
KAMURA.id—Di balik kabut asap rokok dan kampanye “stop merokok” yang membanjiri ruang publik, tersembunyi perang senyap yang jauh lebih besar: perang ekonomi antara industri farmasi dan industri tembakau.
Inilah yang dibongkar secara tajam oleh Wanda Hamilton dalam bukunya Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat, diterbitkan oleh INSISTPress pada 2010.
Buku ini menunjukkan bahwa perang atas nama kesehatan ternyata tidak selalu bersih — kadang justru berlumur kepentingan, regulasi, dan laba korporasi.
Ketika Nicotine War diterbitkan, Indonesia tengah dihebohkan oleh fatwa haram rokok (2010) dan munculnya RPP Pengamanan Produk Tembakau.
Di saat pemerintah dan lembaga keagamaan bersatu menekan perokok, ribuan petani dan buruh pabrik rokok justru turun ke jalan, menuntut penghidupan yang layak.
Buku Hamilton menjadi relevan karena menawarkan pandangan terbalik: bahwa isu tembakau bukan sekadar soal moral dan kesehatan, melainkan soal kuasa ekonomi dan perebutan pasar nikotin global.
Wanda Hamilton menolak melihat perang antirokok sebagai perjuangan kemanusiaan semata. Ia menunjukkan bahwa sejak 1980-an, industri farmasi mulai menguasai wacana nikotin melalui produk-produk pengganti nikotin seperti Nicorette, Nicoderm, Zyban, dan Nicotrol — seluruhnya diklaim sebagai “obat berhenti merokok.”
Di balik kemasan ilmiah dan jargon kesehatan publik, Hamilton menemukan satu pola: “kampanye berhenti merokok” berfungsi juga sebagai strategi pasar.
Ia menulis bahwa lembaga kesehatan dunia seperti WHO, American Medical Association, hingga Robert Wood Johnson Foundation telah membangun hubungan simbiosis dengan raksasa farmasi seperti GlaxoSmithKline, Pharmacia, dan Novartis.
“Perang terhadap tembakau bukan lagi perang moral tentang kesehatan,
melainkan perang ekonomi antar korporasi,” tulis Wanda Hamilton
Kronologi Perang Nikotin
Hamilton menyajikan kronologi terperinci tentang bagaimana nikotin direbut dari tangan industri tembakau untuk dijadikan sumber keuntungan farmasi:
Bagi Hamilton, inilah awal mula “moralitas global” menjadi instrumen kapitalisme kesehatan.
Salah satu bagian paling menggugah adalah pembalikan persepsi tentang nikotin. Hamilton menunjukkan bahwa nikotin bukan semata racun, melainkan senyawa terapeutik yang berpotensi menyembuhkan berbagai penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, depresi, dan gangguan usus.
Namun, karena nikotin adalah zat alami yang tak bisa dipatenkan, perusahaan farmasi memilih menciptakan “senyawa mirip nikotin” agar bisa dikomersialisasi. Dengan cara ini, nikotin yang dulu dicap iblis kini dijual kembali dalam bentuk “obat penyelamat.”
Hamilton dengan teliti menguraikan bagaimana perusahaan farmasi memanfaatkan narasi penyelamatan.
Ketika harga obat dituding terlalu mahal, mereka mengganti wajah dengan mendanai WHO atau menjadi sponsor konferensi global anti-tembakau. Dengan demikian, mereka tampil sebagai pahlawan di hadapan publik — sementara industri tembakau dijadikan musuh bersama.
Hamilten menulis, “Negara dan lembaga kesehatan global kini menari mengikuti irama drum yang ditabuh perusahaan farmasi.”
Politik Label dan Cap Jahat
Hamilton menyebut fenomena “labelisasi moral” terhadap industri tembakau sebagai “cap jahat yang direkayasa.”
Ia mencatat bagaimana laporan Surgeon General di AS berubah nada: dari netral di era 1970-an, menjadi agresif dan menyerang sejak 1990-an — bertepatan dengan derasnya dana dari lembaga farmasi ke proyek-proyek antirokok.
Hasilnya, bukan hanya pabrik rokok yang dianggap biang dosa, tetapi juga petani dan buruh yang bergantung hidup pada tembakau.
Kampanye moral ini, kata Hamilton, melahirkan “musuh publik baru” yang bukan lagi kapitalis besar, melainkan rakyat kecil.
Dalam konteks Indonesia, Nicotine War mengandung refleksi penting. Ketika pemerintah sibuk merancang regulasi pengendalian tembakau, jutaan keluarga petani di Madura berhadapan dengan ancaman kehilangan mata pencaharian.
Membaca Hamilton berarti memahami bahwa politik kesehatan tak selalu identik dengan kepentingan publik.
Kadang ia menjadi perpanjangan tangan korporasi global yang ingin menguasai pasar baru — termasuk pasar nikotin yang selama ini dikelola oleh rakyat.
Bagi Madura, buku ini adalah alarm: jangan biarkan tembakau diambil alih tanpa perlawanan ilmiah dan kebijakan yang berpihak.
Wanda Hamilton tidak sedang membela rokok, tetapi ia menantang mitos modern tentang moralitas kesehatan.
Ia mengingatkan bahwa “perang nikotin” sejatinya adalah perang ideologi kapitalisme, di mana laboratorium menggantikan ladang, dan dokter menggantikan petani. (Red.)

Tidak ada komentar