x

Tentang Anak Muda Madura yang Merantau dan Kebijakan yang Tak Berpihak

waktu baca 4 menit
Senin, 26 Jan 2026 21:50 134 Kamura

KAMURA.id – Merantau di kalangan anak muda Madura (yang masih tergolong usia produktif) kerap dibaca sebagai bagian dari kebiasaan lama, semacam takdir kultural yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, jika kita menahan diri sejenak dan melihatnya lebih dekat, merantau hari ini tidak tampak sebagai soal tradisi, dan lebih sebagai penanda kegagalan yang bersifat struktural. It’s simply a way to survive!

Tak banyak anak-anak muda yang pergi hanya karena dorongan romantik untuk menjajal dunia. Banyak di antara mereka yang merantau karena daerah asal tak menyediakan ruang hidup yang cukup lapang untuk bertahan dan tumbuh. Inilah alasan mengapa banyak di antara mereka yang memutuskan tidak pulang pasca merantau.

Di wilayah kepulauan seperti Pulau Talango, keadaan ini terlihat terang-benderang: desa perlahan kehilangan tenaga produktifnya, sementara regenerasi ekonomi berjalan tersendat, seolah waktu sengaja diperlambat. Dikutip dari RRI.co.id, melalui program Halo RRI, keluhan seorang warga bernama Syaiful dari Desa Padike, Kecamatan Talango, tentang minimnya job fair, sesungguhnya hanya membuka lapisan terluar dari masalah yang lebih dalam. Di bawahnya, ada persoalan klasik yang tak kunjung selesai: ketiadaan lapangan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

“Job fair kok jarang ada di Madura, beneran jarang atau infonya yang tidak menyebar dengan baik?” ujar Syaiful, Jumat (23/01/2026).

Dalam konteks seperti ini, keputusan anak muda untuk merantau justru tampak rasional. Bertahan di kampung halaman sering berarti berdamai dengan pekerjaan informal, penghasilan pas-pasan, dan masa depan yang tak pernah benar-benar bisa direncanakan.

Lemahnya Kebijakan yang Menjadi Akar Persoalan

Gambaran ini sejalan dengan temuan penelitian di Desa Banyuajuh, Bangkalan, sebagaimana diuraikan dalam jurnal Poverty and Agriculture: An Exploration the Causes of Poverty of Farmers (2024). Penelitian yang dilakukan Kurniyanto dan kawan-kawan itu menunjukkan bahwa kemiskinan di Madura bukan bersumber dari ketiadaan potensi, melainkan dari rapuhnya sistem yang seharusnya menopang pemanfaatan potensi tersebut. Masalahnya bukan pada manusia, bukan pula pada alam, melainkan pada kebijakan yang gagal membaca dan mengelola keduanya.

Artikel jurnal tersebut cukup telaten mengurai faktor-faktor yang menyuburkan kemiskinan: sulitnya akses pembiayaan, menyusutnya lahan pertanian, menurunnya kesuburan tanah, hingga minimnya infrastruktur dan subsidi. Namun, ketika sampai pada rekomendasi, penelitian ini justru berhenti terlalu cepat. Optimalisasi dana KUR, pemanfaatan AUTP, serta pemberdayaan perempuan memang penting, tetapi semuanya belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam dan lebih politis.

Narasi semacam ini memang akrab di telinga ketika Madura dibicarakan. Ada pula anggapan lama tentang kondisi ekologis yang dianggap gersang dan tidak bersahabat bagi pertanian. Padahal, riset lain—termasuk yang dilakukan KAMURA pada 2025—menunjukkan sebaliknya. Meski menghadapi penurunan kesuburan tanah dan penyempitan lahan, Madura tetap memiliki potensi pertanian yang besar, terutama pada komoditas tembakau. Fakta ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana: tidak ada iklim yang benar-benar buruk; yang ada hanyalah ketiadaan riset, inovasi, dan kebijakan yang bekerja dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, penyebab utama kemiskinan petani semestinya ditelusuri pada persoalan akses: akses terhadap pembiayaan, infrastruktur, teknologi, dan perlindungan negara. Kemiskinan bukanlah hukum alam, melainkan hasil dari kebijakan yang tidak berpihak. Ketika akses-akses itu tertutup, potensi sebesar apa pun hanya akan tinggal potensi: diam, menunggu, dan akhirnya dilupakan.

Situasi ini berkait langsung dengan problem ketenagakerjaan di Madura secara lebih luas. Tanpa industri pengolahan, tanpa riset yang mendorong produktivitas, dan tanpa keberanian kebijakan untuk membangun ekosistem ekonomi dari hulu ke hilir, lapangan kerja tak pernah benar-benar tumbuh. Maka, anak muda terus pergi, sementara desa kehilangan denyut produktifnya sedikit demi sedikit.

Tembakau, Pabrik Rokok Rakyat, dan Peluang yang Belum Ditopang Serius

Seperti telah disinggung, di tengah anggapan tentang ekologi yang bermasalah, Madura justru dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas tinggi. Ini kembali menegaskan satu argumen penting: alam Madura bukan hambatan, melainkan peluang.

Sayangnya, peluang ini terlalu lama dibiarkan berjalan sendiri, tanpa riset dan kebijakan yang memadai. Industri tembakau lebih banyak memberi keuntungan bagi pihak luar, sementara Madura tetap berada di posisi sebagai pemasok bahan mentah dan tenaga kerja.

Kemunculan pabrik rokok rakyat dalam beberapa tahun terakhir memberi tanda kehidupan yang baru. Industri ini mulai membuka lapangan pekerjaan, menyerap tenaga kerja lokal, dan (meski masih terbatas) memberi alasan bagi sebagian anak muda untuk tidak segera merantau. Ia menunjukkan bahwa ketika potensi lokal dikelola lebih dekat dengan masyarakat, dampaknya terasa langsung.

Namun, denyut yang tumbuh dari akar rumput dan masih bersifat parsial ini tidak akan bertahan lama tanpa sokongan kebijakan yang kuat. Tanpa kemudahan akses pembiayaan, tanpa riset pertanian dan industri yang serius, serta tanpa perlindungan negara bagi pelaku usaha kecil, pabrik rokok rakyat akan tetap menjadi pengecualian, bukan fondasi pembangunan.

Pada titik ini, persoalan Madura menjadi terang: bukan soal budaya merantau, bukan pula soal alam yang gersang, melainkan lemahnya kebijakan yang menopang kemajuan.

Selama riset, industrialisasi, dan kebijakan publik tidak berjalan seiring, Madura akan terus menjadi wilayah yang kaya potensi tetapi miskin realisasi. Dan selama itu pula, anak-anak mudanya akan terus pergi, bukan karena ingin meninggalkan Madura, melainkan karena Madura belum sungguh-sungguh dihadirkan sebagai ruang masa depan. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x