x

Riset dan Inovasi: Kunci Penguatan Peternakan dan Pertanian di Madura

waktu baca 4 menit
Minggu, 21 Des 2025 16:45 216 Kamura

KAMURA.id – Madura sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra sapi rakyat di Jawa Timur. Riset ilmiah seperti yang dilakukan Hubb De Jonge dan Kuntowijoyo menunjukkan bahwa sapi bagi masyarakat Madura, bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat.

Namun, di balik potensi tersebut, peternakan dan pertanian Madura menghadapi tantangan struktural yang kian mendesak: ketergantungan pada alam yang semakin tidak menentu, kerentanan terhadap kekeringan, serta keterbatasan inovasi di tingkat petani dan peternak rakyat.

Dalam konteks inilah, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Ketahanan pakan ternak, sebagaimana ditunjukkan oleh Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) Kemendikbudristek di Desa Dumajah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan berbasis riset dan teknologi dapat menjawab persoalan mendasar peternakan Madura.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2025 di wilayah mitra. Program yang diusung berjudul “Akselerasi Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani-Peternak Sapi Madura di Kabupaten Bangkalan”.

Ketahanan Pakan

Musim kemarau selalu menjadi fase krusial bagi peternak sapi Madura. Penurunan ketersediaan hijauan membuat peternak harus mencari pakan alternatif dengan biaya lebih tinggi, yang pada akhirnya menekan margin usaha. Ketergantungan pada pola alam yang fluktuatif ini menunjukkan lemahnya sistem ketahanan pakan di tingkat desa.

Program PTTI yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku silase menawarkan solusi sistemik. Limbah seperti jerami, tongkol jagung, dan kulit ketela yang sebelumnya terbuang kini diolah menjadi pakan ruminansia yang lebih awet, terstandar, dan tersedia sepanjang tahun. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi kelangkaan pakan saat kemarau, tetapi juga mengurangi pemborosan sumber daya lokal.

Yang lebih penting, pendampingan tidak berhenti pada pelatihan sesaat. Model produksi pakan berbasis desa dengan prosedur operasi standar, peralatan memadai, serta pembagian peran hulu–hilir antar kelompok tani menunjukkan bahwa inovasi harus dilembagakan agar berkelanjutan. Hasilnya nyata: peningkatan pertambahan bobot badan sapi dan perbaikan performa reproduksi, yang langsung berdampak pada efisiensi usaha peternakan rakyat.

Inovasi Pertanian: Pupuk, Air, dan Adaptasi Iklim

Di sisi lain, ketahanan pakan tidak bisa dilepaskan dari ketahanan pertanian. Pertanian Madura menghadapi persoalan yang serupa: tanah yang relatif kering, curah hujan yang tidak menentu, serta produktivitas lahan yang kerap stagnan. Oleh karena itu, riset dan inovasi di sektor pertanian sama mendesaknya dengan inovasi peternakan.

Pemanfaatan feses sapi sebagai kompos, sebagaimana dilakukan dalam program ini, merupakan langkah awal menuju pertanian sirkular. Pupuk organik dari limbah ternak dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas simpan air, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan sering langka. Ke depan, riset lanjutan diperlukan untuk mengembangkan formulasi pupuk organik yang lebih spesifik sesuai karakter tanah Madura.

Selain pupuk, solusi terhadap kemarau panjang juga perlu menjadi fokus riset. Teknologi sederhana seperti embung desa, sumur resapan, irigasi tetes skala kecil, hingga pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan dapat menjadi penopang utama produktivitas pertanian. Di sisi lain, ketika cuaca tidak menentu (hujan datang terlambat atau terlalu lebat) petani membutuhkan sistem peringatan dini iklim, kalender tanam adaptif, dan pendampingan berbasis data cuaca lokal.

Riset dan Inovasi sebagai Jalan Kesejahteraan

Pengalaman di Desa Dumajah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan menunjukkan bahwa riset dan inovasi tidak harus selalu berskala besar atau berbasis teknologi canggih. Justru inovasi yang berakar pada kearifan lokal, memanfaatkan sumber daya sekitar, dan dikelola secara kolektif oleh kelompok tani memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Urgensi inovasi di Madura bukan semata untuk meningkatkan produktivitas, tetapi untuk menjaga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Ketika pakan ternak terjamin, biaya usaha menurun. Ketika lahan pertanian subur dan adaptif terhadap iklim, risiko gagal panen berkurang. Dan ketika limbah diolah menjadi input produksi, nilai tambah tercipta di tingkat desa.

Ke depan, tantangan Madura akan semakin kompleks seiring perubahan iklim dan tekanan ekonomi. Oleh karena itu, replikasi model pendampingan berbasis riset, penguatan kapasitas kelompok tani, serta kolaborasi lintas disiplin menjadi agenda yang tidak bisa ditunda. Inovasi yang terencana, terukur, dan kontekstual adalah kunci agar peternakan dan pertanian Madura tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi fondasi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x