
KAMURA.id—Ada satu buku yang hingga kini nyaris selalu hadir dalam daftar bacaan serius tentang Madura. Judulnya Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam, karya antropolog Belanda, Huub de Jonge.
Terbitan awal Gramedia (1989) ini memang tidak setenar novel atau karya sastra, tetapi ia menjadi fondasi akademik untuk memahami siapa orang Madura, bagaimana ekonominya bekerja, dan mengapa Islam begitu menancap dalam denyut sosial pulau garam ini.
De Jonge menulis dengan perspektif antropologi-historis. Ia bukan hanya mendeskripsikan, tetapi juga menjelaskan: mengapa Madura sering disebut miskin, keras, sekaligus religius? Apa yang sebenarnya menopang mobilitas orang Madura hingga ke pelosok Jawa dan Kalimantan? Mengapa petani tembakau tetap berada di posisi yang rapuh, sementara para pedagang perantara menikmati kendali atas harga dan pasar?
Empat Zaman: Kerangka Panjang Madura
Buku ini dibangun di atas kerangka sejarah panjang. De Jonge membagi Madura ke dalam empat zaman:
Dengan cara ini, De Jonge ingin menunjukkan bahwa Madura bukanlah pulau yang statis. Ia berubah, menyesuaikan diri, dan membangun koneksi, bahkan sejak era awal kolonialisme.
Salah satu bagian paling menarik adalah pembahasan tentang perantara tembakau di Sumenep. De Jonge menyoroti bagaimana para pedagang ini memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar membeli dan menjual. Mereka adalah penghubung yang mengendalikan:
Dalam bahasa hari ini, kita bisa menyebut mereka sebagai oligarki niaga dalam skala lokal. Mereka hidup di persimpangan: satu kaki di desa-desa Madura, satu kaki di kota-kota Jawa.
Buku ini sekaligus memperlihatkan bahwa ketidakadilan dalam rantai nilai tembakau bukanlah fenomena baru. Sejak akhir abad ke-19, posisi petani memang selalu timpang: mereka menanggung risiko cuaca, kualitas panen, dan beban produksi, tetapi tidak memiliki kendali atas pasar.
Islam: Jaringan Moral dan Modal Sosial
Kenapa agama muncul di judul buku ini? Karena menurut De Jonge, Islam adalah jantung jaringan sosial Madura.
De Jonge menulis, agama di Madura bukan sekadar ibadah ritual, melainkan “infrastruktur sosial” yang menopang ekonomi, politik, bahkan migrasi.
De Jonge juga menekankan pentingnya migrasi. Pulau kecil dengan lahan terbatas ini tidak bisa menghidupi semua penduduknya. Karena itu, orang Madura sejak lama berangkat merantau—ke Surabaya, Malang, Kalimantan, Jakarta bahkan ke luar negeri.
Yang menarik, migrasi ini bukan sekadar mencari penghidupan, tapi juga memperluas jaringan niaga. Pedagang perantara tembakau di Sumenep, misalnya, bisa mengirim rajangan ke Jawa karena sudah ada “kantong Madura” di daerah tujuan.
Dari De Jonge ke KEK Tembakau
Membaca ulang De Jonge hari ini memberi pelajaran berharga, terutama saat muncul gagasan menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau.
De Jonge seakan mengingatkan: masalah utama tembakau Madura bukan pada kualitasnya—justru kualitas rajangan Madura dikenal tinggi, kering, dan khas—tetapi pada struktur pasar yang timpang. Petani tidak punya posisi tawar.
Madura dalam Empat Zaman bukan sekadar buku sejarah ekonomi. Ia adalah cermin panjang: memperlihatkan bagaimana orang Madura menata hidup di tengah keterbatasan lahan, bagaimana perdagangan tembakau dan garam menjadi penopang, dan bagaimana Islam membentuk moral serta jaringan sosial.
Bagi kita di Madura hari ini, membaca ulang De Jonge adalah membaca ulang diri kita sendiri. Buku ini menantang kita: apakah Madura akan terus menjadi penyuplai rajangan murah bagi industri besar, atau mampu membangun kelembagaan ekonomi yang adil bagi petani?
Sampai pertanyaan itu dijawab, Madura dalam Empat Zaman akan tetap relevan—sebagai peringatan, sekaligus inspirasi.

Tidak ada komentar