x

Sekam, Jelantah, dan Kerja Ilmu

waktu baca 4 menit
Selasa, 13 Jan 2026 13:15 97 Kamura

KAMURA.id“Sering kali ibu-ibu bingung, minyak goreng bekas ini mau diapakan. Dari situ kami berinisiatif mengolahnya menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.”

Begitulah penjelasan Vadia, panitia kegiatan pemberdayaan masyarakat Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 05 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 2025/2026.

Pernyataan yang menjadi lead tulisan ini menarik untuk disorot, sebab menyimpan makna yang prinsipil: pengetahuan tidak selalu lahir dari teori yang rumit, melainkan dari kepekaan membaca persoalan sehari-hari.

Di Desa Ko’ol, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, kepekaan itulah yang menjadi jembatan antara dunia akademik dan realitas masyarakat desa.

Pertemuan Ilmu dan Masalah Sehari-hari

Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa KKN 05 UTM menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat pada Jumat (09/01/2026). Dari konteks itulah jawaban Vadia yang dikutip di awal tulisan ini lahir.

Dilansir dari Radar Madura, Vadia dengan timnya mengajak warga desa mengolah limbah rumah tangga dan pertanian menjadi produk bernilai ekonomi: briket dari sekam padi serta lilin aromaterapi dari minyak jelantah.

Desa Ko’ol merupakan wilayah agraris dengan hasil panen padi yang melimpah. Namun, limpahan sekam padi pasca panen kerap dipandang sebagai sisa tak berguna: dibakar atau dibiarkan menumpuk. Di sisi lain, minyak goreng bekas dari dapur rumah tangga sering kali dibuang sembarangan, berpotensi mencemari lingkungan.

Masalah-masalah semacam ini sering kali dianggap lumrah. Padahal, di baliknya tersimpan potensi ekonomi yang besar jika disentuh dengan pengetahuan yang tepat. Di sinilah peran akademisi menjadi relevan: tidak sekadar membawa teori, tetapi mengolahnya agar menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Menghidupkan Potensi Desa

Pada sesi pertama, mahasiswa KKN memperkenalkan teknik pengolahan sekam padi menjadi briket. Sekam yang sebelumnya hanya menjadi limbah dikarbonisasi, lalu dipadatkan menggunakan perekat alami dari tepung kanji. Proses ini menghasilkan briket yang tahan lama, memiliki kalori panas tinggi, dan minim asap.

“Kami melihat potensi besar di Desa Ko’ol. Dengan mengolah sekam padi menjadi briket, warga tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga bisa menciptakan bahan bakar alternatif yang memiliki nilai jual,” ujar Agung, penanggung jawab kegiatan.

Pelatihan ini tidak hanya bersifat demonstratif. Warga dilibatkan langsung dalam setiap tahapan proses, mulai dari pengolahan bahan hingga pencetakan briket. Pengetahuan teknis yang dibawa mahasiswa bertemu dengan pengalaman warga yang telah lama bergelut dengan hasil pertanian. Dari interaksi itu, ilmu tidak jatuh sebagai instruksi satu arah, melainkan tumbuh sebagai keterampilan bersama.

Sesi berikutnya tak kalah menarik perhatian, terutama bagi ibu-ibu PKK. Minyak jelantah yang selama ini dianggap menjijikkan dan tak berguna diolah menjadi lilin aromaterapi. Minyak yang telah dijernihkan dicampur bahan pengeras dan pewangi esensial, lalu dicetak menjadi lilin dengan tampilan estetik.

Pelatihan ini membuka perspektif baru bahwa kegiatan domestik yang sering dipandang remeh justru menyimpan potensi usaha. Dari dapur rumah tangga, lahir kemungkinan ekonomi kreatif yang ramah lingkungan dan dapat dikembangkan secara mandiri.

Relasi Akademisi dan Masyarakat yang Perlu Terus Didorong

Kegiatan KKN 05 UTM di Desa Ko’ol menunjukkan bahwa pengetahuan kampus akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti di ruang kelas. Tanpa relasi yang hidup dengan masyarakat, keahlian yang dipelajari kaum terdidik berisiko menguap, tinggal sebagai catatan akademik tanpa dampak nyata.

Sebaliknya, ketika akademisi mau turun, mendengar, dan bekerja bersama warga, ilmu berubah menjadi alat pemberdayaan. Proses ini juga menegaskan bahwa masyarakat bukan objek pengabdian, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan lokal dan pengalaman berharga.

Pemerintah Desa Ko’ol menyambut positif kegiatan ini karena sejalan dengan upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya unit usaha mikro berbasis desa.

Melalui pengabdian masyarakat KKN 05 UTM periode 2025/2026, mahasiswa berharap warga Desa Ko’ol dapat melanjutkan produksi briket dan lilin aromaterapi secara mandiri, baik untuk konsumsi sendiri maupun dikembangkan menjadi UMKM desa.

Kisah dari Desa Ko’ol ini menjadi pengingat bahwa esensi pendidikan tinggi tidak terletak pada seberapa tinggi menara ilmu dibangun, melainkan seberapa jauh ia mampu menjangkau dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x