
Sumber gambar: Arsip Pribadi KAMURA.id – Seberapa banyak di antara generasi muda Madura (antara Generasi Z dan Alpha) yang saat ini familiar dengan cerita tentang Pangeran Trunojoyo; atau Ki Lesap, Bendoro Gung (Potre Koneng), serta Raden Segoro? Meski ada, saya yakin jumlahnya tidak banyak. Pasalnya adalah mandeknya tradisi sastra lisan daerah yang semestinya bisa diwariskan antar generasi.
Cerita rakyat menyimpan cetak biru bagaimana sebuah komunitas terbentuk: siapa yang dihormati, nilai apa yang dijaga, dan batas moral apa yang disepakati bersama. Norwegia menjadi contoh bagaimana warisan lisan bisa ditarik kembali ke permukaan. Artikel The New York Times berjudul Norway Again Embraces the Vikings, Minus the Violence mencatat bagaimana masyarakat Norwegia menggali ulang nilai-nilai yang dibawa leluhur Viking mereka, lalu menumbuhkannya pada generasi berikutnya bukan sebagai romantisme kekerasan, melainkan sebagai fondasi identitas kolektif.
Di Madura, upaya semacam itu belum menjadi gerakan besar. Tapi bibitnya ada. Buku Mozaik Careta Dari Madhura: Antologi Cerita Rakyat Para Penghuni Pulau Madura (2019), ditulis oleh Iqbal Nurul Azhar, Hani’ah, dan Erika Citra Sari H., menghimpun 75 cerita yang hidup di tengah masyarakat Madura, dari Bangkalan hingga Sumenep, dengan bantuan tim pengumpul cerita di masing-masing wilayah.
Cerita Rakyat sebagai Cermin Identitas
Georg Quinn, sarjana dari Australian National University yang menulis kata pengantar buku ini, menegaskan bahwa cerita rakyat memiliki peran yang tidak sekadar hiburan dalam kehidupan modern. Di dalamnya termaktub corak identitas, kultur, dan orientasi kelompok tempat cerita itu hidup dan diwariskan.
Quinn merujuk kisah Bendoro Gung atau Potre Koneng, anak bangsawan dari salah satu kerajaan di Jawa yang diusir oleh ayahnya sendiri karena hamil di luar nikah, hingga akhirnya terdampar di pulau yang kini disebut Madura. Dari kisah ini, peran perempuan tampil sentral dalam struktur naratif masyarakat Madura. Quinn, dengan merujuk pandangan sejumlah pakar, bahkan menyebut Madura pra-Islam sebagai masyarakat yang cenderung matriarkis, sebanding dengan sistem kekerabatan di Padang, Sumatera Barat.
Klaim ini layak dibaca dengan hati-hati, sebab sistem matriarkis dalam antropologi biasanya merujuk pada garis keturunan dan pewarisan yang ditarik dari pihak ibu, bukan semata dominasi perempuan dalam narasi. Namun justru di titik itulah cerita Bendoro Gung menjadi berharga: ia menjadi jejak tekstual yang memperlihatkan posisi perempuan sebelum struktur sosial-keagamaan berikutnya membentuk ulang relasi gender di Madura.
Cerita yang sama juga menyiratkan konsep keperawanan sebagai simbol kesucian yang dibebankan secara sepihak kepada perempuan. Konsep ini tidak melekat dengan bobot yang sama pada laki-laki.
Ketimpangan simbolik semacam ini bukan sekadar detail naratif. Ia memperlihatkan bagaimana norma moral dikonstruksi secara asimetris sejak lama, dan bagaimana cerita rakyat merekam ketimpangan itu tanpa harus menghakiminya secara eksplisit.
Di sinilah cerita rakyat bekerja sebagai arsip sosial: ia menyimpan struktur nilai yang mungkin sudah bergeser, tapi jejaknya tetap bisa dibaca ulang oleh generasi sesudahnya untuk memahami dari mana mereka berasal.
Ancaman Kepunahan dan Jalan Pelestarian
Nilai-nilai seperti itu akan lenyap begitu saja apabila cerita rakyat berhenti diwariskan. Generasi muda Madura hari ini jauh lebih akrab dengan Lancelot, Alucard, atau Sinterklas, tokoh-tokoh yang mereka kenal lewat game online dan media sosial, dibanding dengan Trunojoyo atau Ki Lesap yang semestinya menjadi bagian dari kesadaran kolektif mereka sendiri.
Tokoh-tokoh lokal ini mangkir bukan karena kalah menarik, melainkan karena tidak ada upaya sistematis menjembatani mereka ke generasi penerus.
Kekosongan ini punya konsekuensi jangka panjang. Ketika ruang naratif generasi muda diisi sepenuhnya oleh cerita dari luar, ikatan mereka terhadap sejarah dan nilai lokal ikut menipis. Identitas kultural tidak hilang dalam satu malam, ia terkikis pelan lewat generasi yang tidak lagi punya rujukan cerita untuk memahami asal-usulnya sendiri.
Mozaik Careta Dari Madhura, yang diterbitkan Intelegensia Media pada 2019 dengan tebal 410 halaman, menjadi salah satu ikhtiar penting menahan erosi itu. Namun satu buku tidak cukup untuk menghidupkan kembali tradisi lisan yang sudah lama mandek. Ia perlu menjadi pemantik, bukan titik akhir, bagi kajian-kajian lanjutan, adaptasi ke bentuk yang lebih dekat dengan generasi muda, maupun masuknya cerita rakyat ke ruang pendidikan lokal.
Tradisi lisan Madura menyimpan kisah tentang Pangeran Trunojoyo, Ki Lesap, Bendoro Gung, dan Raden Segoro bukan sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan sebagai catatan panjang tentang siapa masyarakat Madura sesungguhnya. Selama catatan itu tidak diwariskan, generasi baru akan terus tumbuh tanpa mengenal wajah mereka sendiri.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar