
KAMURA.id — Di tengah ketimpangan pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang telah lama dirasakan masyarakat Madura, sekelompok anak muda memilih untuk tidak hanya mengeluh. Mereka bergerak. Melalui wadah bernama Komunitas Muda Madura (KAMURA), sekelompok cendekia muda ini menapaki jalan panjang menuju keadilan ekonomi lewat jalur ilmiah: riset dan penyusunan naskah akademik tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau.
Langkah awal mereka dimulai di Kabupaten Pamekasan. Di sana, tim KAMURA memulai survei lapangan, berkunjung ke para pemangku kebijakan, hingga menjalin silaturahmi dengan Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman. Pertemuan tersebut diliputi kesamaan orientasi yakni semangat bersama untuk memperjuangkan nasib para petani tembakau Madura.
Selain dengan bupati, tim KAMURA juga bertemu dengan dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD): Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Dari pertemuan tersebut, pemerintah daerah menyatakan dukungan sekaligus memberikan masukan berharga bagi tim perumus naskah akademik KEK Tembakau.
Ketua Penyusunan Naskah Akademik (KEK) Tembakau Madura, Subairi Muzakki mengatakan, survei ini berangkat dari kegelisahan mendalam atas ketimpangan distribusi dana cukai. Data yang mereka himpun menunjukkan bahwa pada tahun 2024, kontribusi cukai dari Madura mencapai Rp72 triliun dari total nasional Rp226 triliun. Namun, yang kembali ke Madura dalam bentuk DBHCHT hanya sekitar Rp198 miliar. Kurang dari satu persen!
Ini bukan sekadar angka, tapi potret ketidakadilan ekonomi yang nyata. Sementara di sisi lain, ribuan petani tembakau di Madura yang notabene merupakan bagian penting dari rantai industri rokok nasional, justru hanya mendapat jatah bekerja keras, tapi tidak merasakan hasil yang sepadan.
Keresahan itu menjadi bahan bakar bagi para pemuda Madura, banyak di antaranya berdomisili di Jakarta, untuk turun tangan. Mereka tak hanya ingin menyuarakan aspirasi, tetapi juga menyediakan dasar akademik yang kuat agar perjuangan ini berdiri di atas pijakan ilmiah, bukan sekadar emosi.
Respon Positif
Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman pun menyambut positif langkah KAMURA. “Semoga hasil survei ini bisa menjadi naskah akademik yang kuat dan diterima oleh Presiden serta kementerian terkait,” ujarnya penuh harap.
Naskah akademik yang sedang disusun itu nantinya akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, DPR RI, dan Gubernur Jawa Timur. Harapannya, dokumen tersebut bisa menjadi dasar terbentuknya Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau di Madura: sebuah gagasan besar untuk memastikan bahwa nilai tambah industri tembakau juga dirasakan oleh masyarakat di daerah penghasilnya.
Lebih dari sekadar dokumen akademik, inisiatif ini mencerminkan semangat baru generasi muda Madura: memadukan pengetahuan, advokasi, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran. Mereka tidak menuntut semata, melainkan menawarkan solusi.
Bagi masyarakat Madura, perjuangan ini adalah wujud nyata dari doa dan harapan lama: agar kekayaan yang dihasilkan dari tanah mereka benar-benar kembali kepada mereka.
Dengan langkah ilmiah dan hati yang berpihak pada keadilan, KAMURA sedang menulis bab baru dalam sejarah perjuangan ekonomi Madura: bab yang dimulai bukan dari keluhan, tapi dari keberanian untuk bertindak.

Tidak ada komentar