x

UNIBA dan Upaya Membangun SDM Demi Industrialisasi di Madura

waktu baca 4 menit
Rabu, 16 Sep 2026 22:06 21 Kamura

KAMURA.id – Senin siang, 14 September 2026, Aula Pesantren UNIBA Madura dipenuhi peserta Stadium General bertema industrialisasi kawasan Madura. Tiga pemateri datang dari dunia pelabuhan nasional. Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok Indra Hidayat Sani. Komisaris Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok Prakosaadi Takariyanto. Komisaris PT Pelabuhan Teluk Lamong Zainal Abidin Amir.

Mereka membawa angka, teknologi, dan pengalaman operasional pelabuhan besar ke ruang kuliah.

Indra memaparkan soal pengaturan arus barang di pelabuhan. Material tidak boleh menumpuk terlalu lama sebelum kapal tiba.

“Barang hanya boleh masuk paling cepat seminggu sebelum kapal datang atau lima hari sebelum kapal datang supaya barangnya tidak lama-lama numpuk di pelabuhan,” ujarnya.

Ia juga menyebut teknologi Drop Tank dengan Submersible Pump untuk muatan curah seperti CPO. Teknologi ini menaikkan produktivitas hingga dua kali lipat. Port stay dipangkas hingga 50 persen. Kinerja PTP Nonpetikemas pada semester I 2026 tercatat 26.799.777 ton/m³. Angka itu 108 persen dari target, naik 20 persen dari tahun sebelumnya.

Prakosa dan Zainal Abidin melengkapi dari sisi strategis. Lokasi kawasan industri harus dekat sumber daya. Ukuran pelabuhan harus sesuai kebutuhan. Infrastruktur harus disiapkan bertahap. Keduanya menekankan sinkronisasi antara pertumbuhan kawasan industri dan arus barang.

Garam menjadi komoditas yang paling banyak disinggung. Madura punya basis produksi garam besar. Selama ini garam hanya dijual sebagai bahan mentah. Hilirisasi, dari produksi sampai distribusi, disebut sebagai jalan untuk menaikkan nilai ekonominya. Potensi maritim lain seperti perikanan, energi, dan konektivitas antarpulau membutuhkan dukungan serupa.

Tantangannya juga jelas. Angkutan sering terlambat. Moda transportasi terbatas. Waktu tempuh panjang. Infrastruktur jalan belum memadai. Pengembangan Pelabuhan Kalianget disebut penting untuk memperkuat konektivitas Sumenep dengan wilayah kepulauan. Pelabuhan ini juga akan mendukung ekonomi Madura Timur.

Segala keterangan di atas mengerucut pada tantangan perihal siapa yang akan mengisi ekosistem industrialisasi Madura ke depan. Di titik inilah posisi UNIBA Madura, sebagai penyelenggara acara sekaligus tuan rumah gagasan ini, layak dibaca lebih dalam.

Kampus Sebagai Mitra Ekosistem

Rektor UNIBA Madura, Rachmad Hidayat, menegaskan posisi perguruan tinggi dalam proses ini.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading. Kami harus masuk ke dalam ekosistem industrialisasi, menyiapkan talenta yang benar-benar dibutuhkan industri, dan menjadi mitra strategis dalam riset serta inovasi teknologi,” paparnya.

Ucapan Pak Rektor ini bukan basa-basi seremonial. Ini peta kebutuhan tenaga kerja yang konkret. Ketika Indra berbicara soal efisiensi port stay dan Drop Tank, ia sedang menggambarkan kebutuhan tenaga teknis spesifik. Operator sistem logistik. Insinyur yang memahami teknologi penanganan curah. Tenaga administrasi rantai pasok yang bisa membaca ritme kedatangan kapal.

Ketika Prakosa dan Zainal Abidin membicarakan sinkronisasi kawasan industri dengan arus barang, mereka menunjuk kebutuhan lain. Perencana wilayah. Ahli logistik yang paham karakter lokal Madura. Bukan sekadar lulusan generik dari mana saja.

Maka menarik untuk melihat posisi yang diambil oleh UNIBA. Berdasarkan ungkapan Rachmad, Madura tidak boleh hanya menjadi penonton dari proses industrialisasi yang digagas pihak luar. Mereka harus menjadi penyedia bahan bakar sumber dayanya.

Rachmad menyebut investor tidak hanya melihat kekayaan sumber daya alam. Investor juga melihat kesiapan ekosistem, infrastruktur, SDM, dan teknologi. Kalimat ini meletakkan kampus sebagai salah satu prasyarat investasi. Sejajar dengan pelabuhan dan jalan raya. Bukan pelengkap di belakangnya.

Soal garam bisa menjadi contoh konkret. Hilirisasi garam yang disinggung dalam Stadium General membutuhkan riset pemurnian, teknologi pengolahan, dan rantai distribusi yang efisien. Tanpa keterlibatan kampus dalam riset terapan di bidang ini, hilirisasi hanya akan menjadi wacana yang diulang di setiap forum. Tidak pernah benar-benar terjadi di lapangan.

Yang belum terjawab dari forum ini adalah mekanisme konkret. Misalnya ketika berbicara soal kesiapan menjadi mitra. Belum ada penjelasan rinci tentang kurikulum apa yang akan diubah. Program studi mana yang akan disesuaikan. Skema magang seperti apa yang akan dibangun bersama perusahaan pelabuhan yang hadir hari itu. Klaim kesiapan tanpa peta jalan tetap berisiko berhenti sebagai pernyataan sikap.

Industrialisasi Madura, sebagaimana dipaparkan dalam forum ini, bertumpu pada tiga kaki. Infrastruktur pelabuhan. Hilirisasi komoditas. Kesiapan sumber daya manusia.

Dua kaki pertama sudah punya angka dan proyek yang bisa diukur. Kaki ketiga, yang menjadi tanggung jawab institusi seperti UNIBA, masih bertumpu pada niat baik. Niat baik itu perlu segera diterjemahkan menjadi program nyata. Sebelum kapal-kapal industrialisasi itu berangkat tanpa cukup awak dari Madura sendiri.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x