x

Jejak Tembakau Madura: Identitas, Perlawanan, dan Ketidakadilan

waktu baca 3 menit
Senin, 29 Sep 2025 16:33 583 Kamura

KAMURA.id—Di banyak desa di Madura, tembakau lebih dari sekadar tanaman musiman. Ia tumbuh bersama kisah, doa, dan kerja keras yang diwariskan lintas generasi. Setiap musim tanam, para petani bangun sebelum fajar, menyentuh tanah kering, dan dengan sabar merawat daun-daun yang rapuh itu.

Tembakau Madura dikenal dunia karena keunikan aromanya. Sejak abad ke-19, ia telah menjadi komoditas yang membuat Madura menempati tempat penting dalam peta perkebunan nusantara. Tetapi bersama reputasi itu, lahir pula cerita panjang tentang ketidakadilan yang masih berlanjut hingga kini.

 

Jejak Awal: Dari Katandur ke Kolonial

Cerita rakyat menisbatkan awal mula tembakau kepada Pangeran Katandur, tokoh yang dipercaya sebagai pembawa benih pertama. Dari situlah, menanam tembakau bukan hanya praktik ekonomi, melainkan juga simbol religius dan kultural.

Kemudian kolonialisme datang membawa logika lain: produksi untuk pasar global. Tahun 1830, dengan sistem tanam paksa, Madura dipaksa memasok kebutuhan Eropa. Dan pada 1861, ketika tebu kehilangan pesonanya, tiga pengusaha Belanda menanam tembakau di Proppo, Pamekasan. Dari sana, gelombang tembakau meluas ke seluruh pulau, membentuk wajah ekonomi baru.

Perluasan areal tembakau terus berlangsung, bahkan pascakolonial. Kuntowijoyo dalam MADURA: Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 mencatat lonjakan areal dari 5.000-an hektar pada masa kolonial menjadi hampir 48.000 hektar beberapa dekade kemudian. Itu berarti tembakau benar-benar menjadi tulang punggung, menggantikan tanaman pangan di banyak wilayah.

Namun, luasnya ladang dan besarnya kontribusi tidak sebanding dengan kesejahteraan. Tahun 2024, Madura menyumbang 60 ribu ton tembakau, atau 32 persen dari produksi nasional. Dari situ, negara mengantongi Rp72 triliun dalam bentuk cukai. Tetapi Madura hanya menerima secuil dari dana bagi hasil.

Seperti dulu, negeri kaya, petani tetap miskin.

 

Perlawanan yang Berubah Bentuk

Sejarah Madura adalah sejarah mencari cara bertahan. Di masa kolonial, orang Madura tetap menanam meski tanah kering dan kebijakan menindas. Di masa kini, mereka mendirikan pabrik rokok rakyat agar tembakau tidak terbuang sia-sia.

Pabrik-pabrik kecil ini adalah bentuk perlawanan baru: di tengah regulasi cukai yang mencekik dan dominasi industri besar, masyarakat mencoba mandiri. Mereka ingin memastikan bahwa tembakau Madura tidak hanya menguntungkan orang lain, tapi juga memberi kehidupan yang layak bagi mereka sendiri.

Tembakau di Madura adalah identitas. Ia bagian dari budaya, harga diri, dan simbol keteguhan. Pepatah petani menyebut: “Apapun yang terjadi, orang Madura akan tetap menanam tembakau.”

Dan memang benar. Meski harga kerap tidak menentu, meski kebijakan sering tak berpihak, orang Madura tetap menanam. Sebab berhenti menanam sama saja dengan berhenti menjadi diri mereka sendiri.

 

Menatap Masa Depan: Antara Politik dan Harapan

Hari ini, jutaan petani dan ribuan tenaga kerja di Madura bergantung pada tembakau. Tetapi tanpa perubahan kebijakan, mereka akan terus berada dalam lingkaran kemiskinan struktural.

Oleh karena itu, muncul gagasan menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau. Sebuah konsep yang diyakini bisa memberi fasilitas cukai khusus, menstabilkan harga, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat industri rakyat.

Namun, semua itu tidak akan terjadi tanpa kemauan politik. Pertanyaan besar menggantung: apakah negara berani menghadirkan keadilan bagi Madura?

Sejarah tembakau Madura adalah sejarah panjang perjuangan: dari Katandur hingga kolonialisme, dari ladang desa hingga kas negara. Ia telah memberi banyak bagi negeri, tetapi sering hanya menyisakan luka bagi para petaninya.

Kini, tantangannya adalah memastikan sejarah itu tidak berhenti pada ironi. Bahwa tembakau Madura bukan hanya menyuburkan negeri, tetapi juga menyejahterakan mereka yang menanamnya.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x