x

Menimbang Pengetahuan Lokal Madura dalam Bayang-Bayang Standarisasi Kebijakan

waktu baca 5 menit
Kamis, 26 Feb 2026 23:00 117 Kamura

KAMURA.id – Apa yang disebut pengetahuan tidak melulu perihal yang rapi: bisa diukur, ditulis, dan disimpan dalam laporan. Alih-alih rapi, sebagian pengetahuan justru hidup di tempat yang tidak pernah kita anggap penting: di percakapan sehari-hari, dalam cara orang menyebut sesuatu, atau dalam kebiasaan yang tidak pernah merasa perlu dijelaskan. Fenomena tersebut bisa kita temukan dalam diskurus Bahasa Madura.

Sebuah studi dari Khotimah dkk (2025) bertajuk Language as a Medium for Nature Conservation: Revitalization of Madura’s Flora-Fauna Lexicon within the Framework of Indigenous Knowledge (2025) membantu kita memhami hal ini. Studi tersebut menunjukkan bahwa bahasa Madura bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sistem pengetahuan ekologis yang kompleks. Kosakata flora dan fauna dalam bahasa Madura menyimpan klasifikasi tumbuhan obat, pengetahuan tentang habitat hewan, hingga relasi manusia dengan alam yang telah teruji lintas generasi

Contoh konkret yang diulas dalam penelitian tersebut adalah pada leksikon tembakau (bhâko). Dalam bahasa Madura, tembakau tidak dipahami sebagai satu objek tunggal, tetapi sebagai sistem ekologis yang kompleks. Ada bhâko (tanaman tembakau), dâunna bhâko (daun tembakau), bunga (bunga tembakau), betta/belta’ (bibit), bhigina bhâko (biji), bhâko alas (tembakau liar), hingga bhâko pappa’/ménah (tembakau kunyah) dan bhâko sergu’ (tembakau rokok).

Klasifikasi ini tidak sekadar penamaan, tetapi mencerminkan pengetahuan tentang fungsi, siklus hidup, hingga pemanfaatan.

Dewasa ini, leksikon kata pada Bahasa Madura jarang menjadi ladang kajian yang serius dipelajari. Sehingga tak heran jika temuan riset tersebut juga menunjukkan fakta kosakata ekologis bahasa Madura mengalami penurunan signifikan, terutama di kalangan generasi muda. Problem ini tidak sederhana, sebab hal ini bukan sekadar amnesia bahasa, melainkan hilangnya sistem pengetahuan yang selama ini menjadi dasar interaksi masyarakat dengan lingkungannya.

Rincian data menunjukkan ketimpangan pengetahuan antargenerasi. Sekitar 70% responden dewasa mengenali bhâko sebagai daun tembakau, tetapi hanya 10% generasi muda yang pernah melihat daun tembakau mentah. Pengetahuan tentang betta/belta’ (bibit) hanya dikenal oleh 12% responden dewasa, sementara bhigina bhâko (biji) bahkan hanya dikenali oleh 3% responden lansia. Lebih jauh, bhâko alas (tembakau liar) hanya diketahui oleh 11% responden dewasa, sementara 89% lainnya (terutama anak muda) hanya mengenal tembakau sebagai produk rokok.

Standarisasi yang Menghapus Pengetahuan Lokal

Masalahnya menjadi nyata ketika kita melihat bagaimana pengetahuan lokal perlahan hilang, bukan karena ia tidak relevan, melainkan karena ia tidak masuk dalam standar kebijakan modern.

Angka-angka ini menunjukkan satu hal: yang hilang bukan hanya istilah, tetapi rantai pengetahuan ekologis. Ketika generasi muda hanya mengenal produk akhir, mereka kehilangan pemahaman tentang proses, habitat, dan relasi ekologis yang menyertainya.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari cara kebijakan publik bekerja. Dari Bahasa Madura yang kaya, kita belajar perihal standarisasi pembangunan yang cenderung menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi kategori-kategori umum. Seperti yang terlihat dalam sektor perumahan, rumah beton sering dianggap sebagai simbol kemajuan, sementara rumah kayu dipandang sebagai keterbelakangan.

Padahal, di banyak wilayah rawan bencana, rumah kayu tradisional terbukti lebih adaptif terhadap kondisi alam (Rumah Gadang di Sumetera, Rumah Laheik di Jambi, dll). Standarisasi semacam ini tidak hanya mengabaikan konteks geografis, tetapi juga menghapus pengetahuan lokal tentang bagaimana membangun ruang hidup yang aman dan berkelanjutan.

Di sektor pertanian, pola yang sama juga terjadi. Teknologi modern seperti benih hibrida dan pupuk kimia dipromosikan secara luas, sementara sistem pertanian tradisional yang berbasis ekologi sering diabaikan. Padahal, seperti halnya kosakata flora-fauna dalam bahasa Madura, praktik pertanian lokal juga mengandung pengetahuan yang telah teruji oleh waktu.

Masalahnya bukan pada teknologi modern itu sendiri, melainkan pada cara ia diposisikan sebagai satu-satunya standar kebenaran. Ketika satu sistem pengetahuan dipaksakan sebagai universal, maka sistem pengetahuan lain (termasuk yang lokal) secara perlahan disingkirkan.

Dampak Jangka Panjang

Jika pola pikir seperti ini diterus-teruskan, orientasi pendidikan dan kebijakan yang lebih mengutamakan pengetahuan yang bersifat universal dan terstandar, maka tinggal tunggu sistem pengetahuan lokal ini sampai kehilangan ruang hidupnya. Anak-anak belajar konsep abstrak tentang lingkungan, tetapi tidak mengenali istilah lokal yang merujuk pada ekosistem di sekitarnya. Ini menciptakan jarak antara pengetahuan dan pengalaman.

Dampaknya bersifat jangka panjang. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan membaca lingkungannya sendiri, mereka menjadi lebih bergantung pada pengetahuan eksternal. Dalam konteks perubahan iklim dan krisis ekologis, kondisi ini justru meningkatkan kerentanan.

Karena itu, persoalan utama bukan pada modernisasi, melainkan pada cara kita memposisikan pengetahuan. Ketika standar tunggal dijadikan acuan, maka keragaman pengetahuan dianggap sebagai deviasi, bukan sebagai sumber kekuatan.

Data tentang leksikon bhâko menunjukkan bahwa pengetahuan lokal bekerja secara detail, kontekstual, dan adaptif. Ia mampu membaca perubahan lingkungan, mengenali variasi spesies, dan menghubungkannya dengan praktik kehidupan. Inilah yang hilang ketika bahasa dan pengetahuan lokal tidak lagi digunakan.

Maka, menjaga pengetahuan lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya. Bahasa Madura adalah contoh kasuistik. Tetapi ini dapat menjadi gambaran di sektor lainnya bahwa dengan pengetahuan lokal (dengan segenap kekayaaannya) layak untuk menjadi semacam navigator kebijakan melalui kajian yang mendalam. Indigenious knowladge bukan hanya soal warisan, tetapi juga alat untuk memahami, merawata, dan mengoptimalkan potensi tanpa harus tercerabut dari akar.

Jika kemajuan hanya diukur dari keseragaman, maka kita sedang bergerak menuju dunia yang miskin pengetahuan. Tetapi jika kemajuan dipahami sebagai kemampuan merawat kompleksitas, maka pengetahuan lokal justru menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Dalam konteks Bahasa Madura, kita bisa berkata bahwa kehilangan satu kata bukanlah hal sepele. Ia bisa berarti kehilangan satu cara untuk memahami dunia. Dan ketika terlalu banyak cara hilang, kita tidak hanya kehilangan bahasa, kita kehilangan arah. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x