x

Musik Tongtong di Antara Festival Kesenian dan Potensi Ekonomi Kreatif

waktu baca 4 menit
Minggu, 13 Sep 2026 21:53 27 Kamura

KAMURA.id – Ritme yang menghentak, ornamen dekorasi yang nyalang, dan lirik dengan tema petani dan nelayan Madura. Itulah citra yang tampak ketika kita mulai menikmati satu instrumen musik asal Pulau Garam ini: musik tongtong.

Citra itu kembali terlihat di Kota Sumenep, Sabtu malam, 5 September 2026. Dua puluh tujuh grup musik dari seluruh penjuru Pulau Garam berbaris sepanjang Jalan Urip Sumoharjo hingga Simpang Lima Kampong Arab dalam gelaran Festival Tongtong Sumenep 2026, membawakan tembang wajib Guwa Pajudan di hadapan ribuan warga yang tumpah di pinggir jalan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa festival ini adalah ikhtiar merawat identitas sekaligus merekatkan silaturahmi antarmasyarakat.

Pernyataan itu mengulang pola yang sudah lama berlangsung sejak festival ini pertama kali digelar untuk memperingati hari jadi Sumenep pada 2013.

Jumlah peserta yang naik-turun setiap tahun, dari 35 peserta pada 2013 hingga 30 peserta pada 2019, menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap tongtong tidak pernah benar-benar surut meski fluktuatif.

Dari Alat Ronda Menjadi Panggung Tahunan

Titis Setyono Adi Nugroho (2021) melalui penelitiannya yang bertajuk Musik Tongtong Sebagai Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura adalah salah satu contoh kajian akademis yang menelusuri secara sistematis asal-usul dan transformasi kesenian ini.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa musik tongtong lahir dari kentongan, alat sederhana penanda bahaya pada masa kolonial yang digunakan para peronda malam. Kebosanan rutinitas ronda mendorong modifikasi bunyi kentongan menjadi arak-arakan musik pengiring patroli.

Proses ini dijelaskan sebagai inovasi dalam pengertian antropologis, sebuah pembaruan fungsi benda dari kebutuhan dasar menuju kebutuhan yang lebih kompleks, mengikuti kerangka berpikir Koentjaraningrat yang dirujuk dalam penelitian tersebut.

Perkembangan berikutnya membawa tongtong pada wujud yang lebih rumit, yakni musik ul-daul. Penelitian Titis mencatat bahwa penambahan instrumen seperti gamelan peking, kendang, gong, kenong, hingga terompet dan pengeras suara mengubah tongtong dari sekadar tabuhan sederhana menjadi orkestrasi jalanan yang kompleks.

Kereta dorong dengan desain rupa-rupa binatang, lampu hias berwarna-warni, dan penari pengiring menjadikan tongtong tontonan visual sekaligus auditif.

Perubahan wujud ini tidak menghapus akar tongtong sebagai warisan Madura. Justru sebaliknya, modifikasi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi ini punya daya lentur untuk terus relevan.

Festival Tongtong yang digelar setiap tahun berfungsi meneguhkan legitimasi ini. Penelitian tersebut turut menyoroti bahwa setiap kali Bupati Sumenep berpidato dalam momentum tahunan tersebut, ada penegasan berulang bahwa musik tongtong adalah milik masyarakat Madura.

Pengulangan semacam ini adalah proses pembentukan identitas yang berjalan melalui bahasa dan praktik sosial yang teratur, sesuatu yang oleh Shotter dan Laclau, sebagaimana dikutip dalam penelitian itu, disebut sebagai konstruksi diskursif yang distabilkan oleh kekuasaan dan tradisi. Identitas tongtong sebagai kekayaan Madura tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk lewat pengulangan ritual tahunan ini.

Melampaui Panggung Tahunan

Pertanyaannya kemudian, apakah tongtong cukup berhenti sebagai agenda tahunan seremonial. Jawabannya semestinya tidak. Festival memang penting sebagai ruang legitimasi dan pelestarian, tetapi ruang itu rawan tereduksi menjadi rutinitas administratif jika tidak dibarengi penguatan struktur ekonomi dan pendidikan di baliknya.

Titis menyimpulkan bahwa Festival Musik Tongtong berfungsi sebagai pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal yang sebagian hidup dari sektor pariwisata. Temuan ini memvalidasi anggapan bahwa tongtong memiliki potensi sebagai instrumen ekonomi, bukan hanya panggung budaya.

Festival ini menyedot ribuan pengunjung dan peserta dari luar daerah, sebuah momentum yang bisa dikonversi menjadi geliat ekonomi kreatif berkelanjutan, bukan sekadar tontonan semalam. Kerajinan kereta dorong, produksi instrumen musik, jasa tata rias penari pengiring, hingga kuliner pinggir jalan adalah rantai ekonomi yang tumbuh di sekitar festival namun jarang mendapat perhatian serius dari kebijakan daerah.

Pilihan tembang wajib Guwa Pajudan pada festival tahun ini juga menunjukkan arah yang tepat, yakni menautkan musik tongtong dengan promosi destinasi wisata.

Strategi ini seharusnya diperluas melampaui satu lagu dan satu malam pawai. Sekolah-sekolah di Sumenep dapat menjadikan tongtong sebagai muatan lokal yang diajarkan sepanjang tahun, bukan hanya latihan menjelang festival. Grup-grup musik tongtong bisa didorong tampil di ruang-ruang publik non-festival, dari acara pernikahan hingga penyambutan tamu daerah, sehingga tongtong hidup dalam keseharian, bukan hanya dalam kalender perayaan hari jadi kabupaten.

Pemerintah daerah punya peran menentukan di titik ini. Dukungan anggaran untuk pelatihan generasi muda, dokumentasi sejarah tongtong secara sistematis, serta insentif bagi grup musik yang aktif di luar musim festival adalah langkah konkret yang bisa diambil. Tanpa langkah semacam ini, tongtong berisiko menjadi warisan yang dirayakan setahun sekali namun dilupakan sebelas bulan sisanya.

Ritme yang menghentak dan ornamen yang nyalang itu mestinya tidak hanya terdengar dan terlihat setahun sekali. Ia layak bergaung sepanjang tahun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Pulau Garam.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x