x

Ramadan dan Denyut Ekonomi Lokal di Sumenep

waktu baca 4 menit
Kamis, 19 Feb 2026 17:41 113 Kamura

KAMURA.id – Di Madura, sebagai sebuah wilayah yang lekat dengan denyut nilai-nilai keislaman, Ramadan tak pernah berhenti pada ranah ritual semata. Lebih jauh momentum tersebut juga merambat pada aspek yang lain. Salah satunya adalah ekonomi.

Di Sumenep, misalnya, dampak itu bisa dilihat melalui Bazar Takjil Ramadan 2026. Sebuah kegiatan tahunan yang bukan sekadar perayaan musiman, melainkan ruang bertemunya tradisi, kreativitas, dan harapan ekonomi warga.

Dilansir dari Radar Madura, sebanyak 115 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bersiap memadati sepanjang Jalan dr Soetomo, Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep. Sejak Kamis (19/2) hingga Kamis (19/3), kawasan itu akan menjelma menjadi pusat kuliner Ramadan. Aroma kolak, es buah, hingga aneka gorengan akan menyatu dengan riuh percakapan warga yang berburu menu berbuka puasa.

Bazar ini diprakarsai oleh Jawa Pos Radar Madura bersama Pemerintah Kabupaten Sumenep. Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini bahkan telah masuk dalam Calendar of Events Sumenep 2026, sebuah penanda bahwa bazar takjil bukan lagi kegiatan pinggiran, melainkan bagian dari strategi daerah dalam menggerakkan ekonomi berbasis masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan besarnya manfaat kegiatan ini.

“Kegiatan Bazar Takjil Ramadan ini manfaatnya sangat besar bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” terangnya Selasa (17/2).

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Di tengah ketidakpastian ekonomi, UMKM menjadi salah satu penopang utama daya tahan masyarakat. Melalui bazar ini, para pelaku usaha kecil mendapatkan ruang untuk memasarkan produk, memperluas jaringan, sekaligus menguji inovasi mereka langsung di hadapan konsumen.

Lebih jauh, Faruk juga menyinggung dimensi spiritual dari kegiatan ini. “Event ini digelar sejak awal hingga akhir Ramadan. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini dapat menambah nilai ibadah kita, sekalian menambah rasa syukur,” tandasnya.

Namun, di balik hiruk pikuk bazar takjil, ada satu hal yang lebih mendasar: bagaimana kegiatan seperti ini dapat menjadi model penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Ekonomi Berbasis Masyarakat

Dalam buku Reset Indonesia karya Farid Gaban, Dandy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu, ditegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan top-down yang seragam. Justru, kekuatan ekonomi bangsa terletak pada kemampuan daerah untuk mengelola potensi lokalnya sendiri.

Buku tersebut menampilkan berbagai contoh bagaimana komunitas di daerah mampu bangkit dengan mengandalkan sumber daya lokal, salah satunya melalui koperasi.

Koperasi Keling Kumang di Kalimantan, misalnya, tidak hanya berhasil meningkatkan kesejahteraan anggotanya, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Koperasi ini mengembangkan usaha berbasis komunitas dengan prinsip keberlanjutan—menghubungkan ekonomi, sosial, dan ekologi dalam satu tarikan napas.

Gagasan utama dari Reset Indonesia sederhana, tetapi mendalam: pembangunan harus dimulai dari bawah, dari masyarakat itu sendiri. Negara (atau pemerintah daerah) tidak perlu selalu menjadi aktor utama, melainkan cukup menjadi fasilitator yang membuka ruang, menyediakan sarana, dan memberikan pendampingan tanpa memaksakan arah.

Dalam konteks itu, Bazar Takjil Ramadan di Sumenep dapat dibaca sebagai miniatur dari pendekatan tersebut. Pemerintah tidak mendikte jenis usaha atau cara berjualan, melainkan menyediakan ruang dan fasilitas. Selebihnya, masyarakat diberi kebebasan untuk berkreasi, berinovasi, dan menentukan sendiri apa yang terbaik bagi mereka.

Solusi dari Pengetahuan Lokal

Pendekatan ini sejalan dengan temuan riset yang dilakukan oleh Sari dkk (2025) tentang integrasi kearifan lokal dalam pendidikan melalui Kampung Klepon di Sidoarjo. Studi berjudul Integrating Local Wisdom and Sustainable Development Goals: Contextual Learning Through Klepon Village in Indonesian Primary Education tersebut menunjukkan bahwa praktik budaya lokal (dalam hal ini produksi klepon) tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu meningkatkan literasi, numerasi, kesadaran sosial-budaya, hingga karakter siswa.

Lebih dari itu, kegiatan berbasis lokal juga terbukti mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan dan kesadaran lingkungan. Siswa tidak hanya belajar menghitung bahan atau memahami proses produksi, tetapi juga belajar tentang pengelolaan limbah dan pentingnya menjaga keberlanjutan.

Temuan ini memperkuat satu hal: bahwa penguatan ekonomi lokal tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan budaya masyarakat. Ketika ekonomi tumbuh dari akar budaya, ia tidak hanya menciptakan keuntungan, tetapi juga membangun identitas dan keberlanjutan.

Bazar takjil, dengan segala kesederhanaannya, memuat potensi itu. Ia bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang belajar kolektif, di mana pelaku UMKM mengasah keterampilan, masyarakat membangun relasi, dan budaya lokal terus hidup melalui ragam kuliner tradisional.

Tantangannya ke depan adalah bagaimana menjadikan momentum seperti ini tidak berhenti sebagai event tahunan semata. Pemerintah daerah perlu mendorong agar semangat yang lahir dari bazar ini bisa berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang lebih luas—misalnya melalui penguatan koperasi, akses permodalan, hingga pelatihan berkelanjutan.

Dengan demikian, Bazar Takjil Ramadan bukan hanya menjadi perayaan sesaat, tetapi juga pijakan menuju kemandirian ekonomi masyarakat. Sebab, seperti yang diingatkan dalam Reset Indonesia, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh proyek-proyek besar di pusat, melainkan oleh seberapa kuat akar ekonomi di daerah tumbuh dan berkembang.

Dan di Sumenep, langkah kecil itu sedang berlangsung di antara deretan lapak takjil, warga yang saling topang, dan harapan yang terus tumbuh dari tangan-tangan masyarakat. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x