
Ilustrasi KAMURA.id – Di bawah langit Sumenep yang kelabu, H. Mukmin berdiri di tepi ladang tembakau miliknya di Kecamatan Ganding. Pandangannya tertuju pada daun-daun tembakau yang basah kuyup, terhantam hujan yang tak kenal musim. “Sangat fenomenal. Ketika daun sudah mau tua, kena hujan,” ujarnya dengan nada pasrah, Minggu, 14 September 2025.
Musim kemarau basah tahun ini telah mengacaukannya—petani tembakau di Madura, yang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi pulau ini, kini menghadapi ancaman serius terhadap hasil panen mereka.
Di tengah tantangan cuaca yang tak menentu, suara petani seperti Mukmin mencerminkan perjuangan untuk mempertahankan warisan budaya dan mata pencaharian mereka.
Cuaca yang Tidak Bersahabat
Madura, yang menyumbang hampir 50% produksi tembakau nasional—dengan Jawa Timur menyumbang 51,16%–57,01% dari total 238.806 ton pada 2023—selalu bergantung pada ritme alam.
Tembakau, komoditas yang telah menjadi simbol budaya dan penopang ekonomi, menuntut musim kering yang stabil untuk menghasilkan daun berkualitas tinggi. Namun, kemarau basah 2025, dengan hujan yang turun di luar prediksi, telah merusak siklus ini. “Tahap awal mutu kurang baik. Sudah mau membaik, kena hujan lagi, tidak seperti tahun-tahun kemarin,” keluh Mukmin.
Hujan yang turun saat daun tembakau memasuki fase matang menghilangkan bulu halus pada daun, merusak tekstur, dan mengurangi cita rasa khas tembakau Madura. Akar serabut tanaman ini juga menjadi rentan, memaksa daun kembali “muda” dan pahit saat dipetik.
“Petani kita maksa tetap metik, akhirnya pahit. Dengan mutu seperti itu, produksi rokok terganggu,” tambah Mukmin. Akibatnya, kualitas tembakau merosot, harga anjlok, dan petani terjebak dalam siklus kerugian.
Data terbaru menunjukkan harga tembakau di tingkat petani sering kali berada di bawah biaya produksi, terutama saat cuaca buruk, sebagaimana dialami petani di Ngawi yang juga melaporkan gagal panen pada 2025.
Dampak pada Petani dan Industri
Kemarau basah bukan hanya musuh petani, tetapi juga ancaman bagi industri rokok. Mukmin, pemilik PR Bahagia, menjelaskan bahwa daun muda yang dipetik menghasilkan tembakau berkualitas rendah, merugikan perusahaan rokok yang mengandalkan cita rasa khas Madura.
Meski demikian, pembelian tembakau tetap berjalan, dengan target 700 ton pada 2025, dan sudah terkumpul sekitar 500 ton hingga pertengahan September. Namun, kualitas yang menurun ini mengurangi daya saing tembakau Madura di pasar nasional, di mana impor tembakau terus meningkat akibat kenaikan tarif cukai berdasarkan PMK No. 96/2024.
Industri tembakau nasional, yang menghasilkan 317 miliar batang rokok pada 2024 dengan penerimaan CHT Rp226,4 triliun, diproyeksikan mencapai Rp230 triliun pada 2025. Namun, kontraksi produksi rokok sebesar 3,77% pada kuartal pertama 2025 menunjukkan tekanan pada industri, termasuk akibat kualitas bahan baku yang menurun.
Petani seperti Mukmin merasakan dampaknya: “Kalau cuacanya baik, harga tembakau di Madura stabil, seperti 2023 dan 2024.” Namun, ketika cuaca berbalik, petani terpaksa menjual dengan harga rendah, sering kali merugi.
Stigma dan Tantangan Struktural
Di luar tantangan cuaca, petani tembakau Madura menghadapi beban lain: stigma sebagai “daerah rokok ilegal.” Padahal, tembakau Madura telah mendukung 6 juta jiwa di sektor ini dan menyumbang penerimaan cukai yang mendominasi 95–96% total cukai nasional.
Stigma ini, ditambah keterbatasan akses terhadap subsidi benih dan pupuk, memperparah posisi petani. Laporan DJBC mencatat 15.757 kasus rokok ilegal pada 2025 dengan kerugian miliaran rupiah, namun penindakan sering kali tidak diimbangi dengan pembinaan bagi pelaku usaha legal, mendorong sebagian petani ke pasar gelap untuk bertahan hidup.
Analisis relevan menunjukkan bahwa perubahan iklim, seperti kemarau basah, semakin memperumit tantangan ini. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pola curah hujan tidak menentu di Jawa Timur telah meningkat sejak 2020, dipengaruhi oleh fenomena La Niña dan perubahan iklim global.
Jika pola ini berlanjut, daya saing tembakau Madura—yang bergantung pada kualitas daun—bisa terus melemah, mengancam mata pencaharian ribuan petani.
Harapan melalui KEK Tembakau
Di tengah badai kemarau basah, muncul secercah harapan: desakan untuk menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau.
Inisiatif ini, yang digaungkan antara lain oleh Komunitas Muda Madura (KAMURA), Asosiasi Pengusaha Muda Tembakau Madura (APTMA), dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Madura (IKMM), menawarkan solusi struktural.
KEK Tembakau dapat membawa insentif fiskal seperti keringanan pajak dan subsidi input pertanian, regulasi tata niaga yang mendukung serapan tembakau lokal, serta investasi dalam infrastruktur seperti irigasi modern dan pusat riset varietas unggul.
Dengan KEK, stigma rokok ilegal dapat dihapus melalui sertifikasi produk dan promosi global, sekaligus meningkatkan nilai tambah tembakau Madura.
“Madura harus bangkit dengan hasil tembakau yang selama ini cuma dinikmati pemerintah tanpa timbal balik yang sepadan,” ujar Imam Hanafi Abdullah dari IKMM.
Usulan APTMA untuk kategori SKM III dengan tarif cukai Rp450 per batang juga dapat menjaga daya saing pengusaha kecil tanpa membebani konsumen, sekaligus menstabilkan harga bagi petani. Dialog dengan DJBC pada Mei 2025 menunjukkan respons positif, dengan janji kajian bersama Kementerian Keuangan, menandakan bahwa suara petani mulai didengar.
Suara Petani, Suara Masa Depan
Bagi Mukmin dan ribuan petani lainnya, tembakau bukan sekadar tanaman; ia adalah warisan budaya, sumber kehidupan, dan simbol ketahanan.
Di ladang-ladang Sumenep yang basah oleh hujan tak terduga, mereka tetap bertahan, memetik daun meski tahu kualitasnya tak sempurna. Namun, perjuangan ini tak boleh sia-sia. KEK Tembakau adalah jalan menuju keadilan—tempat di mana petani tidak lagi terjebak dalam siklus kerugian, dan Madura bangkit sebagai pusat tembakau yang disegani dunia.
Saat hujan mereda dan mentari kembali menyapa ladang, harapan petani seperti Mukmin bergantung pada langkah nyata. Dengan dukungan kebijakan yang berpihak dan investasi yang tepat, tembakau Madura dapat kembali bersinar, bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai cerminan semangat pulau yang tak pernah menyerah.

Tidak ada komentar