
Foto: Prof. Dr. Sutikno (kanan), Rektor UTM Prof. Safi (tengah), Prof. Dr. Kukuh Winarso (kiri) KAMURA.id – Angin dari arah barat Madura siang itu, Senin (17/11), bertiup perlahan, membawa aroma asin laut yang samar-samar masuk ke Aula Syaikhona Kholil Universitas Trunojoyo Madura. Bangku-bangku peserta Seminar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Potensi Industri Hasil Tembakau yang diselenggarakan Komunitas Muda Madura (KAMURA) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UTM terisi penuh, baris demi baris, seperti gelombang yang bergerak mendekat ke panggung.
Di depan mereka, layar besar menampilkan bentang industri dunia—Shenzhen, Dubai, Incheon—kawasan-kawasan yang dahulu bukan apa-apa, lalu tumbuh melampaui batas imajinasi bangsanya sendiri.
Di kursi pembicara, Prof. Dr. Sutikno, S.E., M.E., memulai presentasinya dengan ketenangan seorang guru besar yang telah terlalu lama menyimpan kegelisahan: mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia tak pernah benar-benar merata? Mengapa Madura terus berada di ruang tunggu sejarah?
Ia menatap peserta yang terdiri dari wartawan, petani, pejabat daerah, dan para mahasiswa itu satu per satu, seolah ingin memastikan bahwa pertanyaannya tidak berlalu begitu saja. “Kita ini punya potensi. Tapi potensi tidak pernah cukup jika tidak ada kebijakan yang membuka pintu,” katanya. Kalimat sederhana, tetapi berat oleh pengalaman panjang sebagai ekonom, peneliti, dan akademisi yang menyaksikan stagnasi Madura dari jarak dekat.
Di layar, grafik PDRB Jawa Timur muncul. Garis yang menggambarkan Surabaya, Sidoarjo, Gresik—menanjak. Garis Madura—rata, seperti detak jantung yang berjalan pelan. Tidak menurun, tetapi tidak pernah benar-benar naik. “Inilah kenyataan kita,” ucap Prof. Sutikno. “Daerah tumbuh atau mati bukan karena kemampuannya, tetapi karena struktur yang menentukan arah pertumbuhan.”
Mahasiswa-mahasiswa itu terdiam. Ada yang menunduk, ada yang menatap layar seolah baru melihat kenyataan yang selama ini hanya mereka dengar sebagai keluhan para orang tua di rumah: sulitnya pekerjaan, sempitnya peluang, tak adanya industri.
Dalam suasana seperti itulah Prof. Sutikno membawa hadirin memasuki sebuah perjalanan intelektual—perjalanan memahami mengapa dunia menciptakan Kawasan Ekonomi Khusus, dan mengapa Madura mungkin berada di ambang sejarah baru.
***
Narasi itu dimulai jauh dari Madura, dari kota-kota yang pernah terbakar oleh kemiskinan tetapi bangkit menjadi pusat pertumbuhan dunia. Shenzhen yang pada 1980 hanyalah desa nelayan, kini memiliki PDB lebih besar dari Jakarta. Dubai yang gersang, menjelma menjadi pintu gerbang ekonomi Timur Tengah. Incheon di Korea, Shannon di Irlandia, Jebel Ali di UEA—semuanya memiliki satu kesamaan: keberanian negara untuk menciptakan wilayah yang dipermudah, bukan dihambat.
“KEK itu bukan soal pajak saja. KEK itu soal keberanian negara mencabut aturan yang memperlambat,” ujar Prof. Sutikno sambil menunjuk slide yang menampilkan daftar reformasi perizinan di negara-negara itu. Ia menjelaskan bagaimana KEK menjadi ruang eksperimentasi kebijakan, tempat negara mencoba model baru sebelum menerapkannya di wilayah lain.
Namun cerita-cerita sukses itu tidak disajikan sebagai dongeng. Prof. Sutikno juga menampilkan KEK yang gagal—di India, Filipina, Nigeria—kawasan yang mati pelan-pelan karena dibangun tanpa infrastruktur memadai, tanpa manajemen profesional, atau karena perizinan tetap berliku. “Kegagalan itu penting,” katanya, “karena ia memberi tahu kita bahwa KEK tidak boleh hanya menjadi label.”
Tatapan para mahasiswa berubah. Mereka kini tidak hanya melihat KEK sebagai proyek, tetapi sebagai pilihan sejarah yang bisa menentukan masa depan Madura.
Saat slide beralih ke peta Madura, ruangan itu seakan mengerutkan napas. “Madura punya sesuatu yang tidak dimiliki daerah lain,” ujar Prof. Sutikno. “Identitas komoditas.” Dan yang ia maksud tentu saja tembakau—daun yang telah hidup lebih lama dari republik itu sendiri, daun yang bertahan di tanah kapur, daun yang memberi makan ratusan ribu keluarga.
Ia menggambarkan dengan jernih ekosistem tembakau Madura: gudang yang berjejer, matahari yang mengeringkan daun-daun, petani yang mempertahankan tradisi, dan industri rokok rakyat yang muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan pasar. “Di sini, ekonomi tidak menunggu kebijakan. Ekonomi berjalan karena kebutuhan,” katanya.
Namun ia juga menyoroti kerentanannya: tidak adanya standardisasi mutu, tidak adanya fasilitas curing modern, minimnya teknologi pascapanen, lemahnya branding, dan aturan cukai yang terlalu berat bagi pabrik kecil. Potensi itu ada, tetapi dibiarkan menjadi potensi belaka.
Momen itu seperti menyalakan sesuatu di ruang seminar. Tiba-tiba Prof Sutikno bertanya: “Kalau begitu, apakah KEK bisa menjadi jalan keluar?”
Prof. Sutikno tersenyum. “Itu yang ingin saya tunjukkan hari ini.”
***
Ia lalu menampilkan rancangan besar: KEK Tembakau Madura—sebuah kawasan yang bukan sekadar tempat industri rokok, tetapi sebuah ekosistem terpadu yang mengikat riset, budidaya, teknologi, produksi, hingga pariwisata. Ia membayangkan laboratorium varietas unggul di hulu, fasilitas standardisasi mutu di tengah, dan pabrik-pabrik modern UMKM di hilir. Ia membayangkan museum tembakau, wisata kebun tembakau, hingga industri kreatif yang memanfaatkan warisan budaya tembakau Madura.
“Apa yang sekarang terpisah-pisah, harus disatukan dalam satu kawasan,” katanya. “Jika tidak, nilai tambah akan terus hilang.”
Dalam presentasinya, ia tidak bicara dengan nada membara seperti aktivis. Ia berbicara dengan ketenangan seorang ilmuwan yang telah lama mengkaji data dan menemukan simpul jalan keluar. Tetapi justru ketenangan itu yang membuat hadirin merasa bahwa KEK bukan utopia—ia adalah kemungkinan yang nyata.
“Jika negara memberikan sedikit keberpihakan,” lanjutnya, “Madura bisa menjadi sentra agroindustri tembakau yang pertama di Indonesia. Bahkan di dunia.”
Pada bagian akhir presentasi, ruangan tiba-tiba menjadi lebih hening, seakan semua orang tahu bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang tidak sekadar akademik.
“Kita tidak ingin menjadi penonton dalam pembangunan Jawa Timur,” katanya. “Kita ingin menjadi pelaku. Madura punya hak itu.”
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi menggetarkan. Bukan karena retorika, tetapi karena ia lahir dari tempat yang jujur: dari keprihatinan, dari pengamatan panjang, dan dari cinta pada tanah kelahirannya. Mahasiswa-mahasiswa itu, yang selama ini tumbuh dalam realitas stagnasi Madura, seperti menemukan bahwa ekonomi bukan sekadar grafik—tetapi alat untuk memperjuangkan martabat.
Ketika seminar berakhir dan tepuk tangan memenuhi ruangan, terasa bahwa presentasi Prof. Sutikno bukan sekadar pemaparan akademik. Ia adalah undangan untuk membayangkan masa depan Madura dengan cara yang lebih berani.
Masa depan di mana Madura tidak lagi menjadi kaki dari pertumbuhan di tempat lain, tetapi berdiri tegak sebagai pusat pertumbuhan yang dibangunnya sendiri. (SM)

Tidak ada komentar