x

Ekonomi Sampang Tumbuh 3,45 Persen, Sektor Pertanian Masih Perlu Penguatan

waktu baca 4 menit
Kamis, 5 Mar 2026 17:13 170 Kamura

KAMURA.id – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang pada 2025 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi daerah yang dikenal sebagai Kota Bahari itu mencapai 3,45 persen, didorong oleh sejumlah sektor utama yang masih menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat.

Kepala BPS Sampang Boby Eko Heru Mulyadi mengatakan, peningkatan pertumbuhan tersebut ditopang oleh berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, perdagangan, pertambangan, hingga konstruksi.

Menurut dia, dari berbagai sektor tersebut, pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur perekonomian daerah.

“Mayoritas sektor yang paling mendominasi itu di sektor pertanian,” katanya, Rabu (04/03/2026).

Ia menjelaskan, kontribusi sektor pertanian terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun ini mencapai 29,39 persen. Angka tersebut jauh melampaui kontribusi sektor-sektor lain yang secara persentase berada di bawah 20 persen.

Sebagai perbandingan, sektor perdagangan yang menjadi salah satu sektor penting dalam pergerakan ekonomi daerah hanya menyumbang sekitar 20,43 persen terhadap PDRB.

Kendati demikian, Boby menilai karakter sektor pertanian di Sampang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan sektor ekonomi lain yang ditopang oleh industri berskala besar.

Menurut dia, aktivitas ekonomi di sektor tersebut lebih banyak digerakkan oleh usaha pertanian skala rumah tangga.

“Kebetulan sektor tersebut tidak ditopang oleh industri pertanian skala besar. Tapi, oleh usaha pertanian rumah tangga yang biasa kita kenal sebagai petani atau nelayan,” tambahnya.

Dominasi sektor pertanian ini sekaligus menunjukkan bahwa struktur ekonomi Sampang masih bertumpu pada sektor primer yang sangat bergantung pada aktivitas masyarakat di tingkat akar rumput.

Boby menuturkan, secara teori peningkatan laju pertumbuhan ekonomi daerah semestinya mampu berdampak pada penurunan angka pengangguran. Namun dalam praktiknya, penyerapan tenaga kerja di Sampang belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang terjadi lebih banyak berasal dari sektor pertanian skala kecil yang memiliki keterbatasan dalam menyerap tenaga kerja secara masif.

“Tapi, faktanya penyerapan tidak berjalan drastis. Sebab, tumpuan perekonomian yang tinggi berasal dari sektor pertanian, khususnya pada pengusaha skala rumah tangga,” paparnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sektor industri yang umumnya memiliki kapasitas penyerapan tenaga kerja lebih besar.

“Beda dengan penyerapan tenaga kerja seperti pada industrialisasi yang lebih massif,” paparnya.

Selain sektor pertanian, Boby juga menilai program pemerintah pusat seperti makan bergizi gratis (MBG) turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di daerah.

Menurutnya, program tersebut secara tidak langsung mendorong munculnya nilai tambah dalam rantai ekonomi lokal, terutama yang berkaitan dengan penyediaan bahan pangan.

“Sebab, dalam program tersebut dapat mempengaruhi nilai tambah atau value added,” pungkasnya.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung utama perekonomian di Madura, termasuk di Kabupaten Sampang. Oleh karena itu, berbagai upaya penguatan sektor ini dinilai penting untuk terus dilakukan agar mampu memberikan dampak yang lebih luas, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja.

Optimalisasi sektor pertanian dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan angka pengangguran, terutama dengan memperkuat stabilitas pasar, meningkatkan keamanan bagi profesi petani dan nelayan, serta mendorong berbagai inovasi di bidang pertanian.

Sejumlah persoalan yang selama ini membelit sektor pertanian di Madura juga perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa sektor pertanian di Madura setidaknya menghadapi empat persoalan utama yang perlu segera diatasi.

Persoalan pertama adalah semakin berkurangnya luas lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman atau bangunan lainnya. Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada menurunnya produksi hasil pertanian.

Persoalan kedua berkaitan dengan tata kelola pertanian, termasuk masalah kelangkaan pupuk yang kerap dihadapi petani. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih belum terbiasa menggunakan pupuk nonkimia yang sebenarnya dapat diproduksi secara tradisional.

Masalah berikutnya adalah perubahan kondisi lingkungan yang memengaruhi tingkat kesuburan tanah serta ketersediaan air.

Pada kondisi tertentu, lahan pertanian mengalami kekeringan karena kekurangan air. Namun pada situasi lain, tanaman justru mengalami kerusakan akibat banjir.

“Belum lagi kalau kita berbicara tingkat pencemaran tanah dan air yang sampai saat ini terus menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan,” terangnya.

Persoalan terakhir berkaitan dengan pola hidup sebagian masyarakat yang masih menjalankan aktivitas bertani sebatas untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bukan sebagai komoditas perdagangan yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.

Berbagai persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan sektor pertanian di Madura. Tanpa pembenahan yang lebih serius, potensi besar sektor ini dikhawatirkan tidak akan mampu memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun kesejahteraan masyarakat. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x