x

Penurunan Harga Tiket dan Misi Menyatukan Empat Kabupaten

waktu baca 4 menit
Jumat, 4 Sep 2026 11:32 54 Kamura

KAMURA.id – Minggu (6/9/2026) malam, gerbang Stadion Gelora Madura Rato Pemelingan di Pamekasan akan dibuka untuk laga perdana Madura United di kompetisi Super League 2026-2027.

Laskar Sape Kerrab akan menjamu Persijap Jepara pada pukul 19:00 WIB.

Ada yang berbeda dari laga kandang kali ini dibanding musim-musim sebelumnya. Tiket kategori ekonomi yang biasa dijual Rp50 ribu kini hanya Rp30 ribu.

Selisih Rp20 ribu itu tampak kecil di atas kertas. Namun bagi petani, nelayan, dan buruh yang tersebar di Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, selisih tersebut bisa berarti perbedaan antara menonton dari layar telepon genggam atau berdiri langsung di tribun.

Manajemen Madura United menempatkan kebijakan itu sebagai bagian dari strategi memperluas jangkauan sepak bola.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, menyampaikan alasan di balik keputusan tersebut.

“Keputusan menurunkan harga tiket (kategori ekonomi) kami lakukan agar akses masyarakat Madura terhadap sepakbola semakin luas, sehingga kami putuskan untuk menurunkan harga tiket. Tentu dengan harapan hal ini bisa membuat jangkauan suporter dan masyarakat Madura bisa lebih luas lagi,” katanya, Kamis (3/9/2026).

Harga tiket VIP dan VVIP tetap dipatok pada angka normal, masing-masing Rp100 ribu dan Rp150 ribu.

Ini adalah penegas bahwa penurunan harga di kategori ekonomi memang dirancang khusus untuk menjangkau kalangan yang selama ini paling rentan tersingkir dari bangku stadion.

Penurunan Harga Tiket sebagai Politik Keberpihakan

Penurunan harga tiket kerap dibaca sebagai kalkulasi bisnis semata.

Logikanya sederhana: menurunkan harga demi menaikkan volume penonton, dengan asumsi kenaikan jumlah tiket terjual akan menutup selisih harga per lembar.

Logika itu tidak salah. Tetapi ia hanya menjelaskan sebagian kecil dari keputusan ini.

Pernyataan Achsanul menempatkan kebijakan tersebut dalam kerangka yang lebih luas, yakni sepak bola sebagai hak yang seharusnya dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat Madura.

“Sepak bola dan Madura United merupakan sajian untuk semua kalangan, kami ingin merangkul semuanya,” ungkapnya.

Musim 2026-2027 akan menghadirkan 17 laga kandang bagi Laskar Sape Kerrab. Setiap laga kandang adalah kesempatan bagi manajemen untuk menegaskan ulang komitmen tersebut.

Sebaliknya, setiap tribun yang penuh adalah bukti bahwa kebijakan harga murah benar-benar menjawab kebutuhan riil suporter.

Achsanul menyampaikan harapannya secara langsung terkait hal ini.

“Semoga pada laga kandang pertama hingga ke-17, Hugo Gomes cs dapat dukungan berarti dari pemain ke-12,” harapnya.

Istilah “pemain ke-12” bukan basa-basi gombal. Dalam sepak bola modern, kehadiran fisik suporter di tribun terbukti memengaruhi tekanan psikologis terhadap tim tamu.

Kehadiran itu juga membentuk kepercayaan diri tim tuan rumah, bahkan turut memengaruhi keputusan wasit di titik-titik krusial pertandingan.

Harga tiket yang terjangkau, dengan demikian, adalah instrumen taktis sekaligus sosial. Ia mengonversi kemampuan ekonomi masyarakat menjadi energi di lapangan.

Stadion sebagai Ruang Peleburan Identitas

Argumen yang lebih dalam dari kebijakan ini terletak pada bagaimana manajemen memaknai fungsi stadion itu sendiri.

Stadion, dalam pandangan Achsanul, tidak berhenti sebagai bangunan tempat 22 pemain mengejar bola.

Ia dirancang sebagai ruang bersama, tempat masyarakat Madura dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep duduk berdampingan.

Di ruang itu, mereka melebur dalam satu sorak, terlepas dari perbedaan yang biasanya memisahkan mereka di ruang sosial lain.

Penjelasan Achsanul soal makna nama klub memperkuat argumen ini.

“Kata United bukan hiasan nama. Ia adalah pesan. Ia adalah ikhtiar menyatukan empat kabupaten, menyatukan orang Madura di pulau dan di rantau, menyatukan mereka yang mungkin berbeda pilihan politik, berbeda kabupaten, berbeda latar sosial, tetapi kami bisa berdiri dalam satu sorak untuk Madura. Itulah kenapa kami menghargai sepak bola seutuhnya,” ujarnya.

Pernyataan itu menautkan sepak bola dengan sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam dari kompetisi liga, yakni kebutuhan akan identitas kolektif yang mengatasi sekat administratif empat kabupaten.

Madura, secara historis, tidak pernah benar-benar tunggal secara politik maupun sosial. Rivalitas antarkabupaten, perbedaan dialek, dan jarak geografis kerap menjadi penghalang solidaritas lintas wilayah.

Dalam konteks itu, tribun SGMRP yang dipenuhi suporter dari empat penjuru pulau menjadi semacam eksperimen sosial yang berhasil.

Di tribun itu, identitas kedaerahan sementara melebur ke dalam identitas yang lebih besar, yakni identitas sebagai orang Madura yang berdiri untuk timnya sendiri.

Harga tiket ekonomi yang kini lebih terjangkau memastikan eksperimen sosial itu tidak eksklusif bagi mereka yang mampu.

Kebijakan ini menempatkan buruh, petani, nelayan, dan pedagang kecil pada posisi setara dengan siapa pun di tribun ekonomi.

Mereka ikut menyaksikan langsung perjuangan Hugo Gomes dan kawan-kawan, ikut menyumbang sorak yang oleh Achsanul disebut sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan tim.

Ketika laga pertama melawan Persijap Jepara bergulir pada Minggu malam nanti, yang dipertaruhkan bukan sekadar tiga poin pembuka musim. Yang dipertaruhkan adalah pembuktian bahwa kebijakan yang berpihak pada akses masyarakat dapat berjalan seiring dengan ambisi kompetitif sebuah klub sepak bola profesional.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x