
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. KAMURA.id – Di ujung Jembatan Suramadu, di mana daratan Madura menyapa laut dan langit, sebuah harapan baru tengah dirajut. Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Madura—pulau garam yang kaya budaya dan sejarah—perlahan menapaki jalan menuju kesejahteraan.
Dari pasar-pasar ramai di Pamekasan hingga pesisir terpencil di Sumenep, kebijakan Pemprov Jawa Timur mencerminkan upaya membangun wilayah yang selama ini kerap dianggap tertinggal. Namun, di balik kemajuan, ada tantangan dan cerita rakyat yang menanti untuk didengar.
Menyemai Harapan melalui Pendidikan
Di tengah hiruk-pikuk Pondok Pesantren Al Anwar di Bangkalan, Gubernur Khofifah berdiri di hadapan para santri, tersenyum penuh semangat. “Pendidikan adalah jembatan menuju masa depan,” katanya, saat memuji program Sekolah Pengasuhan Pondok Pesantren dan Guru (SPPG) yang menitikberatkan pada gizi, fisik, dan karakter santri.
Di sini, kebijakan pendidikan Pemprov Jawa Timur terasa nyata: beasiswa untuk mahasantri Ma’had Aly dan madrasah aliyah (MA) di Madura menjadi bukti komitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program pendidikan gratis yang diterapkan di seluruh Jawa Timur juga menjangkau pulau ini, memberikan harapan bagi anak-anak petani garam dan nelayan untuk meraih mimpi lebih tinggi.
Namun, pendidikan di Madura bukan tanpa hambatan. Banyak sekolah di daerah terpencil masih kekurangan fasilitas, dan akses ke perguruan tinggi terbatas. Meski begitu, langkah Khofifah untuk memperluas beasiswa dan memperkuat pendidikan keagamaan dianggap sebagai fondasi penting. “Saya ingin anak-anak Madura punya kesempatan sama seperti di Surabaya,” ujarnya dalam sebuah acara di Sumenep, menegaskan visi inklusifnya.
Menjaga Denyut Hidup melalui Kesehatan
Di sebuah desa di Sumenep, ketika kasus campak mewabah sebagai kejadian luar biasa (KLB), respons cepat Pemprov menjadi sorotan. Tim kesehatan dikerahkan, dan Gubernur Khofifah memastikan intervensi langsung untuk mengendalikan penyebaran penyakit.
Pemuda Madura, seperti yang diwakili oleh komunitas lokal, memuji langkah ini sebagai wujud perhatian nyata. “Bu Khofifah tidak hanya berjanji, tapi bertindak,” kata Ahmad, seorang aktivis muda dari Bangkalan.
Merajut Ekonomi dari Garam dan Laut
Madura, dengan garam dan lautnya, adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Namun, harga garam yang fluktuatif dan minimnya industrialisasi sering kali membuat petani garam seperti Hasan di Bangkalan merasa terabaikan.
“Kami butuh pasar yang stabil dan bantuan teknologi,” keluhnya di sela-sela tumpukan garam di tepi sawah. Menjawab tantangan ini, Pemprov mengalokasikan bantuan keuangan signifikan, seperti Rp6,37 miliar untuk Pamekasan, untuk mendukung pengentasan kemiskinan dan pengembangan usaha mikro.
Khofifah juga mendorong misi dagang antarwilayah, termasuk kerja sama dengan Kalimantan Selatan, untuk memperluas pasar produk Madura. Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 menjadi panggung untuk mempromosikan potensi ekonomi syariah, yang selaras dengan nilai budaya Madura.
“Madura punya kekuatan ekonomi yang belum tergali penuh,” kata Khofifah dalam pembukaan FESyar, menyoroti peluang dari UMKM hingga pariwisata berbasis budaya.
Infrastruktur: Jembatan Fisik dan Harapan
Jembatan Suramadu bukan satu-satunya jembatan yang dibangun Khofifah untuk Madura. Peresmian Jaringan Transmisi Bawah Tanah (JTB) dan lapangan MDA bersama Wakil Presiden menandai langkah besar dalam konektivitas energi.
Sejak 2019 hingga 2022, pembangunan jaringan gas rumah tangga di Madura melampaui provinsi lain, memberikan akses energi yang lebih murah bagi rumah tangga. Program mudik gratis ke pulau-pulau terpencil seperti Masalembu di Sumenep juga memperkuat ikatan sosial, memastikan tidak ada warga Madura yang merasa terisolasi.
Namun, infrastruktur jalan dan pelabuhan di beberapa daerah masih membutuhkan perhatian lebih. Warga Sampang sering mengeluhkan akses jalan yang rusak, yang menghambat distribusi barang. Khofifah menegaskan bahwa pembangunan merata adalah prioritas, dengan rencana mempercepat proyek infrastruktur dalam 100 hari kerja pertama periode keduanya.
Budaya: Jantung Madura yang Terus Berdetak
Di tengah gemuruh karapan sapi dan keindahan batik Madura, Khofifah melihat budaya sebagai aset utama. Ia mengajak generasi muda untuk melestarikan tradisi, seperti tarian topeng dan kerajinan lokal, sambil mempromosikan Madura sebagai destinasi wisata unggulan.
“Madura bukan hanya tentang garam, tapi juga tentang cerita dan keindahan,” ujarnya dalam sebuah festival budaya di Pamekasan. Kebijakan ini selaras dengan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS) 2010-2025, yang menetapkan Pamekasan dan Sumenep sebagai Kawasan Prioritas Pariwisata Nasional.
Meski begitu, beberapa warga merasa promosi pariwisata belum sepenuhnya menyentuh akar rumput. “Kami butuh lebih banyak pelatihan untuk UMKM wisata,” kata Siti, seorang pengrajin batik di Sumenep. Khofifah merespons dengan komitmen untuk memperluas pelatihan dan akses pasar bagi pelaku usaha kecil.
Suara Rakyat dan Tantangan ke Depan
Di pasar-pasar dan warung kopi Madura, nama Khofifah sering disebut dengan nada optimis, namun juga disertai harapan yang besar. Pemuda Madura mengakui bahwa kebijakan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi telah membawa perubahan, tetapi tantangan seperti kemiskinan ekstrem dan ketimpangan infrastruktur masih nyata.
“Kami ingin Madura tidak hanya jadi cerita sukses di kertas, tapi benar-benar dirasakan rakyat,” ujar Ali, seorang nelayan dari Sampang.
Khofifah sendiri tidak menutup mata terhadap kritik. Dalam 100 hari kerja pertama periode keduanya, ia menegaskan bahwa Madura tetap menjadi prioritas, menepis anggapan bahwa pulau ini kurang diperhatikan. “Madura adalah bagian tak terpisahkan dari Jawa Timur. Kami bangun bersama, untuk semua,” tegasnya.
Menuju Madura yang Berdaya
Langkah Khofifah untuk Madura ibarat menjahit kain yang luas dengan benang-benang kecil: setiap kebijakan, dari beasiswa hingga jaringan gas, adalah jahitan menuju kesejahteraan. Di bawah sinar matahari yang membakar sawah garam, dan di tengah doa-doa santri di pesantren, Madura terus bergerak maju.
Tantangan masih ada, tetapi dengan kebijakan yang inklusif dan semangat gotong royong yang khas Madura, pulau ini bukan lagi sekadar bayang-bayang Jawa Timur, melainkan jantung yang berdetak dengan penuh harapan.
Seperti pepatah Madura, “orang baik, jika tidak mabuk opium dan tidak sombong, akan hidup.” Di tangan Khofifah, Madura sedang menulis cerita baru: cerita tentang kebangkitan, kebersamaan, dan masa depan yang lebih cerah.

Tidak ada komentar