
KAMURA.id—Tidak ada komoditas lain di Indonesia yang menyimpan paradoks sedalam rokok kretek. Ia lahir dari racikan tembakau dan cengkih di Kudus pada akhir abad ke-19, tumbuh bersama geliat nasionalisme, dan menjelma menjadi simbol budaya yang diklaim “asli Indonesia”. Namun di balik aroma hangatnya, kretek juga adalah mesin epidemi.
Di sinilah letak kekuatan buku Kretek Capitalism karya Marina Welker. Ia tidak berhenti pada perdebatan kesehatan versus budaya, melainkan menelusuri bagaimana kretek menjadi jantung sebuah sistem kapitalisme—yang merangkul, mengeksploitasi, sekaligus merusak tubuh sosial Indonesia.
Dari Sawah hingga Lini Produksi
Welker membawa pembaca menelusuri rantai panjang kretek: dari kebun tembakau dan cengkih, ke ruang produksi di pabrik, hingga ke warung kecil di kampung-kampung.
Welker menunjukkan bahwa tenaga kerja bukan sekadar “alat produksi”, melainkan medan politik: tubuh buruh, kelas sosial, dan relasi gender semua ditata ulang demi berjalannya kapitalisme kretek.
Kapitalisme yang Membungkus Diri sebagai Nasionalisme
Salah satu bab paling provokatif adalah tentang branding kretek. Perusahaan seperti Sampoerna (yang kini dikuasai Philip Morris International) tidak hanya menjual rokok, tetapi juga menjual gaya hidup. Musik, seni jalanan, festival kampus, hingga influencer media sosial dijadikan medium pemasaran.
Lebih jauh lagi, industri membangun narasi bahwa menghisap kretek adalah tindakan patriotik. Organisasi seperti Komunitas Kretek bahkan melabeli produk ini sebagai “warisan budaya Indonesia” dan melawan regulasi kesehatan global sebagai bentuk “neokolonialisme”.
Di sinilah tampak ironi yang disorot Welker: klaim keaslian budaya justru diorkestrasi oleh kapitalisme global. Ketika Philip Morris, BAT, dan Japan Tobacco masuk ke pasar Indonesia, mereka dengan lihai menyesuaikan diri: memproduksi rokok bercengkih, membiayai kegiatan budaya, dan membungkusnya dalam jargon nasionalisme. Kretek, yang katanya simbol lokal, ternyata juga wajah kapitalisme transnasional.
Tubuh Sosial yang Dikapitalisasi
Buku ini juga reflektif tentang bagaimana konsumsi kretek membentuk masyarakat. Rokok menjadi simbol kedewasaan, kejantanan, bahkan solidaritas sosial. Lelaki yang tidak merokok sering dianggap kurang “maskulin”. Di warung kopi, sebatang kretek bisa menjadi tiket untuk masuk dalam pergaulan.
Namun, “solidaritas” itu menyembunyikan beban. Keluarga miskin sering mengalokasikan hampir seperempat pendapatan mingguan untuk rokok, mengorbankan gizi anak dan biaya pendidikan. Data Kemenkes bahkan menunjukkan hubungan langsung antara kebiasaan merokok ayah dengan stunting anak. Dengan kata lain, kretek adalah komoditas yang mengikat tubuh individu dan tubuh bangsa sekaligus.
Welker tidak jatuh pada sikap moralistik. Ia memahami bahwa bagi jutaan orang, kretek adalah sumber hidup—dari petani cengkih di Maluku, buruh linting di Jawa, hingga pedagang asongan di terminal. Namun ia juga menolak romantisasi yang menjadikan kretek sebagai ikon nasional tanpa mengakui luka yang ditinggalkannya.
Yang ia tawarkan adalah kerangka refleksi:
Relevansi untuk Kita
Bagi pembaca Indonesia, terutama aktivis, akademisi, atau anak muda yang resah melihat nasib daerah penghasil tembakau, buku ini membuka ruang perenungan: bagaimana sebaiknya kita memahami warisan kretek? Apakah sebagai kebanggaan, atau sebagai tanda keterjeratan kita dalam kapitalisme global yang mematikan?
Marina Welker menulis dengan bahasa etnografis yang kaya detail, tapi juga reflektif. Ia tidak sekadar mengutuk, melainkan mengajak berpikir ulang tentang apa yang kita sebut sebagai “warisan budaya” ketika warisan itu dikapitalisasi habis-habisan.
Kretek Capitalism adalah buku yang penting, mengganggu, sekaligus membuka mata. Ia mengajarkan kita bahwa kapitalisme tidak pernah hadir dalam bentuk telanjang: ia selalu membungkus diri dalam aroma cengkih, dalam slogan nasionalisme, dalam narasi budaya.
Membaca buku ini membuat kita bertanya: apakah kita benar-benar merayakan identitas, ataukah kita sedang merayakan cengkeraman kapitalisme atas tubuh dan jiwa bangsa?

Tidak ada komentar