x

Téngka: Sistem Kecerdasan Emosional Orang Madura yang Perlahan Pudar

waktu baca 4 menit
Rabu, 1 Jul 2026 14:04 99 Kamura

KAMURA.id – Ada ujar-ujar lama yang telah melekat dalam benak orang Madura. Bunyinya: téngka tadha’ toléssah. Ini adalah adagium yang maksudnya téngka – sistem etika sosial Madura – bukan berbentuk tulisan. Ia hidup dalam praktik.

Mengingat kembali ujar-ujar itu, saya justru teringat pada buku Daniel Goleman. Judulnya, Emotional Intellegence. Buku ini mengulas soal bagaimana keseharian manusia, justru banyak didorong oleh pikiran emosional alih-alih rasional atau intelektual.

Melalui buku ini, serta riset-riset lanjutan hingga masa kiwari, menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, yang Goleman bedakan dari kecerdasan intelektual, justru memainkan peran yang tidak kalah besar, bahkan pada banyak konteks lebih besar, dalam menentukan keberhasilan dan kestabilan hidup seseorang. Kemampuan mengenali emosi diri, mengelola konflik, dan membaca situasi sosial terbukti menjadi penopang utama, sementara kecerdasan intelektual hanya mengantar seseorang sampai ke gerbang.

Saya ingat betapa moyang orang Madura sudah mafhum perihal ini. Dalam téngka, ada aspek kecerdasan emosional yang mesti dipupuk; membaca emosi orang lain, kondisi, situasi, utnuk memberikan respon yang proporsional atas setiap situasi spesifik.

Sebagai sebuah sistem etika sosial yang mengatur cara seorang Madura menempatkan diri di hadapan orang lain: kepada yang lebih tua, kepada tamu, kepada tetangga, kepada sesama dalam satu kampung, téngka menjadi bukan sekadar tata krama permukaan, melainkan cara berpikir yang menuntun seseorang membaca situasi sosial sebelum bertindak.

Hasani Utsman, dalam tesis magisternya di UIN Sunan Kalijaga berjudul Téngka: Etika Sosial dalam Masyarakat Tradisional Madura (saat ini sudah dibukukan dengan judul yang sama), mencoba mengurai konsep ini secara akademik. Ia membaca téngka bukan sebagai kumpulan kebiasaan yang berserak, melainkan sebagai satu sistem yang mungkin dipetakan dan dikategorikan secara sistematis.

Persoalannya, téngka selama ini diyakini hanya hidup dalam praktik, sebagaimana yang saya paparkan di awal tulisan ini. Téngka diwariskan lewat pengasuhan, lewat teguran orang tua, lewat contoh yang dilihat anak dari lingkungannya. Namun belum ada upaya untuk merumuskannya sebagai (setidaknya) kurikulum, apalagi disandingkan dengan konsep kecerdasan emosional yang justru sedang dicari-cari dunia pendidikan modern hari ini.

Kekosongan yang Berdampak pada Kebingungan

Ketiadaan perumusan ini punya akibat. Ketika sekolah-sekolah di Madura mengikuti kurikulum nasional yang berorientasi IQ, sistem sosial yang khas dan dibangun dari antar generasi tampak tidak memiliki ruang. Yang terjadi bukan penolakan terhadap téngka, melainkan sesuatu yang lebih pelan: sistem etika sosial ini mulai dilupakan, tanpa sadar bahwa yang hilang itu sesungguhnya sistem kecakapan yang saat ini sangat mampu untuk mengisi rongga problem yang dialami oleh generasi.

Dunia hari ini disebut tengah mengalami krisis kecakapan kedua, krisis yang tidak lagi soal siapa yang paling pintar berhitung, melainkan siapa yang mampu bekerja sama, menahan diri, dan membaca situasi sosial dengan tepat. Generasi saat ini mengalami semacam kegagapan emosional karena dunia yang bergeser semakin virtual. Interaksi personal atau kelompok sudah semakin nihil. Akhirnya, penyakit mental menjadi problem global yang menjangkiti generasi muda kita.

Madura, tanpa disadari, sudah menyimpan modal untuk krisis ini sejak lama. Modal itu hanya belum pernah diangkat dari ruang praktik ke ruang kesadaran kolektif.

Téngka tidak berhenti relevan pada urusan pendidikan anak. Ia sesungguhnya menyentuh hampir seluruh ruang kehidupan orang Madura.

Dalam politik, misalnya, téngka adalah cara membaca kapan seorang tokoh layak dihormati dan kapan ia harus dikritik tanpa kehilangan tata krama. Dalam ekonomi, téngka menuntun cara berdagang yang tidak menghancurkan kepercayaan, sebab reputasi sosial di Madura sering lebih berharga dari keuntungan sesaat. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, téngka menjadi rem yang mencegah konflik kecil membesar menjadi permusuhan panjang, sebuah fungsi yang sangat dibutuhkan mengingat citra kekerasan yang kerap dilekatkan pada masyarakat Madura oleh pihak luar.

Semua ruang ini sesungguhnya sedang menunggu satu hal yang sama: perumusan yang serius atas apa yang selama ini hanya dihidupi tanpa disadari.

Ada perspektif yang melihat bahwa dalam téngka ada potensi feodalisme bersemayam. Pola pikir ini layak untuk mendapat ruang diskusi, meskipun itu bukan di tulisan kali ini. Yang ingin saya ketengahkan saat ini adalah kenyataan terkait téngka yang lahir dari rahim kebudayaan Madura sendiri, bukan impor dari teori mana pun.

Bagi saya, sistem ini sangat mampu berdiri sejajar dengan apa yang dirumuskan Goleman, bahkan mendahului dalam praktik, meski belum ada upaya merumuskannya secara sistematis.

Pilihan yang tersedia sekarang hanya dua. Membiarkan téngka terus hidup sebagai kebiasaan yang perlahan pudar dimakan zaman, atau mengangkatnya menjadi rujukan sadar dalam pendidikan dan kebijakan di Madura. Yang pertama adalah jalan menuju kepunahan diam-diam. Yang kedua adalah jalan menuju penemuan kembali atas apa yang selama ini sudah dimiliki, tetapi belum pernah benar-benar dibaca.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x