
Sumber gambar: Media Jatim KAMURA.id – Di lereng bukit Dusun Jambangan, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, hanya berjarak tipis dari kuburan warga, sepetak lahan berukuran 20×30 meter menyimpan salah satu misteri agronomi paling mahal di dunia.
Dari petak sekecil itu, petani hanya memanen 14 hingga 15 kilogram daun tembakau setiap tahun. Kuantitasnya nampak kecil. Tetapi, melansir keterangan dari Detikcom, setiap kilogram dari tembakau yang disebut dengan jenis Campalok itu dihargai hingga Rp 5 juta.
Angka itulah yang menempatkan tembakau Campalok sebagai komoditas termahal di antara seluruh jenis tembakau yang pernah dibudidayakan manusia.
Harga itu bukan hasil spekulasi pasar atau strategi branding. Petani, pembeli, dan siapa saja penikmat tembakau sepakat bahwa cita rasa Campalok memang berbeda.
Kadar nikotinnya rendah, hanya berkisar 0,5 hingga 0,8 persen, aromanya harum, dan yang paling istimewa, tidak meninggalkan bau apek di mulut setelah diisap.
Kombinasi karakter ini sulit ditemukan pada tembakau dari daerah lain, bahkan yang tumbuh di lahan bertetangga sekalipun.
Di antara seluruh fakta itu, ada satu pertanyaannya sederhana yang hingga kini belum menemukan jawab: mengapa tembakau Campalok bisa seunik itu?
Belum Ada Penjelasan Saintifik
Menelusuri jawaban atas pertanyaan tersebut, yang lebih dulu ditemukan justru bukan data laboratorium, melainkan kisah tentang Pottre Koneng.
Konon, putri Keraton Sumenep itu pernah singgah dan mandi di sekitar sumur Dusun Jambangan. Sekuntum bunga jatuh dari kepalanya, tumbuh menjadi pohon Campalok yang aromanya diyakini meresap ke tembakau di sekitarnya hingga hari ini.
Tidak perlu sangsi bahwa cerita tersebut indah dan layak dijaga. Cerita itu juga merupakan bagian dari identitas kultural Sumenep, serta cara masyarakat memberi makna pada tanah yang mereka garap turun-temurun.
Tetatapi ketika pertanyaannya adalah mengapa tembakau ini secara kimiawi berbeda, mitos jelas bukan opsi yang memadai.
Sejauh penelusuran ini dilakukan, belum ditemukan studi agronomi atau kimia tanah yang secara spesifik membedah komposisi unsur hara, kandungan senyawa aromatik, atau interaksi mikroklimat di lahan Campalok.
Jurnal yang tersedia, misalnya penelitian dari Universitas Trunojoyo Madura, lebih banyak membahas sistem pakar untuk diagnosa hama dan penyakit tembakau secara umum di Madura, bukan karakter unik Campalok secara khusus. Artinya, klaim tentang keunggulan rasa tembakau ini masih berdiri di atas testimoni turun-temurun, bukan pada data terukur.
Ketinggian, Luas Lahan, dan Faktor yang Terlewat
Ada beberapa petunjuk fisik yang sebenarnya bisa menjadi pintu masuk riset. Tembakau ini ditanam di ketinggian 248 meter di atas permukaan laut, sebuah angka yang mungkin berkaitan dengan suhu, kelembapan, atau intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman.
Lahannya pun sangat sempit, hanya 20×30 meter, sehingga variasi genetik dan mikroba tanah di area itu kemungkinan berbeda dari lahan tembakau yang lebih luas di sekitarnya.
Ada pula dugaan bahwa pohon Campalok di pinggir lahan turut memengaruhi aroma tembakau melalui senyawa yang dilepaskan daunnya.
Dugaan ini menarik, tetapi sejauh ini hanya berhenti sebagai dugaan. Belum ada uji laboratorium yang membuktikan adanya transfer senyawa aromatik dari pohon ke tanaman tembakau di sekitarnya, atau menunjukkan mekanisme biologis yang menjelaskan proses tersebut.
Kekosongan riset semacam ini punya konsekuensi yang jauh lebih besar dari sekadar rasa penasaran akademis.
Ketika Ketiadaan Data Menjadi Masalah Praktis
Tanpa penjelasan ilmiah yang presisi, budidaya Campalok sulit direplikasi bahkan di lahan yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari lokasi aslinya.
Petani tidak punya panduan konkret tentang unsur hara apa yang perlu dijaga, atau pada ketinggian berapa varietas ini bisa tumbuh optimal di luar Dusun Jambangan.
Hasilnya, produksi tetap terkunci pada luas lahan yang sama sejak dulu, tanpa ada upaya perluasan yang berbasis pengetahuan, bukan spekulasi.
Ketiadaan data ini juga membuka celah bagi pemalsuan. Ketika sebuah komoditas hanya dijamin keasliannya oleh cerita dan lokasi geografis, pembeli sulit memverifikasi apakah tembakau yang mereka beli benar-benar berasal dari petak asli di Jambangan.
Sertifikasi indikasi geografis, misalnya, umumnya membutuhkan data karakteristik kimia dan agronomi yang terukur, bukan hanya narasi asal-usul.
Dari sisi kebijakan, pemerintah daerah maupun instansi terkait juga kehilangan basis untuk merancang program pengembangan.
Sulit menyusun kebijakan tata niaga atau insentif budidaya untuk komoditas yang keunikannya belum terpetakan secara ilmiah. Yang ada hanya pengakuan simbolis, semacam promosi di media sosial pemerintah provinsi, tanpa tindak lanjut riset yang lebih dalam.
Bukan berarti mitos harus disingkirkan. Cerita Pottre Koneng tetap relevan sebagai bagian dari daya tarik wisata dan kebanggaan lokal. Tetapi ruang budaya dan ruang sains sebaiknya dibiarkan berjalan berdampingan, tidak saling menggantikan.
Yang dibutuhkan Campalok hari ini bukan sekadar pengakuan sebagai tembakau termahal di dunia, melainkan penelitian yang bisa menjelaskan dengan presisi mengapa ia layak mendapat gelar tersebut. Selama jawaban itu masih bersembunyi di balik kisah bunga yang jatuh dari kepala seorang putri, potensi ekonomi dan keberlanjutan budidaya tembakau ini hanya akan jatuh pada cerita, mengandalkan warisan lisan di tengah dunia yang menuntut data.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar