
KAMURA.id—Ada satu fakta yang tidak berubah ketika Badan Pusat Statistik merilis angka kemiskinan terbaru. Dari tiga posisi teratas daftar kabupaten termiskin di Jawa Timur pada 2025, ketiganya berasal dari pulau yang sama: Madura.
Sampang menempati urutan pertama dengan tingkat kemiskinan 20,61 persen. Bangkalan menyusul di posisi kedua dengan 18,25 persen, dan Sumenep di posisi ketiga dengan 17,02 persen. Pamekasan, yang paling ringan bebannya di antara keempatnya, tetap berada di peringkat keenam se-provinsi dengan 12,77 persen.
Dengan kata lain, keempat kabupaten di Madura sekaligus masuk ke dalam tujuh besar kabupaten termiskin di Jawa Timur. Tidak ada gugus wilayah lain di provinsi ini yang menyumbang komposisi setimpang itu dari satu hamparan geografis.

Semua di atas garis nasional
Untuk menakar seberapa dalam persoalan ini, angka Madura perlu disandingkan dengan acuan yang lebih luas.
Persentase penduduk miskin nasional pada Maret 2025 tercatat 8,47 persen, dan terus menurun hingga 8,25 persen pada September 2025. Jawa Timur secara keseluruhan berada sedikit di atas angka nasional. Keempat kabupaten Madura berada jauh di atas keduanya—yang paling ringan sekalipun, Pamekasan, masih sekitar satu setengah kali lipat rata-rata nasional, sementara Sampang menyentuh hampir dua setengah kalinya.
Jarak ini bukan selisih yang bisa ditutup dalam satu atau dua tahun anggaran. Ia adalah kesenjangan struktural yang bertahan lintas periode pemerintahan.
Empat kabupaten, empat kecepatan
Yang lebih menarik dibaca bukan sekadar tingginya angka, melainkan perbedaan arah geraknya. Meski keempat kabupaten sama-sama menurunkan kemiskinan pada 2025, laju dan jaraknya berbeda tajam.
| Kabupaten | Kemiskinan 2024 | Kemiskinan 2025 | Peringkat termiskin Jatim (2025) |
| Sampang | 20,83% | 20,61% | 1 |
| Bangkalan | — | 18,25% | 2 |
| Sumenep | 17,78% | 17,02% | 3 |
| Pamekasan | 13,44% | 12,77% | 6 |
Sumber: Badan Pusat Statistik. Angka Bangkalan 2024 tidak dicantumkan karena sumber bervariasi.
Sumenep menurunkan kemiskinannya sekitar 0,76 poin persentase dalam setahun, dengan jumlah penduduk miskin berkurang hampir delapan ribu jiwa menjadi sekitar 188 ribu. Pamekasan turun 0,67 poin. Sampang, kabupaten dengan beban terberat, justru bergerak paling lambat—hanya sekitar 0,22 poin dalam setahun.
Artinya, kabupaten yang paling membutuhkan percepatan justru mencatat perbaikan paling kecil. Jarak antara Sampang dan Pamekasan, dua ujung Madura, kini hampir delapan poin persentase—sebuah selisih yang membuat keduanya nyaris seperti berada di dua provinsi yang berbeda.
Pamekasan yang perlahan menjauh
Bila ada satu tren yang layak dicermati, itu adalah lintasan Pamekasan.
Dalam rentang sepuluh tahun, tingkat kemiskinan Pamekasan menurun dari sekitar 16,7 persen menjadi 12,77 persen. Penurunan yang konsisten ini membuatnya perlahan melepaskan diri dari kelompok tiga besar termiskin Madura dan menempatkannya lebih dekat ke kabupaten-kabupaten menengah Jawa Timur seperti Pacitan atau Lamongan, ketimbang ke tetangganya sendiri di pulau ini.
Namun perlu kehati-hatian membacanya. Peringkat keenam termiskin se-Jawa Timur bukanlah prestasi yang bisa dirayakan; ia hanya berarti Pamekasan sedikit kurang tertinggal dibanding tiga saudaranya. Garis start Madura memang berada jauh di belakang.
Membaca di balik persentase
Angka persentase hanya menceritakan sebagian. Dua ukuran lain memberi kedalaman.
Indeks Kedalaman Kemiskinan menunjukkan seberapa jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin berada di bawah garis kemiskinan; Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan seberapa timpang kondisi di antara sesama penduduk miskin. Di Sumenep, keduanya membaik tajam pada 2025—kedalaman turun dari 4,19 ke 2,18, dan keparahan dari 1,53 ke 0,47. Ini menandakan bahwa penduduk miskin di sana tidak hanya berkurang jumlahnya, tetapi yang tersisa pun berada dalam kondisi yang sedikit lebih dekat ke garis kemiskinan.
Garis kemiskinan itu sendiri bergerak naik seiring biaya hidup. Di Sumenep, ambangnya naik menjadi sekitar Rp521 ribu per kapita per bulan pada 2025. Angka yang tampak kecil, tetapi menjadi penentu apakah sebuah keluarga tercatat miskin atau tidak.
Pulau kaya, penduduk miskin
Data ini memperoleh maknanya yang penuh ketika ditempatkan dalam konteks yang lebih besar.
Madura bukan pulau tanpa sumber daya. Ia menyimpan tembakau yang menghidupi ratusan ribu keluarga, tambak garam yang menguasai hampir sepertiga lahan nasional, ladang migas di lepas pantainya, hasil laut, dan ternak. Jembatan Suramadu telah menghubungkannya ke Surabaya selama lebih dari lima belas tahun. Namun setelah semua itu, empat kabupatennya tetap bertengger di dasar hampir setiap tabel kesejahteraan Jawa Timur.
Di sinilah letak pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh angka-angka ini: mengapa kekayaan sumber daya yang melekat pada nama pulau ini tidak kunjung berubah menjadi kesejahteraan bagi penduduknya. Kemiskinan yang bertahan di tengah kelimpahan komoditas bukanlah takdir geografis, melainkan hasil dari cara nilai tambah diciptakan, ditangkap, dan dibagi—dan sejauh ini, sebagian besar tercipta dan tertangkap di luar Madura.
Angka kemiskinan 2025 memang menurun di keempat kabupaten. Tetapi selama penurunan itu masih dihitung dalam satuan sepersekian poin per tahun, dan selama kabupaten dengan beban terberat justru bergerak paling lambat, maka jarak menuju kesetaraan dengan Jawa Timur lainnya akan terus terukur bukan dalam tahun, melainkan dalam dekade.
Disusun oleh Tim Data KAMURA.

Tidak ada komentar