x

Seminar dan FGD KEK Tembakau di POLTERA Fokus pada Teknologi Tepat Guna dan Diversifikasi

waktu baca 3 menit
Sabtu, 29 Nov 2025 23:13 130 Kamura

KAMURA.id — Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Komunitas Muda Madura (KAMURA) di Politeknik Negeri Madura (POLTERA), Sampang, tidak hanya membahas tata niaga tembakau, tetapi juga masa depan inovasi teknologi dan diversifikasi produk turunan tembakau dalam kerangka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura.

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian FGD penyusunan Naskah Akademik KEK Tembakau Madura itu menghadirkan Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, anggota DPR RI Eric Hermawan, Direktur POLTERA Laily Ulfiyah, M.T, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Hamka, S.TP., M.Sc., M.P, perwakilan Dinas Pertanian Sampang, HIPMI, para ulama, perwakilan petani, BEM se-Sampang, serta mahasiswa POLTERA.

Direktur POLTERA, Laily Ulfiyah, menegaskan bahwa seluruh inovasi yang lahir di kampus vokasi tersebut berangkat dari persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.

“Semua inovasi ini lahir dari masalah nyata dan ditransformasi menjadi solusi yang berdampak,” ujarnya.

Menurut Laily, KEK Tembakau Madura hanya akan berhasil bila dibangun di atas ekosistem berbasis teknologi yang mampu mengolah potensi lokal menjadi nilai tambah ekonomi.

“KEK membutuhkan ekosistem berbasis teknologi agar mampu mengolah potensi lokal menjadi nilai tambah. Dalam konteks tembakau, Poltera siap menjadi mitra strategis dalam tiga tahap utama: mulai hulu dan budidaya, hilir pengeringan dan pengolahan, hingga industrialisasi dan rantai nilai KEK,” jelasnya.

Ia menegaskan, POLTERA siap diposisikan sebagai pusat inovasi teknologi KEK, dengan cara terus mencari masalah di lapangan, menganalisisnya secara ilmiah, lalu menghasilkan solusi berbasis teknologi tepat guna.

“Saya berharap FGD ini mampu merumuskan langkah konkret bagi pengembangan ekosistem teknologi tembakau di Madura melalui KEK. Poltera selalu membuka pintu kolaborasi untuk semua pihak,” kata Laily menutup pernyataannya.

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Hamka, menempatkan tema diversifikasi tembakau sebagai kunci kemandirian ekonomi petani.

“Yang kita lihat adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tembakau melalui produk turunan tembakau non rokok. Kita ingin petani mampu mandiri dengan mendiversifikasi tanaman tembakau agar memberi nilai tambah ekonomi bagi mereka,” jelasnya.

Hamka memaparkan bahwa secara historis tembakau sejak era kolonial merupakan tanaman unggulan dengan kontribusi ekonomi yang luar biasa. Ia merujuk data BPS 2023 yang mencatat sektor tembakau menyumbang sekitar Rp213 triliun kepada negara, dengan produksi mencapai 238.800 ton, dan sekitar 6 juta orang menggantungkan hidup pada industri rokok dan tembakau.

Di tengah kontribusi besar tersebut, Hamka menyoroti risiko kampanye global anti-tembakau dan regulasi yang kian ketat. Karena itu, menurutnya, diversifikasi tanaman dan produk turunan tembakau menjadi sangat mendesak.

“Selama ini petani hanya fokus pada daun untuk rokok. Padahal batang, bunga, tangkai, bahkan akar tembakau punya potensi besar. Tembakau ini sebenarnya ‘zero waste’ dan bisa meningkatkan taraf hidup petani,” tegasnya.

Ia menjelaskan, berbagai bagian tanaman tembakau dapat diolah menjadi Pestisida nabati dan pupuk organik,Kompos, briket arang, bio-oil, biodiesel, Minyak atsiri untuk parfum, kosmetik, dan obat, Hingga riset farmasi untuk obat neurologis, anti kanker, dan diabetes.

Hamka menyebut tembakau sebagai “emas hijau” yang nilai tambahnya melonjak ketika diproses menjadi produk turunan.

“Kalau cuma dijual batang, nilainya sangat rendah. Begitu diolah jadi kompos, briket, pestisida, minyak atsiri atau biodiesel, nilai pasarnya naik berkali-kali lipat. Ini potensi ekonomi baru bagi petani,” ujarnya.

Karena itu, ia sepakat dengan inisiatif KAMURA mendorong KEK Tembakau Madura sebagai kawasan hilirisasi dan industrialisasi berbasis tembakau.

“Inilah kenapa kami sepakat dengan teman-teman KAMURA mendorong Kawasan Ekonomi Khusus. Kita ingin terjadi hilirisasi, lahir industri baru di kawasan itu, membuka lapangan kerja, dan mengangkat ekonomi Madura,” ujarnya.

“Intinya, tembakau adalah komoditas yang sangat kompetitif di pasar dunia dan memberikan dampak luar biasa bagi Indonesia, termasuk bagi petani di Madura. Dengan diversifikasi dan sinergi, kesejahteraan petani dan keberlanjutan pertanian bisa kita dorong bersama,” tutup Hamka. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x