x

Bagaimana Madura Menjadi Lumbung Sapi Kurban

waktu baca 7 menit
Kamis, 14 Mei 2026 10:49 34 Kamura

KAMURA.id—Setiap menjelang Idul Adha, Madura bergerak dengan irama yang khas. Pasar-pasar hewan lebih ramai dari biasanya. Para blantik mondar-mandir mencari sapi terbaik. Peternak menimbang harga, pedagang menghitung ongkos kirim, dan di pelabuhan-pelabuhan kecil, sapi-sapi Madura mulai dinaikkan ke kapal. Dari kandang rakyat di desa-desa, hewan-hewan itu bergerak menuju kota-kota besar Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Kalimantan, Bangka Belitung, hingga Riau.

Pada musim kurban tahun ini, Bangkalan menjadi salah satu titik paling ramai. Hingga pertengahan Mei 2026, Dinas Peternakan Bangkalan mencatat 4.660 ekor sapi dan 810 ekor kambing telah dikirim keluar Bangkalan untuk memenuhi kebutuhan kurban. Sebagian besar bergerak ke luar Jawa. Tujuan terbesarnya adalah Kalimantan Barat, sebanyak 2.346 ekor sapi dan 350 ekor kambing. Sapi-sapi itu kemudian disebar ke Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Tujuan besar berikutnya adalah Bangka Belitung dengan 1.574 ekor sapi. Sebagian lain bergerak ke Kalimantan Selatan, Riau, Jawa Barat, Banten, Tangerang, dan Surabaya. Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan, drh Ali Makki, menyebut pengiriman hewan kurban mulai berlangsung setelah Idul Fitri dan wajib melalui prosedur karantina serta kelengkapan dokumen kesehatan.

Menjelang Idul Adha, Dinas Peternakan Bangkalan juga memperketat pengawasan kesehatan hewan dan menambah jam layanan hingga malam karena meningkatnya kebutuhan dokumen kesehatan hewan.

Angka dari Bangkalan itu memperlihatkan satu hal: Madura bukan sekadar daerah peternakan lokal. Madura adalah salah satu simpul penting pasokan sapi kurban antardaerah.

Dalam skala Jawa Timur, posisi sapi Madura juga tidak kecil. Sejumlah kajian mencatat kontribusinya sekitar 21 persen hingga 24 persen dari populasi atau penawaran sapi potong Jawa Timur. Kajian kelembagaan konservasi sapi Madura menyebut Madura berkontribusi sekitar 21 persen terhadap populasi sapi potong Jawa Timur, sementara kajian lain menyebut sapi Madura mengisi sekitar 24 persen dari penawaran sapi potong di Jawa Timur.

Dengan posisi itu, tidak berlebihan jika Madura disebut sebagai salah satu lumbung sapi kurban penting di Indonesia.

Jawa Timur sendiri selama ini dikenal sebagai provinsi dengan basis sapi potong terbesar di Indonesia. Di dalam ekosistem besar itu, Madura menempati posisi khas: bukan hanya sebagai daerah pemelihara sapi, tetapi juga sebagai pulau dengan tradisi ternak rakyat, jaringan pedagang, reputasi kualitas daging, dan pasar perantauan yang kuat.

Kekuatan itu tidak lahir tiba-tiba. Dalam kehidupan masyarakat Madura, sapi bukan sekadar ternak. Ia adalah tabungan keluarga, simbol martabat, tenaga ekonomi, sekaligus bagian dari kebudayaan.

Sapi dipelihara dekat dengan rumah, dirawat dengan telaten, dan dalam banyak keluarga menjadi aset paling penting. Di luar fungsi ekonomi, sapi juga hadir dalam tradisi sosial Madura, dari karapan sapi, sapi sonok, hingga kebanggaan keluarga terhadap ternak yang sehat dan kuat.

Karena itu, ketika musim Idul Adha tiba, sapi Madura tidak hanya bergerak sebagai komoditas. Ia membawa identitas.

Bagi warga Madura di perantauan, terutama di Kalimantan, Sumatra, Jabodetabek, Surabaya, Malang, dan kota-kota besar lain, kehadiran sapi Madura sering menjadi pengikat emosional dengan kampung halaman. Dagingnya dirindukan, kualitasnya dipercaya, dan asal-usulnya memberi kebanggaan tersendiri.

Sapi Madura memang memiliki reputasi khusus. Karakter dagingnya dikenal berwarna merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak. Karkasnya—berat daging tanpa kepala, kaki, jeroan, dan kulit—dalam sejumlah rujukan populer dan teknis disebut mencapai sekitar 48 persen dari berat tubuh, sementara beberapa penyedia kurban menyebut kisaran lebih tinggi bergantung bobot, umur, kondisi sapi, dan metode pemotongan.

Keunggulan lain sapi Madura adalah daya tahannya. Ia adaptif terhadap lingkungan kering, tahan terhadap cuaca panas, dan relatif cocok dengan ekologi Madura. Dalam konteks pengiriman jarak jauh, karakter ini penting. Sapi yang tidak mudah stres dan tidak cepat susut berat badan akan lebih disukai pedagang, terutama untuk distribusi antarpulau. Inilah salah satu alasan sapi Madura tetap diminati penyedia jasa kurban dan pedagang dari luar daerah.

Dari sisi harga, sapi Madura juga dianggap ekonomis untuk kebutuhan kurban patungan. Di banyak pasar kurban, sapi Madura dengan ukuran sedang sering berada pada kisaran harga yang lebih terjangkau dibanding sapi besar jenis limosin atau simental.

Harga pasar bisa bergerak tergantung bobot dan kualitas, tetapi kisaran Rp17 juta hingga Rp25 juta kerap menjadi segmen penting bagi kelompok masyarakat yang membeli kurban secara patungan tujuh orang. Segmen inilah yang membuat sapi Madura memiliki pasar luas: cukup berkualitas, relatif terjangkau, dan sesuai kebutuhan kurban kelompok.

Kabupaten lain di Madura juga memperkuat gambaran ini. Pamekasan, misalnya, secara terbuka menempatkan diri sebagai lumbung sapi kurban sehat dan berkualitas. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Pamekasan meluncurkan program Ternak Kurban Sehat di Katandur Farm, dan Bupati Pamekasan menyatakan daerahnya siap menjadi lumbung sapi kurban sehat dan berkualitas. Pernyataan itu menunjukkan bahwa sapi kurban bukan lagi sekadar aktivitas musiman, melainkan mulai dibaca sebagai bagian dari strategi ekonomi daerah.

Di Sampang, pemerintah daerah memperketat prosedur lalu lintas ternak menjelang kurban. Setiap ternak yang akan dikirim wajib dilengkapi dokumen resmi, termasuk rekomendasi daerah tujuan dan surat kesehatan hewan.

Untuk pengiriman dalam wilayah Jawa Timur, pengurusan dokumen dapat dilakukan melalui Puskeswan, sementara pengiriman antarprovinsi harus diurus langsung di kantor dinas terkait. Langkah seperti ini penting karena lalu lintas ternak menjelang kurban selalu membawa dua risiko sekaligus: risiko penyakit hewan dan risiko turunnya kualitas akibat distribusi panjang.

Di Pamekasan, pengawasan dilakukan di pasar hewan, lapak pedagang musiman, rumah potong hewan, hingga masjid-masjid yang menerima dan menyalurkan hewan kurban. Pemerintah setempat juga menyediakan layanan penerbitan Surat Keterangan Kesehatan Hewan bagi pedagang yang akan mengirim hewan ke luar daerah.

Sementara Sumenep menghadapi tantangan berbeda karena memiliki wilayah kepulauan. Pengawasan ternak di Sumenep tidak hanya menyasar pasar daratan, tetapi juga wilayah kepulauan yang secara logistik lebih kompleks.

Dari empat kabupaten itu terlihat bahwa Madura memiliki ekosistem peternakan yang tersebar. Bangkalan kuat sebagai pintu pengiriman laut dan salah satu sentra pergerakan sapi keluar pulau. Sampang memperkuat tata kelola lalu lintas ternak. Pamekasan mulai membangun citra sebagai lumbung sapi kurban sehat. Sumenep menghadapi kompleksitas pengawasan daratan dan kepulauan. Masing-masing memiliki peran dalam menjadikan Madura sebagai lumbung sapi kurban.

Namun, pertanyaan berikutnya adalah: apakah posisi sebagai lumbung sapi kurban sudah memberi manfaat maksimal bagi Madura?

Selama ini, ekonomi sapi Madura masih banyak bertumpu pada penjualan hewan hidup. Peternak memelihara, pedagang mengumpulkan, lalu sapi dikirim ke luar daerah. Model ini memang menghasilkan perputaran uang, tetapi nilai tambahnya masih terbatas. Jika Madura ingin naik kelas, peternakan sapi tidak cukup berhenti pada pengiriman musiman menjelang Idul Adha.

Yang dibutuhkan adalah penguatan rantai nilai: pembibitan, penggemukan, pakan, layanan kesehatan hewan, pasar ternak modern, rumah potong hewan bersertifikat halal, pengolahan daging, industri kulit, pupuk organik, hingga rantai dingin atau cold chain. Dengan cara itu, sapi Madura tidak hanya keluar sebagai hewan hidup, tetapi juga menjadi basis industri peternakan rakyat yang lebih kuat.

Musim kurban tahun ini memberi cermin yang jelas. Dari Bangkalan, ribuan sapi bergerak ke Kalimantan Barat dan Bangka Belitung. Dari Pamekasan, pemerintah daerah membangun narasi lumbung sapi sehat. Dari Sampang, lalu lintas ternak diperketat. Dari Sumenep, pengawasan harus menjangkau daratan dan kepulauan. Semua ini menunjukkan bahwa ekonomi sapi Madura sedang bekerja dalam skala yang lebih luas daripada yang sering terlihat.

Madura menjadi lumbung sapi kurban bukan karena satu kebijakan besar, melainkan karena akumulasi panjang dari budaya ternak rakyat, jaringan perdagangan, reputasi kualitas daging, kedekatan emosional perantau, dan kemampuan pedagang membaca pasar. Sapi-sapi itu lahir dari kandang kecil, tetapi bergerak dalam jaringan besar. Ia dirawat oleh keluarga peternak, dikumpulkan oleh pedagang, diseberangkan lewat pelabuhan, lalu menjadi bagian dari ibadah kurban di berbagai daerah.

Di situlah kekuatan Madura: dari tanah kering yang sering dianggap terbatas, lahir ekonomi ternak yang menyeberangi laut. Dari kandang rakyat, sapi Madura bergerak menjadi penghubung antara kampung halaman dan tanah rantau. Dan setiap menjelang Idul Adha, Pulau Garam kembali menunjukkan perannya: bukan hanya sebagai penghasil tembakau dan garam, tetapi juga sebagai lumbung sapi kurban yang menjaga denyut ekonomi rakyat lintas pulau. (SM)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x