x

Podcast LP3ES: Kebijakan Purbaya dan Nasib Petani Tembakau Madura

waktu baca 4 menit
Sabtu, 18 Okt 2025 18:55 210 Kamura

KAMURA.id — Kalau ada satu keputusan pemerintah yang bikin ruang publik dan percakapan kian hangat dengan kepulan asap rokok, itu disebabkan oleh sebuah keputusan yang ditetapkan belum lama ini: tidak menaikkan cukai rokok. Dan pelakunya: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Begitu kabar itu turun, dapur-dapur kecil di pojok kampung dari para petani tembakau mulai “ngebul” lagi. Pabrik rokok rakyat menggeliat, para pelaku industri tersenyum, dan di Madura — tanah tembakau yang kadang lebih kering dari janji politik — para petani mulai menatap langit dengan sedikit rasa lega.

Namun, ini bukan kondisi surgawi tanpa cela. Pembicaraan perihal tembakau selalu kompleks. Dan itulah yang menjadi tema besar podcast LP3ES yang rilis pada Jumat (17/10) kemarin. Melalui program ‘Kata Kunci’, Subairi Muzakki selaku Pegiat Komunitas Muda Madura (Kamura) dan bintang tamu dalam podcast tersebut, membahas dengan runut tentang silang sengkarut industri tembakau itu.

Pertarungan Wacana: Industri vs. Farmasi

Kalau mau jujur, perdebatan tentang rokok ini bukan sekadar soal kesehatan. Ini soal kekuasaan, wacana, dan siapa yang paling fasih bicara tentang “kebaikan.” Wanda Hamilton, dalam ‘Nicotine War’, menulis bahwa argumen anti-rokok sesungguhnya adalah jantung dari pertarungan dua kekuatan ekonomi raksasa: industri tembakau dan industri farmasi.

Potret ini seolah menampilkan yang satu menjual kenikmatan, yang lain menjual penawarnya. Maka lahirlah kampanye, riset, dan gerakan moral yang seolah datang dari langit, padahal disponsori dari laboratorium. Rokok jadi kambing hitam universal: diusir dari kafe, diasingkan dari iklan, dan dikutuk dari mimbar.

Tapi ironisnya, kampanye anti-rokok itu jarang menyentuh kenyataan bahwa di balik sebatang kretek, ada puluhan ribu petani di Madura, Bojonegoro, Temanggung, Lombok, Kuba, Brazil dan banyak daerah lainnya, yang hidup dari daun yang baunya getir tapi menghidupi.

Petani di Tengah Asap dan Aib

Di Madura, tembakau bukan sekadar tanaman. Ia bagian dari kebanggaan, harga diri, bahkan doa. Di banyak desa, daun tembakau dijemur bukan hanya untuk dijual, tapi sebagai tanda bahwa keluarga itu “masih kuat.” Namun di mata negara, nasib petani tembakau sering digambarkan seperti asap itu sendiri: kelihatan, tapi mudah diabaikan.

Purbaya, dengan keputusannya yang tak menaikkan cukai, seolah memberi sedikit ruang bernapas. Harga tembakau di tingkat petani naik, permintaan meningkat, dan anak-anak petani bisa kembali sekolah tanpa harus menunggu panen gagal.

Tapi tak perlu angkat topi buru-buru. Sebab keputusan seperti ini sering hanya bersifat sementara, sementara kebijakan jangka panjang tentang tata niaga tembakau, perlindungan harga, atau transparansi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tetap jadi teka-teki di meja birokrat. Untuk itu, perlu tindak lanjut dan pengawasan.

Lucunya, di negeri ini, yang dianggap “aib” bukanlah korupsi dana cukai, melainkan perokok di teras rumah. Negara yang hidup dari asap, tapi malu mengakuinya.

Ironinya makin kental ketika tahu bahwa cukai rokok adalah penyumbang terbesar pendapatan negara di luar pajak (data tahun 2024). Tapi para petani tembakau pelakunya, orang-orang yang bekerja dari fajar sampai petang, memikul daun yang lengket dan menjemurnya di bawah matahari yang lebih panas dari ucapan pejabat, justru paling sedikit menerima bagian. Seolah tembakau hanyalah dosa yang boleh dipungut hasilnya tapi tak boleh diakui pelakunya.

Podcast LP3ES lewat program Kata Kunci membedah isu ini dengan nada yang jarang terdengar di ruang publik. Bahwa kebijakan fiskal bukan cuma urusan angka, tapi juga nasib manusia. Bahwa keputusan untuk tidak menaikkan cukai bukan hanya menggembirakan industri, tapi menyelamatkan banyak petani kecil di pulau yang tanahnya lebih keras dari hidupnya sendiri.

Tapi sebagaimana nasib asap, ia akan lenyap di udara, kecuali ada yang meniupkan cerita. Mungkin itu tugas kita: menjaga agar kisah petani tembakau Madura tak ikut hilang bersama embun pagi dan kebijakan yang berubah tiap tahun. Sebab di balik setiap batang kretek yang menyala, ada sejarah panjang yang dibungkus rapi oleh tangan-tangan yang jarang disebut: petani, buruh, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada daun yang negara sendiri malu menyebutnya: tembakau.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x