
Sumber gambar: RRI KAMURA.id – Jika Bennedict Anderson menyebut dalam bukunya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism bahwa ada horizon yang similar yang dibayangkan oleh segenap masyarakat Indonesia yang akhirnya menjadikan mereka padu dalam satu konsep bernama bangsa, kendati setiap manusia yang ada di Indonesia belum pernah saling tatap muka, maka horizon seperti itulah yang saya bayangkan ketika melihat Madura United.
Satu warta menyebutkan bahwa saat ini Madura United tengah fokus dalam melangsungkan latihan dan uji coba di Yogyakarta. Tim yang akan menjadi kawan tanding uji coba adalah di antaranya ada Borneo FC, Java United, dan Barito Putera.
Dalam bab kompetisi, latihan dan uji coba ini adalah demi peningkatan performa untuk musim 2026/2027. Tetapi dalam konteks yang lebih luas, latihan tersebut justru melampaui apa yang fisik: sebagai orang Madura, saya justru melihat bahwa upaya ini adalah cara Madura United, sebagai satu representasi yang bisa mewadahi ke-Madura-an, untuk terus bertumbuh; untuk terus mampu menjadi horizon yang menyatukan seluruh masyarakat di Madura.
Pemusatan Latihan dan Horizon yang Dirawat
Manajer tim, Umar Wachdin, sebagaimana dilansir Jatim Viva, menyampaikan bahwa Madura United resmi memulai pemusatan latihan di Yogyakarta selama sepuluh hari. Sebelum bertolak ke sana, Laskar Sape Kerrab lebih dulu menggelar latihan di Bangkalan, pulau yang menjadi rumah asal klub ini.
Menurut Umar, uji coba melawan tim-tim Liga 1 seperti Java United, Borneo FC, dan Barito Putera adalah bekal berharga jelang bergulirnya kompetisi. Setiap laga menjadi bahan evaluasi tentang apa yang mesti diperbaiki.
“Target utama kami adalah melihat sejauh mana progres kesiapan tim serta memastikan seluruh pemain berada dalam performa puncak,” ujar Umar, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ucapan itu terdengar teknis, sebagaimana lazimnya keterangan seorang manajer tim menjelang musim baru. Namun bagi siapa saja yang mengikuti perjuangan Madura United selama ini akan segera paham bahwa target itu juga diikuti oleh beban yang cukup berat.
Dalam dua musim terakhir, Madura United hanya berkutat di papan bawah klasemen. Tim kebanggaan warga Madura ini bahkan harus berjuang keras untuk lolos dari zona degradasi. Fakta itulah yang membuat persiapan menuju musim 2026/2027 punya bobot berbeda: bukan sekadar rutinitas pramusim, melainkan usaha memperbaiki nama baik yang sempat pudar di mata publik Madura sendiri.
Manajemen merespons situasi ini dengan mendatangkan sejumlah pemain baru. Kedalaman skuad yang dibentuk diharapkan membuat Madura United dapat berbicara lebih baik pada musim mendatang. Setiap keputusan transfer, setiap sesi latihan tambahan, dan setiap laga uji coba yang dijalani tim di Yogyakarta pada akhirnya bermuara pada satu tujuan sederhana: memastikan Madura United kembali layak disebut sebagai representasi yang membanggakan.
Di titik inilah letak keterhubungan antara aspek teknis dan aspek yang saya sebut sebagai horizon bersama tadi. Sebab bagi publik Madura, performa Madura United di lapangan bukan semata soal tiga poin atau posisi klasemen. Performa itu menjadi cermin, tempat orang Madura menaruh sebagian dari cara mereka membaca diri sendiri di hadapan daerah lain.
Jika Anderson menjelaskan bahwa bangsa terbentuk lewat kesamaan pengalaman yang dibayangkan secara serentak, maka pada konteks Madura United hari ini, sejatinya menjalankan fungsi yang kurang lebih serupa. Warga Sumenep yang menonton laga uji coba dari layar ponsel, warga Bangkalan yang membaca kabar latihan lewat linimasa, dan warga Pamekasan yang berkumpul di warung kopi untuk membahas skuad baru, semuanya mengalami momen yang sama tanpa perlu bertatap muka satu sama lain. Mereka disatukan oleh objek yang sama: Madura United.
Momen-momen kecil semacam itu barangkali tampak sepele jika dilihat satu per satu. Namun bila dikumpulkan, momen-momen itulah yang menjadi bahan baku dari horizon bersama yang saya maksud. Setiap kali berita tentang latihan di Yogyakarta beredar, setiap kali hasil uji coba dibagikan ulang, di situ pula orang Madura dari berbagai penjuru pulau merasa menjadi bagian dari satu kisah yang sama, meski mereka tidak saling kenal.
Empat Kabupaten dalam Satu Warna
Karena itu, latihan dan uji coba di Yogyakarta tidak bisa dibaca semata sebagai persiapan taktis menuju musim baru. Ia adalah proses yang, secara tidak langsung, turut merawat horizon bersama yang menyatukan orang Madura dari empat kabupaten yang selama ini punya karakter dan kepentingan yang berbeda-beda.
Bangkalan dikenal dengan kedekatannya pada Surabaya dan denyut industrinya, Sampang dengan pergulatan sosial politiknya, Pamekasan dengan posisinya sebagai pusat pendidikan dan pemerintahan, sementara Sumenep membawa warisan dan kekayaan budaya keraton serta kepulauannya. Perbedaan-perbedaan itu, dalam banyak hal, kerap menjadi sumber gesekan maupun persaingan antarwilayah.
Namun ketika Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep menaruh harapan yang sama pada satu tim, di situlah Madura United berfungsi sebagai ruang temu, tempat keberagaman di dalam pulau ini untuk sementara melebur dalam satu warna.
Seorang suporter dari Sumenep dan seorang suporter dari Bangkalan mungkin tidak pernah bertemu, mungkin juga memiliki pandangan berbeda soal banyak persoalan sosial di Madura. Tetapi ketika Madura United bertanding, keduanya menaruh harap yang sama, merasakan tegang yang sama, dan merayakan kemenangan yang sama pula. Pada momen itu, sekat administratif antarkabupaten untuk sesaat kehilangan relevansinya.
Saya tidak hendak mengatakan bahwa sepak bola bisa menyelesaikan seluruh persoalan yang membelah masyarakat Madura. Tetapi selama Madura United terus berjuang, terus memperbaiki diri seperti yang tampak dari persiapan musim ini, horizon bersama itu akan terus punya alasan untuk dijaga.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar