
Sumber gambar: rri.co.id KAMURA.id – Pemerintah Kabupaten Sampang menetapkan target produksi garam rakyat sebesar 325 ribu ton pada 2026, ditopang lahan tambak seluas 3.200 hektare.
Kepala Bidang Budi Daya dan Perikanan DKP Sampang, M. Mahfud, sebagaimana dilansir dari Madura Tribunnews, mengatakan pada Kamis (30/7/2026) bahwa cuaca yang mulai stabil menjadi modal utama untuk mencapai target tersebut. Saat ini, stok garam di Sampang tercatat sekitar 42 ribu ton.
Namun, optimisme itu belum sepenuhnya tercermin di tingkat petani. Sebab pada warta yang sama, disebutkan bahwa bagi petani garam di Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, harga garam kualitas satu masih bertahan di angka Rp50 ribu per sak berisi 70 kilogram. Setelah dipotong ongkos angkut sebesar Rp10 ribu per sak, pendapatan yang diterima petani hanya sekitar Rp40 ribu.
Kontras ini menunjukkan bahwa meningkatnya produksi belum serta-merta diikuti oleh meningkatnya kesejahteraan petani garam.
Produksi dan Pendapatan yang Tak Berbanding Lurus
Riset J. Suryanta dkk. (2026) melalui penelitiannya yang bertajuk Plans and Strategies for Adaptation to Climate Uncertainty for Traditional Salt Farmers on the Northern Coast of Java menemukan bahwa variabilitas iklim tetap menjadi komponen dominan dalam indeks kerentanan penghidupan petani garam, meski faktor cuaca sedang menguntungkan produksi.
Penelitian yang melibatkan 180 petani garam tradisional di pesisir utara Jawa menunjukkan bahwa cuaca yang sulit diprediksi menjadi persoalan terbesar yang mereka hadapi. Dibandingkan berbagai faktor lain, perubahan iklim paling besar pengaruhnya terhadap kerentanan usaha garam para petani.
Riset tersebut juga menunjukkan bahwa produksi yang kerap terganggu dan harga garam yang naik-turun memaksa banyak petani mencari sumber penghasilan lain. Ada yang menjadi nelayan, membudidayakan bandeng atau udang, bertani padi, hingga bekerja di sektor konstruksi dan jasa angkutan. Sementara itu, petani yang memiliki modal dan jaringan lebih luas memilih berdagang garam ke berbagai daerah. Bagi mereka, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan bukan lagi pilihan, melainkan cara bertahan ketika hasil tambak garam tidak lagi bisa sepenuhnya diandalkan.
Artinya, cuaca stabil di Sampang tahun ini tidak otomatis menghapus kerentanan struktural yang sudah lama melekat pada profesi ini, ia hanya meredakan satu variabel dari rangkaian tekanan yang jauh lebih rumit.
Dua Ketidakpastian
Temuan Tikkyrino Kurniawan dan tim (2026) dalam riset berjudul Patron–Client Relations as Livelihood Strategies among Small-Scale Coastal Salt Farmers in Indonesia memperkuat gambaran tersebut. Berdasarkan survei terhadap rumah tangga petani garam di pesisir Madura, penelitian itu menunjukkan bahwa petani garam skala kecil hidup di tengah dua ketidakpastian yang terus berulang: cuaca yang sulit diprediksi dan harga garam yang kerap berubah. Dua persoalan ini bukan sekadar muncul pada musim tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, penelitian itu juga menemukan bahwa tidak semua petani mampu menghadapi situasi tersebut dengan cara yang sama. Perbedaannya bukan pada besar-kecilnya risiko yang dihadapi, melainkan pada akses yang mereka miliki terhadap modal, pasar, dan jaringan pendukung. Sebagian petani bertahan melalui hubungan patron-klien, yakni bergantung pada pemilik modal atau pedagang yang bersedia memberikan pinjaman atau bantuan ketika kondisi sedang sulit.
Skema ini memang dapat membantu petani melewati masa-masa berat, tetapi ada harga yang harus dibayar. Mereka menjadi lebih bergantung pada patron dan memiliki ruang yang lebih sempit untuk menentukan sendiri kepada siapa garamnya akan dijual.
Keluhan Mohdi soal potongan ongkos angkut yang menggerus Rp40 ribu dari Rp50 ribu bukan kasus terisolasi. Ia adalah wajah dari struktur pasar garam rakyat yang sejak lama menempatkan petani sebagai penerima harga, bukan penentu harga.
Sampang boleh menargetkan 325 ribu ton dengan modal cuaca yang bersahabat. Tetapi target produksi dan harga jual berjalan di rel yang berbeda. Cuaca bisa diprediksi musim ke musim; harga garam rakyat, sebagaimana ditunjukkan dua riset di atas, ditentukan oleh rantai distribusi, kekuatan tawar, dan struktur pasar yang jauh lebih sulit diubah lewat kebijakan produksi semata. Selama pemangku kebijakan hanya mengejar angka produksi tanpa membenahi struktur harga dan distribusi, panen melimpah akan terus berakhir sebagai kabar baik yang tidak sampai ke dompet petani.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar