x

Bahasa Daerah yang Pelan-Pelan Kita Tinggalkan

waktu baca 4 menit
Selasa, 27 Jan 2026 15:37 143 Kamura

KAMURA.id – Rendahnya minat kita, masyarakat Madura, terhadap kajian Bahasa Madura menunjukkan fakta yang, terus terang saja, mengundang miris. Bukan semata karena bahasanya terancam ditinggalkan, tetapi karena yang meninggalkannya justru penuturnya sendiri. Kita.

Riset Yudho Bawono dan Wasis Purwo Wibowo berjudul Preserving Madurese Language, Is It Important? (2023) memberi gambaran nyata di depan hidung kita.

Dalam riset tersebut disebut bahwa data BPS menunjukkan penutur bahasa Madura terus mengalami penurunan. Pada 1980, jumlah penutur bahasa Madura tercatat 6.913.977 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlahnya turun menjadi 6.792.447. Artinya, setiap tahun sekitar 12.153 penutur bahasa Madura “hilang”. Bukan karena wafat, melainkan karena berpindah bahasa, berpindah rasa percaya diri, berpindah identitas.

Alasan penurunan ini pun bukan misteri. Masih merujuk riset tersebut, bahasa Madura tak jarang dianggap bahasa kelas ekonomi bawah, bahasa kampung, bahasa orang yang tidak “well educated”.

Di Madura sendiri, di pulau-pulau kecil sekitarnya, bahkan di tanah rantau, anak-anak lebih sering diajak berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Madura pelan-pelan disisihkan dari ruang domestik, dari meja makan, dari obrolan sehari-hari. Ia hidup, tapi dengan cara yang malu-malu.

Padahal, akan menjadi ironi besar jika bahasa Madura punah. Bahasa ini memiliki potensi luar biasa sebagai Bahasa Sumber Serapan (BSS) bagi Bahasa Indonesia. Dalam banyak hal, kosa kata Madura justru lebih kaya, lebih presisi, dan lebih ekspresif. Dari sini muncul pertanyaan mendasar: di tengah pengabaian yang kian sistematis, masihkah penting melestarikan bahasa Madura?

Bahasa sebagai Cara Kita Meng-ada

Pertanyaan itu, sejatinya, tidak sulit dijawab. Melestarikan bahasa itu penting, bukan karena karena tidak mau tumbuh atau menolak bahasa lain, tetapi karena bahasa bukan sekadar alat komunikasi.

Bahasa adalah cara kita meng-ada. Ia menyimpan cara berpikir, cara merasa, dan cara memandang dunia. Dialek, intonasi, struktur gramatikal, semuanya adalah ekspresi eksistensi manusia Madura. Saat kita berhenti bertutur dalam bahasa sendiri, yang hilang bukan hanya bunyi kata, tetapi juga cara khas kita menamai pengalaman hidup.

Bahasa Madura menyimpan cara menegur yang tegas tapi berlapis, cara marah yang tak selalu meledak, cara hormat yang tidak tunduk secara membabi buta. Semua itu tidak selalu bisa diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia. Maka ketika bahasa ini ditinggalkan, kita sesungguhnya sedang memangkas sebagian cara kita memahami diri sendiri.

Sayangnya, kesadaran ini tidak diikuti oleh minat yang serius. Kajian Bahasa Madura masih menjadi wilayah sunyi. Lebih sunyi lagi jika kita berharap pada peran pemerintah.

Hingga hari ini, rujukan penting dan komprehensif tentang tata bahasa Madura masih bertumpu pada buku A Grammar of Madurese karya William D. Davies (2010). Sebuah karya penting, mendalam, dan sangat membantu. Tapi sekaligus menampar. Bayangkan: riset paling serius tentang bahasa kita justru dilakukan oleh orang non-Madura.

Ini bukan soal nasionalisme sempit, tetapi soal kegagalan kolektif. Di mana peran kita? Di mana lembaga kebahasaan? Di mana kebijakan budaya yang konsisten? Bahasa daerah sering dielu-elukan dalam pidato, tetapi nyaris tak pernah diperlakukan sebagai proyek intelektual jangka panjang.

Padahal, dalam buku Davies, diurai dengan gamblang betapa kompleksnya struktur gramatikal bahasa Madura. Kompleksitas yang menuntut kecermatan tinggi, logika berlapis, dan kepekaan makna. Andai kajian linguistik ini diseriusi, stigma terhadap Madura seharusnya runtuh dengan sendirinya.

Bahasa yang Membantah Stigma

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Stigma terus direproduksi. Di X dan Instagram, kita dengan mudah menemukan lelucon murahan seperti:

“Blok-M (maksudnya Madura) emang norak, ya.”

“Suramadu itu ibarat portal dari dunia penuh kemajuan ke dunia yang masih jahiliyah.”

“Ah, Madura kan emang keras dan kudet.”

Beberapa kalimat tersebut mungkin ditulis dalam konteks joking. Tetapi di wilayah laten, justru terdapat pengulangan prasangka.

Padahal, mustahil lahir bahasa yang kompleks dan indah dari masyarakat yang hanya mengenal kekerasan. Bahasa Madura dengan sistem tingkat tutur, nuansa makna, dan struktur sintaksisnya justru membuktikan adanya peradaban yang matang.

Masalahnya, kita jarang menggunakan bahasa ini untuk membela dirinya sendiri. Kita lebih sibuk menyangkal stigma lewat kemarahan, lewat massa, lewat kekuatan, bukan lewat pengetahuan. Padahal, bahasa adalah bukti paling sunyi sekaligus paling kuat dari kecanggihan suatu masyarakat.

Ketika Kita Ikut Membiarkan

Ironinya, pengabaian ini bukan hanya datang dari luar. Kita sendiri ikut membiarkannya. Minat untuk mendalami bahasa Madura rendah. Dorongan dari lembaga pendidikan nyaris tidak ada. Kajian linguistik dianggap terlalu rumit, terlalu tidak praktis, terlalu tidak marketable.

Jika situasi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin dalam beberapa generasi ke depan, bahasa Madura hanya tersisa sebagai simbol. Eksis di kelompok kecil belaka, ditampilkan saat festival, tetapi tak lagi hidup dalam percakapan sehari-hari.

Kita mungkin masih bangga menyebut diri orang Madura, tetapi tak lagi mampu menuturkan pikirannya dalam bahasa sendiri.

Dan ketika bahasa telah pergi, biasanya minat pada hal-hal lain pun ikut menyusut. Sejarah terasa jauh, budaya terasa asing, dan Madura tinggal nama geografis tanpa kedalaman makna.

Sekian. (LITBANG KAMURA)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x