
Kamura.id—Madura bukan sekadar tanah tandus di ujung timur Pulau Jawa. Ia adalah tanah tembakau. Sejak abad ke-19, ketika pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem tanam paksa, tembakau mulai tumbuh dalam skala besar di Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Dari tanah inilah lahir tembakau dengan cita rasa dan aroma khas yang membuatnya terkenal hingga ke pasar internasional, menjadi bahan baku rokok kelas dunia.
Kini, hampir dua abad setelah tanam paksa itu diperkenalkan, tembakau masih menjadi denyut nadi Madura. Tahun 2024, Madura menghasilkan 60 ribu ton tembakau—setara dengan 32 persen dari total produksi nasional. Angka ini bukan kecil: kontribusi Madura terhadap penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) mencapai Rp72 triliun per tahun.
Namun di balik angka fantastis itu, ada sebuah ironi besar. Pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang: berapa yang benar-benar kembali ke Madura?
Kontribusi Besar, Imbalan Kecil
Data resmi mencatat bahwa Jawa Timur, provinsi induk Madura, menerima Rp3,57 triliun dana bagi hasil CHT pada 2025. Dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang mengalir ke Madura. Padahal, pulau ini adalah salah satu penyumbang terbesar dalam produksi tembakau nasional.
Ketimpangan ini terasa mencolok. Negara mendapat triliunan rupiah dari keringat petani Madura, sementara para petani sendiri harus berjibaku menghadapi harga yang fluktuatif, biaya produksi yang terus meningkat, dan ketidakpastian pasar.
Sebuah paradoks yang menyakitkan: Madura memberi banyak, tetapi menerima sangat sedikit.
Di balik angka-angka besar itu, ada wajah lelah petani. Mereka bekerja dari fajar hingga senja, menggantungkan harapan pada daun-daun hijau yang rapuh.
Namun ketika musim panen tiba, hasil jerih payah itu sering tak sebanding dengan tenaga yang tercurah. Harga tembakau yang mereka jual ditentukan pasar dan perantara, jauh dari kendali mereka sendiri.
Tak jarang, petani harus menjual dengan harga rendah, bahkan merugi. Ironisnya, di saat yang sama, pabrik rokok besar di luar Madura menikmati keuntungan berlipat.
Bertahan dengan Jalan Sendiri
Dalam situasi penuh ketidakadilan ini, petani Madura tidak tinggal diam. Mereka mencari jalan keluar dengan caranya sendiri. Karena pabrik besar enggan membeli tembakau Madura dengan harga layak, lahirlah ratusan pabrik rokok rakyat di Pamekasan dan Sumenep.
Pabrik-pabrik kecil ini, yang sering dibiayai modal kolektif bahkan dengan dukungan ulama, menjadi ruang perlawanan sunyi. Bagi petani, lebih baik mendirikan pabrik sendiri ketimbang menjual hasil panen dengan harga yang tak layak.
Namun langkah ini pun tidak mudah. Pabrik rokok rakyat terhimpit oleh regulasi cukai yang berat, sulit bersaing dengan industri besar, dan kerap dicap sebagai produsen rokok ilegal.
Bagi orang Madura, tembakau bukan sekadar komoditas. Ia adalah identitas, harga diri, dan bagian dari budaya. Dalam satu ungkapan populer di kalangan petani disebutkan, “Apapun yang terjadi, orang Madura akan tetap menanam tembakau.”
Itulah sebabnya, meski kebijakan kerap tidak berpihak, meski keuntungan semakin tipis, petani tetap setia mengolah ladang mereka. Tembakau adalah simbol eksistensi, warisan yang mengikat generasi.
Saatnya Bicara Keadilan
Di sinilah persoalan utama. Negara selama ini menikmati pajak dan cukai dari tembakau Madura, tetapi tidak memberikan porsi keadilan yang seimbang bagi petaninya. Jutaan petani dan ribuan tenaga kerja yang bergantung pada tembakau, berisiko terus hidup dalam kemiskinan struktural jika kebijakan tidak diubah.
Madura tidak meminta belas kasihan. Madura hanya menuntut keadilan. Jika kontribusinya sebesar itu, maka sudah semestinya ada perlakuan khusus, kebijakan yang berpihak, dan perhatian serius dari pemerintah.
Gagasan menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau muncul dari semangat mencari jalan keluar. KEK diyakini dapat memberi fasilitas cukai khusus, menstabilkan harga, menyerap tenaga kerja, dan memajukan industri rakyat.
Namun pada akhirnya, semua kembali pada kemauan politik: apakah negara benar-benar mau menghadirkan keadilan bagi petani tembakau Madura?
Madura adalah tembakau. Ia memberi kontribusi besar bagi negara. Tetapi selama ketidakadilan ini dibiarkan, wajah lelah petani akan terus menjadi cermin kegagalan kita bersama.

Tidak ada komentar