
KAMURA.id – ”Tanah ini, Jawa ini, kecil, lautnya besar. Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barangsiapa kehilangan laut dia kehilangan darat.”
– Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia
***
Kita sering menyebut Madura sebagai daerah kepulauan. Hal ini merujuk pada letak geografis Madura yang sejatinya sebuah pulau yang dikelilingi laut. Tetapi anggapan ini nampak sebagai cuap-cuap saja. Faktanya, per hari ini kita masih jarang pola pikir yang benar-benar memperlakukan laut sebagai ruang pengetahuan. Ia lebih sering hadir sebagai latar belakang, bak dekorasi panggung yang tak pernah menjadi tokoh utama.
Padahal, di sanalah berdiam ribuan cerita ekologis yang belum dituliskan dengan cukup tekun. Riset tentang keanekaragaman hayati maritim Madura masih terasa sunyi: sedikit kajian serius, minim pengukuran jangka panjang, dan terlalu jarang menyentuh hubungan langsung antara ekologi dan kehidupan masyarakat pesisir.
Kesunyian itu terasa janggal. Sebagai wilayah kepulauan, Madura semestinya menjadikan riset kelautan sebagai kebutuhan dasar, bukan kegiatan tambahan. Bukan hanya demi pelestarian lingkungan (meskipun itu penting) tetapi juga demi keberlanjutan hidup masyarakat yang setiap hari bernegosiasi dengan laut. Nelayan, petambak, pengolah hasil laut, hingga perempuan pesisir yang menggantungkan ekonomi keluarga pada sumber daya laut, semuanya hidup dalam ekosistem yang nyaris belum dipetakan secara komprehensif.
Ragam Tanya
Beberapa pertanyaan mendasar bahkan belum dijawab secara serius. Bagaimana dampak ekologis pembukaan tambak udang terhadap garis pantai dan kualitas tanah pesisir? Seberapa cepat kenaikan muka air laut di berbagai titik Madura dari masa ke masa? Bagaimana kualitas air laut yang menjadi ruang hidup bagi biota sekaligus sumber pangan masyarakat?
Kita tahu perubahan terjadi, mulai dari abrasi, perubahan arus, berkurangnya mangrove, tetapi data yang sistematis masih terasa langka. Tanpa riset yang kuat, kebijakan sering lahir dari asumsi, bukan dari pemahaman mendalam. Padahal hal tersebut sangat mungkin dilakukan.
Sebagai misal, pengembangan kawasan Coastal & Marine Biodiversity Reserve (CMBR) Lembung Paseser yang dilakukan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PEP Poleng Field.
Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat konservasi dan edukasi lingkungan berbasis wisata. Di dalamnya tumbuh ekosistem mangrove, habitat bagi setidaknya 44 spesies burung, delapan spesies ikan estuari, delapan spesies ikan karang, serta terumbu karang yang hidup di perairan pesisir.
Data sederhana ini saja sudah menunjukkan bahwa pesisir Madura bukanlah ruang kosong, melainkan laboratorium alam yang menunggu disentuh riset yang lebih serius.
Upaya memperkenalkan CMBR juga dilakukan melalui Lokakarya Photo Story “Coastal & Marine Biodiversity Reserve (CMBR) Lembung Paseser” yang berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026. Kegiatan ini melibatkan fotografer dari berbagai wilayah di Jawa Timur untuk merekam potensi kawasan melalui pendekatan visual yang dipadukan dengan narasi sosial dan ekologis.
Rangkaian lokakarya dibagi dalam tiga tahap: pengenalan kawasan dan persiapan teknis pada akhir November 2025, observasi lapangan serta pengumpulan dokumentasi pada awal Desember, hingga pameran “Nyeser Paseser” pada 24–28 Januari 2026 di Wisma Jerman Surabaya.
Assistant Manager Production Operations Bahar Lanu menyebut kegiatan ini sebagai cara untuk melihat Lembung Paseser bukan sekadar objek visual, melainkan ruang hidup yang memiliki nilai sosial, budaya, dan ekologis.
Kolaborasi multipihak antara komunitas kreatif, masyarakat lokal, Wisma Jerman, dan Fujifilm menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pesisir dapat dibangun dari berbagai pendekatan, termasuk seni dan dokumentasi. Namun, kegiatan seperti ini seharusnya menjadi pintu masuk menuju riset yang lebih dalam, bukan berhenti sebagai peristiwa sesaat.
Riset yang Sepi
Sebagian kecil riset memang telah dilakukan. Misalnya, studi Reni Ambarwati, Nur Rohmatin Isnaningsih, dan Dianah Filzan Alyani berjudul Diversity of marine bivalves of Madura Island, Indonesia based on the collections of Museum Zoologicum Bogoriense yang dipresentasikan dalam International Conference on SDGs for Sustainable Future (ICSSF 2024).
Berdasarkan koleksi Museum Zoologicum Bogoriense hingga Agustus 2017, penelitian tersebut menemukan 36 spesies bivalvia laut di Madura yang tergolong dalam 14 famili dari Arcidae hingga Veneridae. Temuan ini menunjukkan kekayaan hayati yang nyata, tetapi sekaligus menegaskan kebutuhan kerja lapangan lebih lanjut untuk menginventarisasi spesies yang mungkin belum tercatat.
Sayangnya, penelitian semacam itu masih jarang dilanjutkan secara sistematis. Padahal, data biodiversitas bukan sekadar angka ilmiah; ia adalah dasar untuk merancang kebijakan konservasi, mengelola sumber daya perikanan, serta mengantisipasi perubahan iklim yang semakin terasa di wilayah pesisir. Tanpa riset berkelanjutan, masyarakat pesisir akan terus hidup dalam ketidakpastian ekologis, bergantung pada laut yang berubah tanpa pernah benar-benar dipahami.
Madura membutuhkan lebih dari sekadar narasi romantik tentang laut. Ia membutuhkan peta ekologis yang rinci, pemantauan kualitas air secara berkala, riset tentang perubahan garis pantai, serta kajian sosial-ekologis yang menghubungkan manusia dan alam sebagai satu kesatuan.
Inisiatif seperti CMBR Lembung Paseser telah menunjukkan bahwa potensi itu ada; tinggal bagaimana dunia akademik, pemerintah, dan komunitas lokal berani menjadikannya sebagai agenda riset jangka panjang.
Sebab pada akhirnya, laut Madura bukan hanya ruang ekonomi, tetapi ruang kehidupan. Dan kehidupan, seperti yang kita tahu, tidak bisa dirawat dengan asumsi. Ia membutuhkan pengetahuan yang tekun, riset yang sabar, dan keberanian untuk melihat lebih dalam daripada sekadar permukaan air yang tenang. Tentu kita tak ingin menjadi masyarakat seperti yang ditulis Pram yang menjadi lead dalam tulisan ini: masyarakat yang kehilangan air. (Red)

Tidak ada komentar