x

Ketika Idul Adha Menggerakkan Ekonomi Rakyat Madura

waktu baca 5 menit
Selasa, 26 Mei 2026 15:28 17 Kamura

KAMURA.id—Setiap menjelang Idul Adha, Madura seperti memasuki musim ekonomi tersendiri. Pasar hewan ramai, blantik bergerak dari desa ke desa, pikap dan truk mengangkut sapi, sementara pelabuhan menjadi titik keberangkatan sapi menuju berbagai daerah. Di Pulau Garam, kurban bukan hanya ibadah penyembelihan. Ia juga menjadi denyut ekonomi rakyat yang menghidupkan banyak mata pencaharian kecil.

Dari satu ekor sapi, banyak tangan ikut bergerak. Ada peternak yang merawatnya berbulan-bulan, pedagang yang mencarinya, sopir yang mengangkutnya, petugas yang memeriksa kesehatannya, pekerja pelabuhan yang menaikkannya ke kapal, hingga panitia kurban yang mengelolanya di hari raya. Maka, Idul Adha di Madura bukan sekadar peristiwa keagamaan. Ia adalah rantai ekonomi yang menghubungkan kandang desa dengan pasar lintas pulau.

Posisi Madura dalam ekonomi sapi Jawa Timur memang tidak kecil. Data BPS Jawa Timur tahun 2024 mencatat populasi sapi potong di empat kabupaten Madura mencapai sekitar 741.547 ekor. Sumenep menjadi yang terbesar dengan 275.893 ekor, disusul Pamekasan 180.077 ekor, Sampang 147.156 ekor, dan Bangkalan 138.421 ekor. Jika dibandingkan dengan total populasi sapi potong Jawa Timur sebesar 3.671.400 ekor, Madura menyumbang sekitar 20 persen.

Angka itu menjelaskan mengapa setiap musim kurban, sapi Madura tidak hanya berputar di pasar lokal. Ia bergerak jauh ke luar pulau. Dari Bangkalan saja, hingga pertengahan Mei 2026, tercatat 4.660 ekor sapi dan 810 ekor kambing telah dikirim keluar daerah untuk kebutuhan Idul Adha. Tujuan terbesarnya adalah Kalimantan Barat, sebanyak 2.346 ekor sapi dan 350 ekor kambing, lalu Bangka Belitung sebanyak 1.574 ekor sapi. Sebagian lain bergerak ke Surabaya, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Banten, Tangerang, hingga Riau.

Dari pelabuhan di kawasan Tanjung Bumi dan jalur pengiriman laut lainnya, sapi-sapi itu menyeberang membawa lebih dari sekadar nilai jual. Ia membawa reputasi. Sapi Madura dikenal tangguh, cocok untuk perjalanan jauh, dan memiliki kualitas daging yang disukai. Bagi warga Madura di rantau, sapi dari kampung halaman juga punya makna emosional. Ia bukan sekadar hewan kurban, tetapi pengikat ingatan dengan tanah asal.

Di pasar lokal, gairah itu terasa dari kenaikan harga. Di Pasar Tanah Merah, Bangkalan, harga sapi Madura naik rata-rata sekitar Rp2 juta per ekor dibanding hari biasa. Sapi kecil layak kurban berada di kisaran Rp15 juta–Rp17 juta, sapi sedang Rp18 juta–Rp20 juta, sapi besar Rp21 juta–Rp25 juta, dan sapi jumbo bisa menembus Rp26 juta ke atas.

Di Pamekasan, suasana serupa terlihat di Pasar Keppo. Aktivitas jual beli meningkat sejak awal Mei. Harga sapi ukuran sedang berada di kisaran Rp22 juta–Rp28 juta, sementara sapi besar, terutama jenis unggulan seperti simmental dan limosin, bisa mencapai Rp30 juta–Rp35 juta. Bagi pembeli, kenaikan ini tentu menjadi beban. Namun bagi peternak, Idul Adha adalah momentum ketika kerja panjang merawat sapi mendapat peluang harga terbaik.

Dalam kehidupan masyarakat Madura, sapi memang bukan sekadar komoditas. Ia adalah tabungan keluarga, simbol kerja keras, dan bagian dari kebudayaan. Banyak keluarga memelihara sapi dekat dengan rumah, memberi pakan dengan telaten, dan menjadikannya aset hidup. Ketika musim kurban tiba, aset itu berubah menjadi sumber pendapatan penting.

Namun, ekonomi kurban tidak berhenti di peternak. Pedagang pakan mendapat tambahan permintaan. Sopir pikap memperoleh muatan. Pasar hewan lebih hidup. Pengurus dokumen kesehatan hewan bekerja lebih padat. Petugas dinas peternakan dan karantina memperketat pengawasan. Pelabuhan menjadi simpul pertemuan pedagang, pekerja angkut, dan kapal ternak. Semua bergerak dalam satu musim yang singkat, tetapi bernilai besar bagi ekonomi rakyat.

Dalam konteks Jawa Timur, posisi Madura makin penting karena provinsi ini berada dalam kondisi surplus hewan kurban. Ketersediaan sapi, kambing, domba, dan kerbau di Jawa Timur melampaui kebutuhan kurban daerahnya sendiri. Artinya, Jawa Timur bukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga mampu menopang kebutuhan provinsi lain. Di dalam ekosistem itu, Madura menjadi salah satu basis ternak rakyat yang punya reputasi kuat.

Meski begitu, ada pertanyaan penting: seberapa besar nilai tambah ekonomi kurban ini kembali kepada rakyat Madura?

Selama ini, ekonomi sapi Madura masih banyak bertumpu pada penjualan hewan hidup. Peternak memelihara, pedagang mengumpulkan, lalu sapi dikirim ke daerah lain. Model ini memang menggerakkan uang, tetapi nilai tambahnya masih terbatas. Madura memperoleh manfaat dari penjualan ternak, tetapi belum sepenuhnya mengembangkan rantai ekonomi yang lebih panjang: penggemukan modern, pakan ternak, pasar hewan terintegrasi, rumah potong halal, cold storage, olahan daging, kulit, pupuk organik, hingga produk turunan lain.

Padahal, jika rantai nilai itu dibangun, Idul Adha tidak hanya menjadi musim ekonomi tahunan. Ia bisa menjadi pintu masuk penguatan peternakan rakyat Madura. Pulau ini tidak hanya menjadi pemasok sapi kurban, tetapi juga pusat ekosistem sapi lokal: dari pembibitan, penggemukan, layanan kesehatan hewan, distribusi antarpulau, sampai pengolahan pascapanen.

Selama ini Madura lebih sering dibicarakan melalui tembakau, garam, dan perikanan. Padahal, data populasi sapi dan pergerakan ribuan ternak menjelang Idul Adha menunjukkan bahwa peternakan juga merupakan kekuatan strategis. Ia dekat dengan rumah tangga rakyat, menggerakkan pasar desa, menyerap tenaga kerja informal, dan membangun jaringan perdagangan lintas pulau.

Idul Adha memperlihatkan semua itu dengan jelas. Dari kandang kecil di desa, sapi Madura bergerak ke pasar, naik ke truk, menyeberang lewat pelabuhan, lalu sampai ke berbagai daerah sebagai bagian dari ibadah kurban. Di sana ada nilai spiritual, tetapi juga ada penghidupan. Ada pengorbanan, tetapi juga ada ekonomi rakyat yang bergerak.

Tantangannya, gerak ekonomi ini tidak boleh berhenti sebagai siklus musiman. Madura perlu menjadikan momentum kurban sebagai dasar penguatan peternakan rakyat yang lebih modern, sehat, dan bernilai tambah. Dengan begitu, setiap Idul Adha tidak hanya menggerakkan sapi keluar Madura, tetapi juga menggerakkan kesejahteraan lebih besar bagi peternak, pedagang kecil, pekerja pasar, dan rakyat Madura sendiri. (SM)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x