
KAMURA.id—Buku yang lahir dari penelitian panjang ini hadir di tengah ingatan kolektif bangsa yang belum sepenuhnya pulih. Nama Sambas dan Sampit masih menyimpan getir: rumah-rumah yang dibakar, ribuan orang yang terusir, dan stigma yang melekat bertahun-tahun pada orang Madura di tanah rantau. Selama lebih dari dua dekade, peristiwa kelam itu lebih sering diceritakan sebagai katalog kekerasan—siapa membunuh siapa, berapa korban, kampung mana yang rata dengan tanah. Karya Abdur Rozaki ini menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak berhenti pada luka, melainkan bertanya: apa yang terjadi sesudahnya?
Pertanyaan itulah yang menjadi denyut Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca Konflik Etnik. Penulisnya bukan nama asing dalam kajian ke-Maduraan. Abdur Rozaki, kini guru besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah lama menekuni anatomi sosial pulau garam itu. Karya awalnya, Menabur Karisma, Menuai Kuasa (2004), membongkar relasi kiai dan blater sebagai “rezim kembar” yang menopang kekuasaan lokal—sebuah tesis yang, menurut pengakuan sejarawan Kuntowijoyo, memaksanya berpikir ulang tentang Madura. Belakangan, lewat Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial (2021), ia memperdalam kajiannya tentang bagaimana otoritas keagamaan, orang kuat lokal, dan perlawanan masyarakat sipil saling berkelindan.
Pada buku ini, fokus Rozaki bergeser dari Madura sebagai tanah asal ke Madura sebagai diaspora—orang-orang Madura yang merantau, terutama mereka yang harus menata kembali hidup setelah diempas konflik etnik di Kalimantan. Pergeseran fokus ini bukan sekadar perpindahan lokus geografis, melainkan perubahan cara pandang. Dari studi tentang kuasa di kampung halaman, ia beralih ke studi tentang ketahanan di perantauan.
Membaca konflik secara berlapis
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada penolakannya terhadap penjelasan tunggal. Konflik komunal di Kalimantan Barat, misalnya, tidak dibaca sebagai letupan yang berdiri sendiri di tahun 1997 atau 1999. Rozaki menariknya ke belakang, ke sejarah kekerasan yang panjang—dari masa kolonial, Orde Lama, hingga Orde Baru—sehingga peristiwa Bengkayang 1997, Sambas 1999, Sampit 2001, sampai ketegangan 2009 yang melahirkan Seruan Pontianak tampak sebagai mata rantai, bukan kejadian yang terputus.
Dari pembacaan berlapis itu, ia mengurai sedikitnya tiga pemicu utama. Pertama, benturan kultural: perbedaan adat, gaya hidup, dan cara berinteraksi yang gagal dijembatani. Kedua, kelemahan institusional: negara dan aparat yang absen, lamban, bahkan kerap memperkeruh keadaan alih-alih meredam. Ketiga, persaingan ekonomi: perebutan ruang hidup dan sumber daya yang membara di bawah permukaan sentimen etnis. Dengan kerangka ini, Rozaki menggeser titik berat analisis dari “perbedaan budaya” yang sering dijadikan kambing hitam menuju kegagalan struktural yang lebih mendasar. Suku-suku, dalam pembacaannya, sesungguhnya sama-sama menjadi korban.
Justru di sinilah letak keberanian buku ini. Ia menolak mereduksi tragedi menjadi soal “watak keras orang Madura” atau “kecemburuan orang lokal”—dua narasi usang yang selama ini melanggengkan prasangka. Konflik, bagi Rozaki, adalah produk dari sistem yang gagal, bukan takdir kultural sebuah etnis.
Dari korban menjadi setara
Bagian paling menggugah dari buku ini bukan pada kisah kehancuran, melainkan pada apa yang penulis sebut resiliensi, strategi, dan transformasi. Tiga kata itu menjadi poros yang menjelaskan bagaimana komunitas Madura yang terusir dan terstigma perlahan bangkit, menata ulang jejaring, dan menegosiasikan kembali tempatnya di tengah masyarakat.
Rozaki menunjukkan bahwa pasca-konflik bukanlah akhir cerita, tetapi titik mula sebuah mobilitas. Orang Madura di perantauan tidak tinggal sebagai korban yang pasrah. Mereka beradaptasi, berdagang, membangun usaha, merawat nilai-nilai keagamaan sebagai modal sosial, dan secara bertahap mampu menyetarakan diri di berbagai sektor. Stereotipe lama—Madura sebagai etnis yang identik dengan kekerasan—luruh seiring waktu, digantikan oleh citra komunitas yang ulet, mandiri, dan adaptif. Etos yang sama, yang dulu dibaca sebagai “keras”, kini terbaca sebagai daya tahan.
Di sinilah buku ini melampaui kajian konflik pada umumnya. Ia menawarkan tafsir tentang kapasitas manusia untuk pulih, sebuah perspektif yang langka dalam literatur kekerasan etnik di Indonesia yang cenderung berhenti pada dokumentasi penderitaan.
Buku ini bukan hanya tentang masa lalu yang gelap, tetapi tentang masa kini dan masa depan. Tentang bagaimana sebuah komunitas memilih untuk tidak dikutuk selamanya oleh lukanya sendiri.
Catatan dan relevansi
Tentu, karya seserius ini tidak luput dari keterbatasan. Pembacaan atas dinamika pasca-konflik bisa terasa lebih lengkap di sebagian wilayah ketimbang wilayah lain, dan suara generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa itu—Gen Z—masih menyisakan ruang untuk dieksplorasi lebih jauh. Pertanyaan kritis tentang resistensi yang belum sepenuhnya usai, seperti soal ruang tinggal bagi orang Madura di sejumlah daerah, mengingatkan bahwa pekerjaan rumah rekonsiliasi belum tuntas. Buku ini membuka percakapan itu, tetapi tidak mengklaim telah menyelesaikannya.
Apa pun keterbatasannya, kehadiran Diaspora Madura terasa penting, terutama bagi pembaca Madura sendiri. Di tengah upaya menempatkan Madura bukan sekadar sebagai pulau dengan beban masa lalu, melainkan sebagai komunitas yang memiliki daya cipta dan ketahanan, buku ini menyediakan landasan reflektif yang berharga. Ia menjadi jembatan bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung tragedi itu untuk memahami sejarahnya secara jernih dan tidak satu sisi.
Pada akhirnya, Rozaki sedang menulis sebuah pelajaran. Bahwa kekerasan komunal lahir dari sistem yang gagal, dan karena itu bisa dicegah. Dan bahwa sebuah etnis yang pernah dijatuhkan mampu berdiri kembali. Bukan dengan dendam, tetapi dengan resiliensi, strategi, dan transformasi. Sebuah angin segar bagi kajian ke-Maduraan, sekaligus pengingat bahwa masa depan yang damai harus dirawat secara sengaja.
Subairi Muzakki, Ketua Karsana Muda Madura (KAMURA)
Data Buku
Judul: Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca Konflik Etnik
Penulis: Abdur Rozaki
Penerbit: IRCiSoD, Yogyakarta
Tahun: 2026
Halaman: 314 hlmn

2 bulan lalu
Keren ulasan bukunya. Subairi Muzakki bukan hanya sebatas menulis resensi, tapi menjadikan buku yang dianggit oleh Rozaki lebih bernyawa. Nyawa buku ini mencapai titik urgensinya ketika membahas dan mengulas isu konflik. Bagaimanapun, Indonesia, yang terdiri dari banyak etnis dan secara geografis terbelah banyak pulau, tetap menjadi kawasan yang rawan konflik.