x

Transformasi Pantai Pasir Putih Tlangoh Lawan Abrasi dan Bangun Ekonomi

waktu baca 3 menit
Selasa, 23 Des 2025 13:53 274 Kamura

KAMURA.id – Apa jadinya jika pasir putih yang menjadi kebanggaan sebuah desa perlahan hilang digerus laut? Pertanyaan itu kerap menghantui warga Desa Tlangoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Pantai Pasir Putih Tlangoh memang memikat mata, tetapi di balik hamparan pasirnya, abrasi terus bekerja dalam senyap.

Ancaman itu terukur. Kajian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencatat, laju abrasi di Pantai Pasir Putih Tlangoh sempat mencapai hingga tujuh meter per tahun. Setiap musim, garis pantai bergeser, seolah mengingatkan bahwa keindahan alam tidak pernah benar-benar abadi tanpa upaya menjaga.

Lalu, apakah pantai ini akan rusak dan lenyap? Warga Tlangoh memilih menjawabnya dengan kerja bersama. Didampingi Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), masyarakat membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Seperti dikutip dari Media Indonesia, kelompok ini tidak sekadar mengelola wisata, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama: bagaimana merawat pesisir sekaligus membuka peluang ekonomi.

Upaya itu diperkuat dengan inovasi pemecah gelombang berbentuk heksagonal, hexa reef. Struktur beton ini diletakkan di laut, berfungsi menahan hantaman ombak agar abrasi tidak terus menggerus daratan. Program tersebut sempat terhenti akibat pandemi covid-19, sebelum kembali dilanjutkan setelah dilakukan penyesuaian rencana strategis.

Hadirnya teknologi ini sangat memabantu untuk menghalau abrasi. Zainudin, pengurus Pokdarwis Pantai Pasir Putih Tlangoh, menjelaskan bagaimana dampak tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat.

“Dengan adanya hexa reef, abrasi pantai bisa ditekan. Itu yang membuat kami berani membuka dan mengelola wisata Pantai Pasir Putih Tlangoh,” ujarnya, Senin (22/12). Perlindungan pantai, bagi warga, adalah fondasi sebelum mimpi wisata bisa dibangun.

Tantangan sebagai Peluang

Pantai Pasir Putih Tlangoh justru mulai dikenal luas pada 2020, saat pandemi covid-19 memaksa banyak destinasi wisata tutup. Di tengah keterbatasan, pantai ini menjadi alternatif. Ruang terbuka dan laut lepas memberi rasa aman bagi pengunjung.

“Waktu itu banyak tempat wisata tutup. Di sini justru ramai, bahkan ada anggapan berendam di pantai bisa jadi salah satu cara menjaga kesehatan,” kata Zainudin.

Pada masa puncaknya, ribuan wisatawan datang setiap akhir pekan dan musim liburan. Namun pengelola menyadari satu hal: ramai bukanlah akhir.

“Wisatawan mungkin datang sekali, tapi kalau kesannya baik, promosi dari mulut ke mulut akan berjalan dengan sendirinya,” ujar Zainudin. Karena itu, perhatian pada kualitas pelayanan dan sumber daya manusia menjadi kunci.

Dampak wisata kemudian menjalar ke rumah-rumah warga. Di Tlangoh, fenomena warga yang memutuskan untuk merantau saat ini mulai bergeser. Sejumlah penduduk memilih pulang dan membuka usaha di sekitar pantai: dari UMKM, jasa parkir, hingga usaha pendukung lainnya.

“Sekarang banyak warga tidak perlu merantau lagi. Mereka bisa bekerja dan membuka usaha di desa sendiri,” kata Zainudin.

Saat ini, sekitar 40 pelaku UMKM aktif di kawasan Pantai Pasir Putih Tlangoh. Pengelolaan wisata yang makin tertata ikut mengangkat nama desa. Pada 2018, Desa Tlangoh meraih penghargaan sebagai desa terbaik peringkat kedua di Kabupaten Bangkalan, salah satunya berkat pengembangan wisata berbasis masyarakat.

Empat tahun setelah hexa reef dipasang, hasilnya mulai terlihat. Laju abrasi yang sebelumnya mencapai tujuh meter per tahun kini menurun menjadi sekitar lima meter per tahun. Hingga kini, PHE WMO telah memasang 395 unit hexa reef berukuran masing-masing 1,5 meter. Perlindungan pantai baru mencakup sekitar 300–400 meter—masih jauh dari kebutuhan ideal sepanjang dua kilometer.

Namun bukankah setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil? Di Pantai Pasir Putih Tlangoh, hexa reef bukan hanya beton pemecah ombak. Ia adalah penanda bahwa menjaga alam bisa berjalan seiring dengan membangun ekonomi warga, selama ada keberanian untuk bertanya, lalu bertindak. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x