x

Kesenian Madura di Antara Ingatan dan Pengabaian

waktu baca 4 menit
Jumat, 16 Jan 2026 14:03 252 Kamura

KAMURA.id – Kesenian adalah tempat bersemayamnya identitas dan sejarah. Ia lahir dan tumbuh di tengah komunitas, merekam cara suatu masyarakat memahami dirinya, lingkungannya, serta harapan-harapannya. Dari proses itulah kesenian tumbuh bersama kelompok pendukungnya, diwariskan lintas generasi, hingga menjangkau kita hari ini.

Dalam masyarakat Madura, kesenian bukan sekadar hiburan atau ekspresi estetika, melainkan ruang pembentukan manusia Madura itu sendiri. Di sanalah nilai, etika, dan pandangan hidup dirawat secara kolektif.

Namun, seiring waktu, banyak kesenian tersebut mengalami peminggiran, baik karena perubahan sosial yang cepat maupun karena minimnya perhatian kebijakan negara. Keris Madura menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana sebuah kesenian yang sarat makna justru berjalan dalam sunyi.

Keris Madura: Pintu Masuk Membaca Kebudayaan

Artikel jurnal “An ethnolinguistic study of the historical-philosophical value of the cultural art of Madura Kris” karya Hani’ah, Bahtiar Mohamad, dan Wahid Khoirul Ikhwan yang terbit dua tahun lalu (2024) menunjukkan bahwa keris Madura bukan hanya pusaka atau senjata tradisional. Ia adalah ekspresi kebudayaan yang mengandung nilai filosofis mendalam dan merepresentasikan identitas etnis masyarakat Madura.

Melalui pendekatan etnolinguistik, penelitian tersebut mengungkap bahwa keris menyimpan nilai ketuhanan, nilai sosial seperti kebersamaan, serta nilai kepribadian berupa etos kerja dan cinta. Nilai-nilai itu hadir secara implisit melalui bentuk, pamor, serta bahasa dan istilah yang menyertainya. Dengan demikian, keris berfungsi sebagai simbol budaya sekaligus medium pewarisan nilai lintas generasi.

Namun, keris sejatinya hanyalah satu pintu masuk untuk memahami betapa kayanya kebudayaan Madura. Di luar keris, Madura menyimpan beragam kesenian lain yang tak kalah penting dalam membentuk struktur identitas masyarakatnya.

Ragam Kesenian Madura yang Kian Menjauh dari Generasi Muda

Madura memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam: kejhung sebagai tradisi vokal khas yang sarat pesan moral, mamaca sebagai seni tutur dan sastra lisan, ludruk atau ketoprak Madura sebagai ruang kritik sosial dan refleksi kehidupan rakyat, saronen sebagai musik pengiring ritus sosial, ojhung sebagai simbol keberanian dan solidaritas, serta masih banyak kesenian lain yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Madura masa lalu.

Sayangnya, sebagian besar kesenian tersebut kini semakin asing, terutama bagi generasi muda: Gen Z dan Generasi Alpha. Bukan karena kesenian itu kehilangan relevansi, melainkan karena ia kehilangan ruang. Kesenian jarang hadir dalam kurikulum pendidikan, minim difasilitasi dalam ruang publik, dan sering kali hanya muncul sebagai pelengkap acara seremonial tanpa penjelasan makna.

Akibatnya, generasi hari ini mungkin mengenal nama-nama kesenian tersebut secara sepintas, tetapi sukar memahami konteks, nilai, dan filosofi yang dikandungnya. Di titik inilah ancaman paling serius muncul: lahirnya generasi yang tercerabut dari akar sejarah dan identitas kebudayaannya sendiri.

Kebijakan yang Absen, Minat Masyarakat yang Memudar

Minimnya perhatian kebijakan pemerintah terhadap sektor kesenian tradisional memperparah situasi ini. Hal tersebut terpotret dari riset yang dilakukan oleh Rahman dkk., (2023) berjudul Strategi Pelestarian Budaya Ojhung Madura Di Era Global. Dalam temuan riset tersebut, nampak bahwa kesenian kerap diposisikan sebagai sektor pinggiran: tidak prioritas, tidak produktif, dan tidak strategis. Jika pun disentuh, pendekatannya sering bersifat ekonomistik semata: dijadikan atraksi wisata tanpa upaya serius memahami dan merawat nilai di baliknya.

Ketika negara absen dalam memberikan perlindungan, fasilitasi, dan arah kebijakan yang jelas, masyarakat pun kehilangan pegangan. Pelaku seni berjalan sendiri, regenerasi tersendat, dan publik semakin menjauh. Dalam konteks ini, merosotnya minat masyarakat bukanlah fenomena alamiah, melainkan hasil dari pembiaran struktural.

Padahal, kebijakan kebudayaan seharusnya tidak hanya berbicara soal pelestarian bentuk, tetapi juga keberlanjutan makna dan pengetahuan. Tanpa itu, kesenian akan berubah menjadi artefak beku, yakni sekadar dipajang, tetapi tidak lagi dipahami.

Kesenian sebagai Ruang Pembentukan Identitas

Kesenian tradisional Madura, baik keris, kejhung, mamaca, saronen, maupun yang lain, adalah ruang di mana manusia Madura belajar memahami dunia. Di sanalah nilai ketuhanan dirawat, relasi sosial dibentuk, keberanian dan etos kerja dimaknai, serta cinta terhadap komunitas dipupuk.

Mengabaikan kesenian berarti mengabaikan proses panjang pembentukan manusia Madura itu sendiri. Identitas tidak lahir dari slogan atau simbol administratif, melainkan dari praktik budaya yang hidup dan diwariskan. Ketika praktik itu terputus, identitas pun menjadi rapuh.

Upaya menjaga kesenian Madura bukanlah romantisme masa lalu, melainkan investasi kebudayaan untuk masa depan. Tanpa langkah serius (baik melalui kebijakan pendidikan, dukungan riset, ruang ekspresi publik, maupun pemberdayaan komunitas seni) kita berisiko melahirkan generasi yang mengenal Madura hanya sebagai nama geografis, bukan sebagai ruang identitas.

Kesenian adalah akar. Dan masyarakat tanpa akar, betapapun modernnya, akan selalu rapuh. Di sanalah urgensi untuk kembali menempatkan kesenian sebagai jantung kebudayaan, tempat sejarah, identitas, dan masa depan Madura saling bertaut. (LITBANG Kamura)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x