x

KAMURA, KEK Tembakau, dan Sambutan dari Wakil Bupati Sampang

waktu baca 4 menit
Jumat, 17 Okt 2025 18:14 352 Kamura

KAMURA.id — Jumat sore (17/10), rumah dinas Wakil Bupati Sampang tampak berbeda dari biasanya. Beberapa perwakilan Tim Perumus Naskah Akademik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau dari Komunitas Muda Madura (KAMURA) datang dengan niat audiensi terkait gagasan besar mereka.

Di tengah ruang tamu yang hangat, mereka duduk berhadapan dengan Wakil Bupati Sampang, Ahmad Mahfudz. Suasana pertemuan berlangsung cair, tapi sarat makna: ide besar tentang ekonomi tembakau Madura diperbincangkan dengan serius.

Mahfudz tak berjarak. Ia mendengarkan paparan dengan seksama, lalu menimpalinya dengan kalimat yang menegaskan dukungan.

“Pemerintah Kabupaten Sampang menyambut baik inisiatif ini,” ujarnya. “Tembakau merupakan bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat Madura, termasuk di Sampang.”

Akar Ekonomi dari Daun Kering

Di tengah keterbatasan lahan, tembakau tetap menjadi denyut ekonomi Sampang. Mahfudz menyebutkan beberapa kecamatan yang selama ini hidup dari tanaman ini: Robatal, Torjun, dan Jrengik.

Meski tidak seluas wilayah tetangga seperti Pamekasan, tembakau di Sampang punya peran tersendiri. “Hanya beberapa wilayah seperti Ketapang yang memang kurang cocok untuk budidaya tembakau,” katanya menambahkan.

Bagi masyarakat, tembakau bukan sekadar hasil bumi, tetapi juga penopang keseharian. Mahfudz menyadari itu. Karena itulah ia menyoroti perubahan yang mulai terasa dalam tata niaga tembakau lokal.

Dulu, harga tembakau nyaris sepenuhnya dikendalikan oleh perusahaan besar. Petani kerap pasrah pada harga yang ditentukan sepihak. Kini, menurutnya, situasi mulai lebih sehat.

“Kehadiran pengusaha lokal membuat harga lebih stabil. Ada kompetisi yang membuat nilai jual tembakau jadi lebih adil,” ujarnya.

Pabrik Rokok dan Napas Ekonomi Lokal

Mahfudz juga menyinggung kemunculan pabrik rokok rakyat yang mulai tumbuh di Sampang. Ia melihatnya sebagai pertanda baik, sebuah bentuk ekonomi rakyat yang muncul dari bawah. “Adanya pabrik rokok membuat permintaan terhadap tembakau meningkat. Sekarang hampir tidak ada lagi tembakau petani yang tidak laku,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai industri rokok rakyat ini membawa dampak sosial yang tak kalah penting. Lapangan kerja bertambah, dan aktivitas ilegal di masyarakat mulai menurun. “Beberapa tahun lalu Sampang sering dikaitkan dengan peredaran narkoba karena minimnya pekerjaan. Sekarang banyak masyarakat beralih ke pekerjaan yang lebih produktif,” ujarnya.

Namun Mahfudz tidak ingin larut dalam euforia. Ia mengakui ada banyak pekerjaan rumah: mulai dari keterbatasan anggaran, terutama untuk penyediaan air bagi pertanian tembakau, hingga kebutuhan bantuan alat produksi seperti mesin pencacah yang masih terbatas.
“Pemerintah daerah berupaya memberi kemudahan perizinan dan bantuan alat, tapi memang tidak semua bisa teratasi sekaligus,” katanya.

Mahfudz menegaskan, persoalan terbesar yang harus segera dipecahkan adalah belum adanya perlindungan hukum yang kuat bagi petani.
Selama ini, mekanisme penentuan harga tembakau di Sampang masih mengikuti standar dari Pamekasan—padahal kondisi geografis dan kualitas lahan berbeda. “Harus ada kebijakan harga yang memperhatikan karakter wilayah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gagasan KEK Tembakau tidak boleh dimaknai sebagai langkah untuk menyingkirkan perusahaan besar yang sudah lama beroperasi.

“Justru KEK harus menjadi ruang kolaborasi antara industri besar dan pengusaha lokal agar bisa saling menghidupi,” katanya.

Dukungan dan Harapan

Di akhir pertemuan, anggota DPRD Kabupaten Sampang, Salim Segaf, ikut menyatakan dukungan. Ia menegaskan kesiapan DPRD untuk membantu setiap kebijakan yang memperkuat ekonomi tembakau. “Kami akan membantu sesuai kewenangan, terutama bila ada investor yang ingin mengembangkan potensi tembakau dan produk turunannya,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Humaidi, perwakilan Tim Perumus Naskah Akademik KEK Tembakau, menyampaikan apresiasinya atas sambutan pemerintah daerah.

“Dukungan ini menjadi energi penting bagi KAMURA untuk menyempurnakan naskah akademik KEK Tembakau sebagai basis advokasi kebijakan ekonomi Madura ke depan,” ujarnya.

Pertemuan di rumah dinas itu mungkin berlangsung singkat, tapi ia meninggalkan kesan yang panjang: bahwa cita-cita besar tentang Madura yang mandiri dari tembakaunya sendiri kini mulai menemukan tempat untuk dibicarakan secara serius.

Dan di sela-sela lembaran naskah akademik yang mereka bawa, tersimpan harapan sederhana: agar daun tembakau Madura tak hanya harum di gudang, tapi juga membawa kesejahteraan bagi tangan-tangan yang menanamnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x