x

Jejak Tembakau dalam Lahirnya Madura Modern

waktu baca 5 menit
Kamis, 23 Apr 2026 13:12 54 Kamura

KAMURA.id—Sulit memahami Madura tanpa memahami tembakau. Ia penentu ritme hidup. Mengisi musim, menggerakkan ekonomi, bahkan membentuk arah sejarah pulau ini.

Sebelum tembakau dikenal luas, sebagian besar lahan di Madura dibiarkan kosong saat musim barat (kemarau).

Tanah kapur yang keras dan minim air membuat pertanian tidak banyak memberi harapan. Dalam situasi seperti itu, pilihan paling rasional bagi banyak orang adalah pergi. Merantau ke Jawa atau wilayah lain menjadi jalan hidup yang jamak.

Madura, pada masa itu, lebih dikenal sebagai pengirim tenaga kerja daripada penggerak ekonomi.

Perubahan mulai terjadi ketika tembakau masuk pada awal abad ke-19. Catatan Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa tembakau didatangkan dari Puger, Jawa Timur.

Namun menurut Huub de Jonge, arus komoditas ini lebih luas: pada masa pemerintahan Inggris (1811–1817), hampir setiap kapal yang bersandar di pelabuhan Sumenep membawa tembakau, baik dari Jawa maupun dari Cina. Dari sinilah, perlahan, tembakau menemukan tempatnya di tanah Madura.

Awalnya, tembakau Madura belum menonjol. Ia kalah bersaing dengan tembakau dari Jawa. Tetapi waktu mengubah posisi itu. Pada dekade 1920-an, tembakau Madura bangkit dan mulai mengungguli banyak varietas lain.

Bersamaan dengan itu, muncul satu kelompok baru yang kelak menjadi aktor penting dalam transformasi Madura: para pedagang tembakau.

 

Dari Komoditas ke Kelas Sosial

Kehadiran pedagang tembakau mengubah lebih dari sekadar ekonomi. Ia melahirkan kelas sosial baru.

Para pedagang ini menjadi kelompok paling kaya di Madura pada masanya. Mereka tidak hanya mengumpulkan keuntungan dari jual beli tembakau, tetapi juga menginvestasikannya ke berbagai sektor lain. Dari perdagangan, properti, hingga perikanan—kapal-kapal penangkapan ikan skala besar mulai berlayar berkat modal mereka.

Ekonomi yang sebelumnya statis mulai bergerak. Aktivitas produksi meningkat. Perputaran uang meluas. Madura, yang sebelumnya bergantung pada migrasi, mulai memiliki denyut ekonomi di dalam dirinya sendiri.

Transformasi itu tidak berhenti pada ekonomi. Ia merambat ke ranah sosial dan keagamaan.

Dari kelas pedagang ini lahir generasi haji—orang-orang yang mampu menunaikan ibadah ke tanah suci. Mereka membawa pulang bukan hanya status sosial, tetapi juga gagasan dan jaringan baru.

Salah satu kisah penting datang dari Gema, seorang pedagang dari Prenduan Sumenep.

Sebelum berangkat haji, ia telah membangun masjid besar di kampungnya. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Kiai Syarqowi dari Kudus—seorang ulama muda dengan gagasan progresif tentang pentingnya kolaborasi antara ulama dan pedagang dalam memajukan umat.

Pertemuan itu menjadi titik balik.

Ketika Gema jatuh sakit, ia meminta Syarqowi menikahi istrinya, dan melanjutkan gagasan yang telah mereka bangun di Prenduan. Syarqowi menyanggupi.

Dalam waktu singkat, Syarqowi menjadi tokoh penting di Sumenep. Ia mampu mengalahkan pemuka agama setempat, baik dalam hal pengetahuan, maupun dalam kajunelan (hal gaib). Dari Prenduan, ia kemudian melanjutkan dakwah ke Guluk-Guluk.

Muridnya, Kiai Chotib, melanjutkan tradisi keilmuan dan pembaruan di Prenduan. Dari mata rantai inilah lahir pesantren-pesantren besar seperti Annuqayah di Guluk-Guluk dan Al Amin di Prenduan—institusi yang hingga kini menjadi pilar pendidikan Islam di Madura.

Kolaborasi pedagang-ulama yang terhubung antara Gema dan Syarqowi, terus terjalin hingga keturunannya. Para pedagang menyediakan logisktik, bahkan memberikan sebagian besar lahan untuk pesantren.

Kelas pedagang, dalam arti tertentu, telah membidani lahirnya peradaban pesantren di Madura.

 

Jaringan Dagang dan Modernitas

Kelas pedagang tembakau juga menjadi pintu masuk Madura ke jaringan yang lebih luas.

Mereka membawa masuk organisasi-organisasi keagamaan nasional seperti Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama. Dengan mobilitas tinggi dan jaringan luas, mereka menjadi penghubung antara Madura dan dunia luar.

Mereka juga membangun tradisi sosial yang bertahan hingga kini: kompolan. Sebuah ruang pertemuan rutin untuk mengaji, berdiskusi, dan mempererat hubungan sosial. Dari tradisi ini, lahir budaya dialog dan solidaritas yang mengikat masyarakat.

Yang menarik, para pedagang ini bukan kelompok yang konservatif dalam arti sempit. Mereka justru progresif. Banyak di antara mereka hidup dengan standar modern, bahkan mengikuti gaya hidup Eropa.

Huub de Jonge menggambarkan sosok Abdurrahman, seorang juragan tembakau pada 1930–1940-an di Prenduan. Ia berpakaian mengikuti mode Eropa, mengendarai mobil sport terbuka, dan memiliki jaringan luas hingga mampu bernegosiasi langsung dengan pedagang Belanda dan Cina. Ia bukan sekadar pedagang lokal, tetapi aktor ekonomi dengan jangkauan nasional.

Modernitas, dalam konteks ini, lahir dari desa-desa tembakau.

Peran mereka bahkan melampaui ekonomi dan sosial.

Pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan, para pedagang tembakau menjadi salah satu sumber pembiayaan penting. Mereka mendukung penyelundupan senjata dan membantu logistik perjuangan. Kelompok-kelompok seperti Hizbullah memperoleh dukungan dari mereka.

Kisah pedagang tembakau ini menunjukkan bahwa Madura pernah memiliki fondasi ekonomi yang kuat—berbasis komoditas lokal, ditopang oleh kelas pedagang yang progresif, dan terhubung dengan jaringan sosial-keagamaan yang luas.

Tembakau bukan hanya menggerakkan perdagangan, tetapi juga melahirkan kelas sosial, membiayai pendidikan, dan bahkan ikut menopang perjuangan kemerdekaan.

Ia menjadi bukti bahwa dari tanah yang keras sekalipun, Madura mampu melahirkan dinamika modernitasnya sendiri.

Pertanyaannya kini, apakah jejak sejarah itu masih bisa dihidupkan kembali? Ketika Madura kembali berbicara tentang tembakau hari ini—dengan segala tantangan dan perubahan struktur ekonomi—yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan sekadar komoditas, melainkan arah masa depan.

Apakah tembakau akan kembali menjadi sumber kebangkitan, seperti pada awal abad ke-20, atau justru tetap terjebak dalam sistem yang membuat nilai besarnya mengalir keluar dari pulau ini?

Sejarah telah memberi contoh bahwa jawabannya bukan pada tanahnya, tetapi pada siapa yang mengelola dan bagaimana sistem itu dibangun.

 

 

Subairi Muzakki

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x