mengelola sumber daya dan menentukan nasib sendiri.

Prof. Mahfud MD, putra asli Madura, menegaskan bahwa pemekaran bukanlah sekadar ambisi politik. “Madura punya potensi besar, tapi harus disiapkan dengan matang—administrasi, sumber daya alam, dan manusianya,” ujarnya di hadapan masyarakat Sumenep. 

Ia menyoroti bahwa pemekaran bisa menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan lokal yang sering kali terabaikan di bawah bayang-bayang kebijakan Jawa Timur yang lebih luas. Dari infrastruktur yang masih tertinggal hingga peluang ekonomi yang belum tergarap maksimal, Madura membutuhkan kebijakan yang lebih fokus dan adaptif.

 

Tantangan dan Harapan

Pemekaran provinsi bukanlah langkah sederhana. Sejak reformasi 1998, Indonesia telah menyaksikan lahirnya provinsi-provinsi baru, seperti Banten dan Gorontalo, yang membawa manfaat sekaligus tantangan. 

Di Madura, wacana ini bukanlah hal baru. Sejak tahun 2000-an, gagasan pemekaran telah mengemuka, namun sering terhenti karena kendala administratif, politik, dan potensi konflik antarwilayah. Mahfud menekankan pentingnya persiapan yang solid agar pemekaran tidak justru memicu perpecahan. “Jangan sampai keinginan ini malah membuat kita terpecah. Harus ada kerja sama yang kuat,” tegasnya.

Salah satu tantangan utama adalah kesiapan sumber daya manusia. Meskipun Madura memiliki populasi yang cukup besar—sekitar 4 juta jiwa berdasarkan data terbaru—kapasitas aparatur pemerintahan dan keahlian teknis masih perlu ditingkatkan. 

Selain itu, pengelolaan sumber daya alam, seperti garam dan potensi energi lepas pantai, harus diimbangi dengan kebijakan yang berkelanjutan agar tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga masyarakat luas.

Namun, di balik tantangan, ada harapan yang menyala. Pemekaran bisa membuka peluang untuk pembangunan infrastruktur yang lebih merata, seperti jalan, pelabuhan, dan fasilitas pendidikan. 

Jembatan Suramadu, yang telah menghubungkan Madura dengan Surabaya sejak 2009, menjadi simbol keterhubungan, namun juga pengingat bahwa Madura perlu lebih dari sekadar akses fisik. Otonomi penuh dapat memungkinkan alokasi anggaran yang lebih besar untuk sektor-sektor kunci seperti pendidikan, kesehatan, dan pariwisata.

 

Suara Rakyat: Antara Semangat dan Kekhawatiran

Di pasar-pasar tradisional Pamekasan hingga pesisir Sumenep, wacana pemekaran memicu percakapan hangat. Bagi sebagian masyarakat, seperti Hasan, seorang pedagang garam di Bangkalan, pemekaran adalah harapan untuk ekonomi yang lebih baik. “Kalau Madura jadi provinsi, mungkin pemerintah lebih perhatian sama kami. Harga garam sering anjlok, tapi bantuan susah datang,” keluhnya. 

Di sisi lain, ada kekhawatiran, seperti yang diungkapkan oleh Siti, seorang guru di Sampang. “Jangan sampai pemekaran cuma untungkan elit. Kami butuh jaminan pendidikan dan kesehatan dulu,” ujarnya.

Budaya Madura yang kental, dengan nilai-nilai kebersamaan dan keberanian, menjadi modal sosial yang kuat. Tradisi seperti “toron” (pulang kampung) dan silaturahmi antarwarga menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki ikatan yang erat, yang dapat menjadi fondasi untuk mendukung perubahan besar ini. Namun, seperti yang Mahfud tekankan, kolaborasi tanpa konflik adalah kunci.

 

Langkah ke Depan: Menuju Madura yang Mandiri

Wacana pemekaran Madura bukan sekadar soal peta administratif, tetapi tentang membangun identitas yang lebih kuat dan kesejahteraan yang lebih nyata. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Dalam Negeri, telah menetapkan syarat-syarat ketat untuk pemekaran wilayah, termasuk kelayakan ekonomi, sosial, dan politik. 

Madura, dengan kekayaan budayanya, potensi pariwisata seperti wisata religi di Sumenep, dan sumber daya alamnya, memiliki peluang besar untuk memenuhi syarat tersebut—jika persiapan dilakukan dengan cermat.

Langkah awal yang diusulkan adalah pembentukan tim khusus untuk menyusun kajian kelayakan pemekaran. Tim ini perlu melibatkan tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa aspirasi rakyat Madura terwakili. 

Selain itu, investasi dalam pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia harus menjadi prioritas, agar Madura tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional.

Di ujung senja di pesisir Madura, ketika perahu-perahu nelayan kembali ke daratan, impian tentang provinsi baru terus hidup. Pemekaran bukan sekadar tujuan, tetapi perjalanan panjang menuju Madura yang lebih berdaya, lebih sejahtera, dan tetap setia pada akar budayanya. 

Seperti kata pepatah Madura, “Bhuppa’ bhâbbu’ guru rato,”—bapak, ibu, guru, dan raja—semua harus bersatu untuk mewujudkan mimpi ini. Dan di tangan masyarakat Madura, mimpi itu bukan lagi sekadar angan, tetapi langkah nyata menuju masa depan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x