x

Menuntun Pertanian dengan Pengetahuan, Menjaga Petani dengan Kebijakan

waktu baca 5 menit
Minggu, 1 Feb 2026 13:49 130 Kamura

KAMURA.id – Dalam Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia karya Yuval Noah Harari, disebutkan bahwa umat manusia mengalami tiga revolusi besar: revolusi kognitif, revolusi agrikultur, dan revolusi sains. Revolusi-revolusi ini tidak menandai lenyapnya fase sebelumnya (agrikultur tidak menghilang ketika sains berkembang) melainkan justru kerap saling melengkapi. Fenomena ini tampak jelas hari ini, ketika banyak petani mulai mengadopsi produk dan temuan sains, termasuk teknologi informasi, dalam praktik pertanian mereka. Madura pun tidak berada di luar kecenderungan ini.

Meski demikian, masih kuat anggapan umum bahwa pertanian adalah sektor yang sepenuhnya bergantung pada aspek alamiah: musim, cuaca, dan nasib baik. Padahal, dalam konteks kekinian, pertanian justru menuntut pendekatan yang jauh lebih ilmiah, terencana, dan berbasis pengetahuan. Tantangan yang dihadapi pertanian hari ini tidak lagi sederhana, sehingga tak mungkin diselesaikan hanya dengan pengalaman turun-temurun.

Karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Bangkalan menyediakan akses beasiswa bagi anak-anak petani untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang pertanian patut dibaca sebagai upaya strategis, bukan sekadar kebijakan sosial. Dilansir dari jatim.antaranews.com, kebijakan yang diambil Pemkab Bangkalan ini menyentuh akar persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni kualitas sumber daya manusia di tengah krisis regenerasi petani, ketika sektor pertanian semakin ditinggalkan oleh generasi muda.

Pertanian hari ini memang tidak lagi bisa bertumpu pada pengetahuan tradisional semata. Perubahan iklim, degradasi lahan, fluktuasi harga komoditas, hingga tuntutan pasar global menuntut praktik pertanian yang dikelola secara ilmiah dan mendalam. Dalam konteks inilah kerja sama Pemkab Bangkalan dengan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang menjadi relevan dan strategis. Kerja sama tersebut membuka ruang bagi anak-anak petani untuk mempelajari teknologi pertanian, manajemen agribisnis, pengolahan hasil, hingga konsep pertanian berkelanjutan secara lebih sistematis.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bangkalan, Karyadinata, menjelaskan bahwa skema kerja sama ini tidak hanya membebaskan biaya pendidikan, tetapi juga membuka peluang pembiayaan biaya hidup bagi mahasiswa.

“Ini kami lakukan sebagai bentuk upaya konkret Pemkab Bangkalan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian sekaligus mendorong regenerasi petani di kabupaten ini,” tutur Karyadinata, Selasa, 27 Januari 2026.

Artinya, hambatan ekonomi yang selama ini membuat anak-anak petani sulit mengakses pendidikan tinggi mulai dipatahkan. Mekanisme seleksi yang memprioritaskan anak petani dan masyarakat kurang mampu juga menunjukkan adanya keberpihakan yang cukup jelas dari pemerintah daerah.

Namun demikian, rendahnya jumlah pendaftar dari Kabupaten Bangkalan mengindikasikan adanya persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni citra pertanian itu sendiri. Bagi banyak anak muda, pertanian masih dipersepsikan sebagai sektor dengan masa depan yang suram. Di titik ini, beasiswa tidak cukup hanya dipromosikan sebagai bantuan pendidikan, melainkan harus ditempatkan dalam narasi yang lebih besar tentang masa depan pertanian yang layak, rasional, dan menjanjikan.

Antara Mendorong Anak Muda Bertani dan Menjamin Kepastian Hidup

Memberikan dorongan kepada generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian adalah satu langkah penting. Namun, dorongan tersebut berpotensi melahirkan paradoks kebijakan jika tidak disertai dengan kepastian hidup. Apa artinya pendidikan pertanian yang baik jika setelah lulus mereka justru berhadapan dengan pasar yang tidak berpihak, harga panen yang jatuh, dan pendapatan yang serba tidak pasti?

Pada titik inilah negara tidak bisa berhenti pada agenda regenerasi semata. Generasi petani muda membutuhkan jaminan bahwa pilihan hidup mereka rasional secara ekonomi. Jaminan pasar, stabilitas harga, dan kepastian penyerapan hasil panen menjadi prasyarat agar pertanian benar-benar menjadi sektor yang layak bagi anak muda terdidik.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pertanian yang hanya bergantung pada kemurahan alam dan keberuntungan musim adalah sistem yang rapuh. Karena itu, intervensi kebijakan menjadi keniscayaan. Pertanian perlu diarahkan pada sistem yang berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi, diversifikasi komoditas, penguatan kelembagaan petani, serta integrasi yang kuat antara produksi, pengolahan, dan distribusi. Tanpa langkah-langkah ini, regenerasi petani hanya akan menghasilkan tenaga terdidik yang pada akhirnya memilih keluar dari sektor pertanian.

Dengan demikian, dukungan terhadap generasi muda petani harus dipahami sebagai dua agenda yang tidak terpisahkan: membangun kapasitas manusia dan menjamin ekosistem kehidupan mereka. Mengabaikan salah satunya sama saja dengan melemahkan keseluruhan upaya regenerasi itu sendiri.

Problem Pertanian dari Hulu ke Hilir

Berbagai analisis yang dimuat di laman kamura.id menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki daya serap yang signifikan terhadap kemiskinan, terutama di wilayah dengan basis agraris seperti Madura. Pertanian tidak semata-mata soal produksi pangan, melainkan juga menyangkut distribusi kesempatan kerja dan pemerataan ekonomi.

Riset yang dilakukan Komunitas Muda Madura (KAMURA) bahkan menegaskan bahwa keberadaan pabrik rokok rakyat (yang basis utamanya adalah pertanian tembakau) mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Di sektor ini, mata rantai ekonomi bekerja dari hulu hingga hilir: mulai dari petani, buruh tani, pekerja pabrik, hingga sektor distribusi. Dampaknya cukup nyata, yakni pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan secara signifikan.

Temuan-temuan ini menegaskan satu hal penting: pertanian harus diseriusi secara menyeluruh. Pendidikan pertanian melalui beasiswa merupakan investasi di sektor hulu, sementara kebijakan industri, pasar, dan hilirisasi menjadi penopang di sektor hilir. Tanpa hilirisasi yang kuat, hasil pertanian akan terus dijual murah. Tanpa pendidikan yang memadai, inovasi pertanian akan berjalan lambat.

Dalam konteks inilah program beasiswa Pemkab Bangkalan seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari peta jalan pembangunan pertanian yang lebih besar. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan keberanian negara untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada petani, memperkuat industri berbasis pertanian, serta memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.

Pada akhirnya, masa depan pertanian, dan sekaligus masa depan Madura, bertumpu pada keseriusan melihat pertanian sebagai sektor strategis. Bukan semata warisan masa lalu, melainkan ruang hidup yang layak dan bermartabat bagi generasi muda hari ini dan generasi yang akan datang. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x