
Foto: Hamka, S.TP., M.Sc., M.P. – Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda saat memberikan paparannya pada Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggaran oleh Komunitas Muda Madura (KAMURA) bekerjasama dengan Politeknik Negeri Madura (Poltera) dengan tema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna dalam Budidaya dan Pengolahan Tembakau, Sabtu, (29/11). KAMURA.id – Suara riuh kecil mereda ketika nama Hamka disebut. Dari barisan depan, Direktur Politani Samarinda itu melangkah ke panggung dengan langkah yang tenang namun mantap. Di balik kemeja batik yang sederhana, semua orang dapat merasakan kehadiran seorang akademisi yang memikul kegelisahan panjang dunia pertanian—dan bersamaan dengan itu, sebuah keyakinan bahwa tembakau, tanaman yang selama ini banyak disalahpahami, ternyata menyimpan masa depan yang cerah bagi Madura.
Pagi itu, Hamka diundang khusus untuk memberikan perspektif baru dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggaran oleh Komunitas Muda Madura (KAMURA) bekerjasama dengan Politeknik Negeri Madura (Poltera) dengan tema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna dalam Budidaya dan Pengolahan Tembakau, Sabtu, (29/11).
Di layar besar di samping kirinya, tampak foto daun tembakau yang menghampar hijau sejauh mata memandang. Namun Hamka tidak memulai dengan keindahan. Ia memulai dengan sebuah kesadaran.
“Pada kesempatan yang berbahagia ini,” ujarnya, “izinkan saya menyampaikan pemaparan mengenai bagaimana diversifikasi tembakau menuju kemandirian petani. Yang kita lihat adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tembakau melalui produk turunan tembakau non-rokok.”
Kata-katanya langsung mengubah cara orang melihat hamparan daun itu. Selama puluhan tahun, petani hanya mengenal satu masa depan bagi tembakau: rokok. Daun dipetik, dijemur, dijual, dan selesai. Tetapi Hamka datang dengan sebuah keterangan baru—bahwa tembakau dapat dilihat bukan hanya sebagai daun, tetapi sebagai sistem nilai yang selama ini belum disentuh.
“Kita ingin petani mampu mandiri,” lanjutnya, “dengan cara mendiversifikasi tanaman tembakau supaya bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi mereka.”
***
Sebagai akademisi yang sudah puluhan tahun bergelut dengan inovasi pertanian, Hamka tahu betul bahwa tembakau adalah komoditas bernilai tinggi. Tetapi selama ini belum banyak digali karena terjebak pada satu produk saja.
Maka ia membawa ruangan itu ke perjalanan panjang sejarah tembakau Indonesia. Dari zaman kolonial hingga hari ini, tembakau telah menjadi salah satu penopang ekonomi negeri. Kontribusinya mencapai Rp213 triliun untuk negara, sebuah angka yang tidak pernah kecil dalam laporan fiskal apa pun. Produksinya pun tak main-main: 238 ribu ton, menurut BPS 2023.
“Ternyata enam juta masyarakat Indonesia tergantung pada industri tembakau,” katanya, menatap para peserta. “Itu artinya, setiap kebijakan, setiap perubahan regulasi, akan langsung menyentuh kehidupan jutaan orang.”
Namun narasi ketergantungan itu bukan tanpa ancaman. Hamka kemudian menampilkan data ekspor, produksi domestik, dan cukai. Industri ini masih besar, tetapi tekanan terhadapnya juga besar. Dari target penerimaan cukai Rp230,9 triliun, baru tercapai 37 persen di kuartal pertama.
“Industri rokok memang luar biasa,” ujarnya, “tetapi kita juga harus jujur bahwa industri ini menghadapi tantangan berat.”
Lalu ia mengajukan sebuah pertanyaan yang menggantung di udara: Mengapa tembakau harus didiversifikasi?
Jawabannya membuat banyak peserta terdiam.
“Petani selama ini hanya melihat daun,” katanya pelan. “Padahal batang tembakau, bunga, tangkai, akar—semuanya punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi nilai tambah.”
Tembakau, menurutnya, adalah tanaman serbaguna. Ia menyebutnya siroes, harta tersembunyi yang selama ini kita abaikan. Jika potensi itu diolah, petani bisa mendapatkan pendapatan baru meski industri rokok melemah. Apalagi ketika isu kesehatan dan kampanye anti-tembakau mendominasi percakapan global.
“Bayangkan jika suatu hari kampanye global ini benar-benar melarang tanaman tembakau,” katanya tegas. “Apa yang terjadi? Mati semua mata pencarian petani. Karena itu kita harus menyelamatkan petani kita dari sekarang.”
Kalimat itu mengubah dinamika ruangan. Diversifikasi tidak lagi terdengar seperti jargon akademik, melainkan sebagai strategi bertahan hidup.
Dari sana, Hamka membawa para peserta memahami dunia tembakau yang lebih luas. Ia berbicara tentang bagaimana diversifikasi bukan semata membuat produk baru, tetapi mengubah cara pikir petani: dari penjual bahan baku menjadi pengolah sumber nilai.
“Manfaat tanaman tembakau bukan cuma daun,” katanya. “Pucuk, tangkai, bunga, bahkan debu tembakau pun memiliki nilai ekonomi tinggi.”
Hamka kemudian memaparkan satu per satu harta karun dalam tanaman tembakau.
Bunga tembakau dapat menghasilkan minyak atsiri berkualitas tinggi. Dengan rendemen hanya 0,01–0,05%, dari 100 kg bunga hanya dihasilkan 10–50 ml minyak. Tetapi harganya mencapai Rp800.000–1.500.000 per 100 ml. “Tidak ada bibit parfum yang murah,” ujarnya sambil tersenyum, membuat peserta tertawa kecil.
Biji tembakau, yang selama ini dibiarkan jatuh ke tanah, mengandung 30–45% minyak, menjadikannya bahan ideal untuk biodiesel, cat alami, hingga pakan ternak setelah diolah.
Akar tembakau memiliki kandungan nikotin paling tinggi. Dari akar inilah pestisida nabati terbaik diproduksi. “Ini pestisida alami yang paling kuat,” katanya. “Ramah lingkungan, tidak menimbulkan resistensi, dan lebih murah.”
Batang tembakau, sering dianggap limbah, bisa diolah menjadi bioetanol, briket, kertas, dan pupuk organik. Dengan teknologi pirolisis, 100 kg batang kering dapat menghasilkan 20–30 liter asap cair yang bersifat insektisida alami dengan tingkat toksisitas 80% terhadap hama tertentu.
“Bayangkan petani tidak lagi tergantung pada pestisida kimia,” ujarnya. “Pestisida dari tembakau sendiri, lebih murah, ramah lingkungan, dan meningkatkan kemandirian petani.”
***
Ruangan semakin hening. Para peserta mulai memandang tembakau dengan cara yang berbeda. Mereka sudah lama mengetahui betapa pentingnya tanaman itu bagi kehidupan mereka, tetapi baru kali ini mereka melihat betapa besar ruang yang masih bisa dibuka.
Kejutan berikutnya datang dari dunia farmasi. Hamka menjelaskan bagaimana tembakau berpotensi menghasilkan obat-obatan neurologis, termasuk untuk Alzheimer dan Parkinson. Ia juga menunjukkan proses pembuatan permen nikotin—produk substitusi yang membantu perokok berhenti merokok tanpa menggunakan asap.
“Tembakau tidak hanya melahirkan rokok,” ujarnya. “Ia bisa melahirkan obat.”
Ia menutup dengan gambaran ekonomi yang memukau. Nilai batang tembakau jika dijual apa adanya hanya sekitar Rp500 perak. Namun setelah diolah menjadi briket nilainya naik menjadi Rp10.000–15.000 per kg. Pestisida nabati kini bernilai Rp25.000–50.000 per liter. Minyak atsiri bernilai hingga Rp15 juta per liter. Biodiesel, bioetanol—semuanya membuka pintu baru bagi ekonomi Madura.
“Inilah kenapa saya sepakat dengan teman-teman Kamura untuk mendorong Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau,” ujarnya dengan mantap. “Karena kita ingin terjadi hilirisasi, industri baru, dan peningkatan ekonomi masyarakat.”
Ketika ia berbicara tentang KEK, suaranya mengeras, seolah menegaskan bahwa masa depan Madura tidak boleh lagi diambil dari luar, tetapi dibangun dari dalam. Bahwa Madura tidak hanya menanam tembakau, tetapi mengolahnya. Tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi menghasilkan nilai tambah.
Ia mengakui tantangannya: budaya petani yang masih resisten, minimnya standar, akses pasar yang terbatas. Namun ia juga menunjukkan contoh Temanggung, yang mampu bertahan melalui rotasi tanaman, tumpang sari, dan hilirisasi yang terencana.
Kemudian ia menutup pemaparannya dengan pesan yang menggugah.
“Mari kita bangun kemandirian petani,” katanya. “Berikan pelatihan, alat, subsidi, dan dukungan. Kembangkan riset berkelanjutan, dorong kemitraan industri. Karena tembakau ini sangat kompetitif di pasar dunia, dan memberikan dampak luar biasa bagi Indonesia. Termasuk bagi Madura.”
Ketika ia turun dari panggung, tepuk tangan panjang mengiringinya. Bukan karena retorikanya, melainkan karena ia membawa harapan yang konkret. Harapan bahwa tembakau tidak lagi hanya daun yang dijual murah, tetapi pintu menuju ekonomi baru.
Dan siang itu, di Poltera Sampang, Hamka telah membuka pintu itu lebar-lebar. (SM)

Tidak ada komentar