x

Brigade Pangan: Regenerasi Petani dan Urgensi Pembenahan Sistem

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Okt 2025 19:15 144 Kamura

KAMURA.id — Di Madura, kabar tentang Brigade Pangan terdengar seperti kabar baik yang datang dari jauh. Ada semangat baru, katanya, untuk menghidupkan lagi dunia pertanian yang mulai ditinggalkan anak muda. Program Kementerian Pertanian itu menyasar kalangan muda, berumur 15 sampai 39 tahun, yang akan diajak mengelola lahan secara modern dan profesional. Tujuannya jelas dan tampak logis: memperkuat ketahanan pangan, menaikkan indeks pertanian, dan mendorong swasembada.

Sekilas, ini terdengar seperti angin segar. Di Sampang, ada sembilan kecamatan yang siap menjadi laboratorium masa depan pertanian. Para petani muda ini akan dibimbing, diorganisasi, bahkan dipimpin oleh manajer yang wajib lulusan S1.

Modern! Profesional! Begitu katanya. Tapi di Madura, seperti juga di banyak tempat lain, orang sudah cukup lama belajar bahwa niat baik tidak selalu berakhir baik, terutama kalau yang diperbaiki cuma ujungnya, bukan akarnya.

Kita memang butuh regenerasi. Tidak ada yang menyangkal itu. Banyak sawah sekarang lebih sering ditumbuhi rumah atau ruko ketimbang padi. Anak-anak petani, setelah sekolah, memilih pekerjaan lain. Mereka tak ingin mengulang nasib bapaknya: bangun pagi, kerja seharian, tapi tetap kesulitan membayar biaya sekolah adik.

Maka program Brigade Pangan ini, dengan segala idealismenya, penting. Tapi regenerasi tanpa perbaikan sistem hanya akan membuat generasi baru terjerumus ke lubang yang sama: bekerja keras dalam sistem yang tak berpihak.

Harga tembakau atau jagung atau jenis tanaman lain, masih bisa jatuh sewaktu-waktu, pupuk kadang langka, tengkulak tetap punya posisi tawar paling tinggi, dan birokrasi pertanian sering berputar-putar di meja pejabat. Apa artinya menyiapkan anak muda jadi petani modern kalau pasar tetap dibiarkan seperti itu? Apa gunanya lulusan S1 mengelola lahan 100 hektare kalau hasil panennya dijual di pasar yang tidak pernah adil?

Reformasi Pasar

Regenerasi pertanian seharusnya berjalan bersama reformasi pasar. Petani muda yang berpendidikan perlu didukung oleh sistem yang membuat kerja keras mereka punya nilai. Kalau tidak, regenerasi ini hanya akan menambah daftar panjang mereka yang kecewa lalu pindah profesi.

Meski begitu, kita tidak bisa memandang gelap semua upaya ini. Setidaknya, Brigade Pangan, sebagaimana diungkapkan oleh Pembimbing Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang, Arofah Herani Astutik hari ini (16/10/2025), punya niat baik yang sudah lama dinanti: mengajak kaum muda dan kaum terdidik kembali menoleh ke sawah. Syarat manajer harus S1 bukan hal kecil. Itu tanda bahwa pemerintah mulai sadar: petani bukan sekadar tenaga kerja, tapi profesi yang memerlukan ilmu dan kepemimpinan.

Petani perlu tahu teknologi, pasar, manajemen, bahkan strategi komunikasi. Dalam hal ini, Brigade Pangan bisa jadi awal kecil untuk memulihkan martabat petani yang selama ini dianggap “tidak perlu sekolah tinggi.”

Tapi ilmu, semangat, dan teknologi tidak akan cukup tanpa keadilan. Petani muda yang idealis pun bisa patah kalau setiap musim tanam mereka harus berhadapan dengan harga pupuk yang melonjak, cuaca yang tak menentu, dan pasar yang masih dikuasai tengkulak. Program pemerintah harus memastikan bahwa mereka tidak hanya belajar cara menanam, tapi juga cara bertahan.

Kita tentu ingin melihat masa depan di mana menjadi petani tidak identik dengan kesengsaraan. Di mana orang yang turun ke sawah tidak lagi dianggap kalah oleh yang duduk di kantor. Jika Brigade Pangan bisa membuka jalan ke sana, maka ia patut didukung. Tapi dukungan itu harus datang bersama desakan: benahi pasarnya, lindungi petaninya, dan beri jaminan bahwa generasi baru tidak sedang diwarisi penderitaan lama dengan nama baru.

Jangan sampai regenerasi ini hanya berganti baju, tapi nasibnya tetap sama.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x