x

Kiai Basith, Sang Pemikir Metropolis yang Membawa Dunia Pulang ke Annuqayah

waktu baca 4 menit
Jumat, 14 Agu 2026 12:51 643 Kamura

Suatu hari, seorang wartawan bertanya kepada Kiai Abdul Basith tentang buku-buku yang pernah ia tulis. Jawabannya mengejutkan justru karena kerendahannya: ada begitu banyak karangan yang telah dibukukan, katanya, sampai-sampai lupa apa saja yang pernah ia tulis.

Kalimat itu adalah potret paling jujur tentang seorang kiai yang menulis bukan untuk dikenang, melainkan karena menulis telah menjadi cara hidupnya. Bagi Kiai Basith, sebuah karya cukup ditunaikan, lalu dilepaskan. Selebihnya urusan pembaca dan Tuhan.

Kamis malam, 13 Agustus 2026, bertepatan dengan masuknya bulan kelahiran Nabi, kiai sepuh itu berpulang. KH. Abdul Basith bin Abdullah Sajjad, salah satu masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, wafat dalam usia 82 tahun.

Ia dimakamkan malam itu juga, atas keinginan terakhirnya, di dekat pusara sang ayah. Seakan ingin menutup perjalanan panjangnya di titik ia memulainya.

Ia lahir pada 4 Juni 1944, putra kedua Kiai Abdullah Sajjad, pengasuh Annuqayah Latee yang gugur ditembak tentara Belanda pada 1947 dalam keadaan hendak salat, dengan istri keduanya, Nyai Aminah binti Kiai Abu Ahmad.

Basith kecil tumbuh dalam bayang-bayang seorang ayah pahlawan yang nyaris tak sempat ia kenang. Ilmu agama ia serap dari kakak-kakaknya, terutama dari sang kakak, Kiai Ahmad Basyir, sebelum ia mengembara menuntut ilmu hingga ke Jombang.

Tetapi yang membuat Kiai Basith istimewa bukan sekadar garis keturunan pesantren yang kental itu. Dari lingkungan salaf yang cenderung menutup diri, lahir seorang kiai dengan cara berpikir yang, meminjam istilah yang melekat padanya sejak muda, metropolis dan inklusif.

Ia tak canggung melintasi batas. Ketika banyak kiai sezamannya merasa cukup dengan dunia pesantren, Basith muda justru mondar-mandir ke Bangkok, Chiang Mai, hingga Bangladesh dan Nepal. Negeri-negeri yang sebagian besar bukan negeri Muslim.

Di sinilah kisahnya bersambung dengan sesuatu yang, bila kita jujur, jarang dilekatkan pada seorang kiai kampung: dunia gerakan dan lembaga pemikiran.

Kiai Basith adalah salah seorang santri yang menempuh pelatihan pengembangan masyarakat di LP3ES — lembaga penelitian dan pengembangan yang pada 1970-an dan 80-an menjadi salah satu kawah pemikiran pembangunan Indonesia. Ia bahkan sempat aktif di LP3ES pusat, Jakarta.

Dari sanalah pertemuannya dengan tokoh-tokoh seperti Nasihin Hasan dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengantarnya ikut mendirikan ACFOD, sebuah forum lintas negara untuk pembangunan yang berbasis di Bangkok.

Bayangkanlah: seorang putra kiai dari desa di pedalaman Sumenep, di sebuah masa ketika bepergian ke Jakarta saja sudah merupakan perkara besar, duduk membicarakan pembangunan masyarakat bersama para aktivis dari berbagai bangsa.

Bagi Kiai Basith, pesantren bukan tembok yang mengurung, melainkan pijakan untuk menjangkau dunia, lalu membawa dunia itu pulang ke Annuqayah.

Dan ia benar-benar membawanya pulang. Jejaring dengan lembaga-lembaga asing itu tidak ia simpan sebagai kebanggaan pribadi; ia terjemahkan menjadi bangunan nyata.

Melalui kerja sama itu, berdirilah taman kanak-kanak dan madrasah ibtidaiyah di lingkungan pesantrennya, dan sejumlah bangunan Annuqayah direnovasi. Pemberdayaan, di tangan Kiai Basith, bukan konsep yang muluk. Ia adalah ruang kelas untuk anak-anak desa, atap yang tak lagi bocor, dan kesempatan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Di sela semua itu, ia tak pernah berhenti menulis. Karya pertamanya, sebuah kamus peribahasa tiga bahasa, ia tulis pada era 1960-an, meski baru dibukukan puluhan tahun kemudian.

Menyusul kemudian himpunan hadis pilihan, kumpulan zikir dan doa, dan sebuah tafsir Surah Yasin yang mulanya ia gubah dalam tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Arab, dan Inggris.

Ia juga mendirikan dan mengasuh sebuah majalah pesantren, merawat tradisi tulis-menulis di tempat yang tak selalu ramah pada aktivitas semacam itu. Sebagian karyanya kini tersimpan sebagai arsip di pascasarjana kampus yang tumbuh dari rahim pesantrennya sendiri.

Ia menulis dalam keadaan yang jauh dari nyaman. Lebih dari dua dekade ia hidup bersama diabetes; bertahun-tahun terakhir ia tak lagi bisa berjalan setelah serangan stroke.

Namun tangannya, dibantu putra dan putrinya, terus bergerak. Ada semacam keteguhan yang tenang di sana, keteguhan seorang yang meyakini bahwa mengabadikan kebaikan justru dilakukan dengan cara tidak mengingat-ingatnya.

Hari ini, Madura kehilangan salah satu penjaga tradisi ilmunya. Tetapi barangkali cara terbaik mengenang Kiai Basith bukanlah dengan menghitung berapa banyak buku yang ia tinggalkan,  melainkan dengan meneladani semangat di baliknya: bahwa ilmu harus ditulis, jejaring harus dibangun, dan segala yang baik bagi masyarakat harus diperjuangkan, dari desa yang paling jauh sekalipun.

Ia telah pulang ke pangkuan ayah yang dulu ditinggalkannya terlalu cepat. Dan seperti semua orang yang hidupnya diisi dengan memberi, ia justru terasa semakin hadir setelah tiada.

Selamat jalan, Kiai.

Lahu al-Fatihah.

 

Subairi Muzakki

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x