x

Pertanian, Industri, dan Tantangan Menekan Kemiskinan di Sampang

waktu baca 4 menit
Jumat, 23 Jan 2026 14:37 154 Kamura

KAMURA.id – Persoalan kemiskinan di Kabupaten Sampang masih mencerminkan problem struktural yang belum sepenuhnya tersentuh kebijakan pembangunan.

Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sampang menunjukkan, pada 2025 angka kemiskinan berada di level 20,61 persen atau setara sekitar 213 ribu jiwa. Meski kemiskinan ekstrem berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen, kemiskinan makro masih turun sangat lambat.

Penurunan yang hanya sekitar 0,22 persen dari tahun sebelumnya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ada belum cukup inklusif dan belum mampu mengangkat kelompok rentan keluar dari garis kemiskinan secara berkelanjutan.

Pertanian sebagai Basis Ekonomi yang Rentan

Tenaga Statistisi Ahli Pertama BPS Sampang, Elsiana Restu Ihsani menyebutkan bahwas ektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Sampang sekaligus wajah paling nyata dari persoalan kemiskinan.

Sekitar 30 persen PDRB daerah ini disumbang oleh pertanian, dan sebagian besar penduduk bekerja di sektor tersebut.

Namun, dominasi pertanian justru memperlihatkan paradoks: banyaknya tenaga kerja yang terserap tidak diiringi dengan pendapatan yang memadai. Tidak sedikit pekerja pertanian berstatus sebagai pekerja keluarga tanpa upah atau petani kecil dengan skala usaha terbatas.

“Sektor pertanian menyerap banyak tenaga kerja, tapi pendapatannya relatif rendah. Banyak juga yang bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa upah,” tutur Elsiana, Jumat (23/1/2026).

Masalah utama terletak pada rendahnya produktivitas dan minimnya nilai tambah. Pola tanam tradisional, keterbatasan akses teknologi, serta lemahnya pengelolaan pascapanen membuat hasil pertanian dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.

Dalam kondisi ini, petani berada pada posisi yang rentan, terutama ketika terjadi gejolak harga atau gagal panen. Optimalisasi pertanian harus diarahkan pada perbaikan struktur ini: modernisasi alat produksi, peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian, hingga penguatan kelembagaan petani agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar.

Lebih jauh, pertanian tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas produksi pangan, melainkan sebagai bagian dari sistem ekonomi yang lebih luas. Tanpa keterhubungan dengan industri dan pasar, sektor ini akan terus menjadi kantong kemiskinan meski menyerap banyak tenaga kerja.

Industrialisasi sebagai Kelanjutan Logis dari Pertanian

Ketika pertanian mencapai batas kemampuannya dalam menyediakan pendapatan layak, industrialisasi menjadi langkah lanjutan yang tidak terhindarkan. Industrialisasi berbasis pertanian membuka ruang bagi terciptanya nilai tambah dari komoditas lokal.

Hasil panen tidak lagi berhenti di tingkat petani, tetapi diolah menjadi produk setengah jadi atau jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Pendirian pabrik pengolahan hasil pertanian, termasuk tembakau, jagung, dan komoditas lainnya, akan menciptakan lapangan kerja baru di sektor non-pertanian.

Lapangan kerja ini umumnya lebih stabil dan berupah lebih baik, sehingga mampu menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian yang selama ini berpendapatan rendah. Dalam jangka panjang, pergeseran tenaga kerja ini penting untuk mempercepat penurunan kemiskinan.

Namun industrialisasi tidak akan berjalan tanpa kehadiran investor. Diperlukan kebijakan yang mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif, mulai dari kepastian regulasi, ketersediaan lahan, hingga infrastruktur pendukung. Tanpa langkah ini, Sampang berisiko terus berada dalam posisi sebagai daerah pemasok bahan mentah tanpa mampu menikmati keuntungan ekonomi yang lebih besar.

Peluang Transformasi Ekonomi melalui Gagasan KEK Tembakau

Satu solusi yang mencuat adalah KEK Tembakau Madura. KEK ini berpotensi menjadi titik temu antara optimalisasi pertanian dan industrialisasi.

Tembakau, yang selama ini menjadi salah satu komoditas utama Madura, dapat dikembangkan melalui rantai industri yang lebih panjang dan terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.

Jika KEK Tembakau Madura terealisasi, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor industri. Pertanian akan mendapatkan kepastian pasar dan harga, sementara sektor pendukung seperti logistik, perdagangan, dan jasa turut berkembang. Masuknya investor ke dalam kawasan ini juga membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.

Lebih dari itu, KEK dapat menjadi instrumen kebijakan untuk mempercepat transformasi struktural ekonomi Sampang. Dari daerah yang bergantung pada pertanian berpendapatan rendah, Sampang berpeluang bertransformasi menjadi wilayah dengan basis ekonomi pertanian-industri yang lebih kokoh.

Transformasi inilah yang dibutuhkan agar penurunan kemiskinan tidak lagi berjalan tipis dan lambat, tetapi bergerak lebih signifikan dan berkelanjutan. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x