x

Menguatnya Resonansi KEK Tembakau dan Relevansinya bagi Masa Depan Madura

waktu baca 3 menit
Selasa, 25 Nov 2025 20:18 168 Kamura

KAMURA.id — Gagasan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Madura kini memasuki tahap yang lebih sistematis dan terarah. Salah satu pihak yang terlibat aktif dalam penguatan gagasan ini adalah Komunitas Muda Madura (KAMURA), yang saat ini tengah menyusun naskah akademik sebagai dasar konseptual dan kebijakan bagi pengembangan KEK tersebut.

Upaya ini diperkuat dengan pelaksanaan serangkaian seminar dan FGD di berbagai kabupaten di Madura, yang bertujuan menghimpun data, memperdalam analisis, serta membuka ruang dialog bagi aktor-aktor lokal yang berkepentingan.

Langkah KAMURA ini menunjukkan bahwa pembahasan KEK Tembakau sedang bergerak ke arah yang lebih terstruktur dan berbasis kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pergerakan KAMURA ini tampaknya tidak berdiri sendiri. Resonansi isu KEK Tembakau di ruang publik semakin menguat, salah satunya terlihat dari pemilihan tema Rapat Kerja (Raker) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan 2025–2028: “Urgensitas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau dan Garam Madura.”

Fakta bahwa forum wartawan tingkat kabupaten mengangkat tema strategis ini menandai bahwa gagasan KEK bukan lagi milik kelompok tertentu, tetapi telah menjadi shared concern lintas profesi, khususnya mereka yang berada dalam ekosistem pengawasan kebijakan. Ketika media dan organisasi profesi seperti PWI mulai memposisikan KEK Tembakau sebagai isu penting, maka ekosistem opini publik ikut berubah: KEK dianggap bukan pilihan, tetapi kebutuhan.

Dalam pernyataannya, Ketua PWI Pamekasan Hairul Anam menegaskan bahwa Madura memiliki potensi besar sebagai kawasan ekonomi berbasis komoditas unggulan, terutama tembakau dan garam (Sabtu, 22/11/2025).

Pernyataan ini mengafirmasi apa yang diperjuangkan KAMURA: bahwa ada ruang ekonomi yang lama terabaikan dan membutuhkan akselerasi kebijakan. Resonansi ini memperlihatkan bahwa semakin banyak pihak menyadari perlunya KEK Tembakau dibentuk di Madura, baik sebagai alat akselerasi ekonomi maupun sebagai strategi penguatan rantai nilai komoditas lokal. Dan ketika banyak aktor mulai berbicara dalam nada yang sama, itu adalah tanda bahwa wacana telah masuk ke fase konsolidasi sosial.

Bila dipetakan lebih dalam, keselarasan antara gerakan KAMURA dan momentum yang dibangun PWI mengindikasikan adanya common ground: Madura membutuhkan tata kelola ekonomi baru yang mampu mengoptimalkan keunggulan tradisionalnya. Di sektor tembakau, ketimpangan harga, ketergantungan pada industri besar, serta minimnya industrialisasi di tingkat lokal telah menjadi masalah yang menahun.

Di sinilah konsep KEK Tembakau menemukan relevansinya, yakni sebagai instrumen untuk mendorong industrialisasi hulu–hilir, memastikan regulasi yang berpihak pada petani, meningkatkan daya tawar daerah, dan menghadirkan ekosistem ekonomi yang lebih terstruktur.

Oleh karena itu, gagasan KEK Tembakau bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk segera diwujudkan. Semakin banyak pihak yang menggemakan urgensinya, mulai dari komunitas intelektual muda seperti KAMURA hingga organisasi wartawan seperti PWI, mencerminkan adanya titik temu antara kebutuhan penelitian, kebutuhan kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.

Ketika suara-suara ini berkumpul dalam satu arus, maka KEK Tembakau bukan lagi sekadar aspirasi lokal, melainkan agenda pembangunan strategis Madura ke depan. Madura tengah menghadapi peluang sejarah, dan KEK Tembakau adalah salah satu pintu masuk paling realistis menuju transformasi ekonomi yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x