x

Dirjen Dikti Dorong Kampus Berdampak, UTM Diharapkan Jadi Lokomotif Transformasi Madura

waktu baca 3 menit
Sabtu, 21 Feb 2026 12:02 60 Kamura

KAMURA.id – Perguruan tinggi didorong tidak lagi terjebak dalam “menara gading”, melainkan hadir sebagai kekuatan yang menjawab persoalan nyata masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, saat memberikan arahan strategis di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Jumat (20/2).

Dikutip melalui laman resmi Kemdiktisaintek, dalam kegiatan bertema “Transformasi Ekosistem Akademik Menuju Kampus Adaptif, Unggul, dan Berdampak”, Khairul menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu membaca perubahan zaman dan berkontribusi langsung terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.

“Perguruan tinggi hari ini tidak hanya tempat menimba ilmu (academic excellence), tetapi juga pusat transformasi sosial (societal relevance). Kampus harus mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi solusi konkret atas persoalan nyata masyarakat,” ujar Khairul.

Menurutnya, Indonesia tengah memasuki fase penting menuju Indonesia Emas 2045, di mana kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci daya saing bangsa. Dalam konteks tersebut, kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan unggul, tetapi juga menjadi simpul strategis pembangunan nasional.

Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, Kemdiktisaintek mengarahkan transformasi pendidikan tinggi menuju model Universitas 4.0, yaitu kampus yang responsif terhadap perkembangan digital, berorientasi pada inovasi inklusif, serta berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Paradigma “Kampus Berdampak” menempatkan mahasiswa sebagai subjek pembelajaran aktif melalui pendekatan challenge-based learning, proyek lintas disiplin, serta kolaborasi multipihak berbasis quadruple helix yang melibatkan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Riset dan inovasi juga diarahkan agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Rektor UTM, Safi’, menegaskan komitmen kampusnya untuk mengimplementasikan paradigma tersebut. Menurutnya, UTM akan terus mendorong hilirisasi riset, penguatan UMKM, serta pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal Madura.

“Kami bertekad menghadirkan kampus yang hidup bersama masyarakat Madura, mendengar persoalan mereka, lalu menghadirkan solusi berbasis riset dan inovasi. Inilah makna Kampus Berdampak bagi kami, ilmu yang bekerja, riset yang membumi, dan lulusan yang membawa perubahan,” kata Safi’.

Sebagai satu-satunya perguruan tinggi negeri di Pulau Madura, UTM dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi lokomotif transformasi kawasan. Melalui pendekatan riset terapan berbasis “Kemaduraan”, kampus ini diharapkan mampu mengangkat potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing nasional maupun global.

Dalam arahannya, Khairul juga menyoroti berbagai tantangan global yang dihadapi pendidikan tinggi, mulai dari disrupsi kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, hingga krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi berbasis sains dan teknologi.

Pendekatan pembelajaran berbasis tantangan disebut sebagai strategi penting untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui model ini, mahasiswa didorong menyelesaikan persoalan riil di masyarakat, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Sejalan dengan itu, riset di perguruan tinggi juga didorong untuk bergerak ke tahap hilirisasi, sehingga menghasilkan inovasi yang aplikatif dan bernilai tambah bagi masyarakat.

Gagasan kampus yang terhubung dengan realitas sosial ini sejalan dengan pemikiran Ali Syari’ati dalam bukunya Tugas Cendekiawan Muslim (1995). Syari’ati menegaskan bahwa kaum intelektual tidak boleh terlepas dari denyut kehidupan masyarakat. Keasyikan dalam dunia akademik, menurutnya, berpotensi melahirkan sikap elitis jika tidak diimbangi dengan keterlibatan sosial.

Pemikiran tersebut menegaskan bahwa peran cendekiawan tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga mengarahkan ilmu untuk membebaskan dan memberdayakan masyarakat.

Menutup arahannya, Khairul menekankan bahwa transformasi kampus berdampak harus mampu menggerakkan pembangunan daerah dan nasional secara berkelanjutan.

“UTM harus menjadi lokomotif transformasi pendidikan tinggi berdampak di Madura dan Indonesia, serta menjadi ruang kolaborasi untuk ekosistem akademik yang unggul, tangguh, dan mandiri,” pungkasnya. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x