x

Produksi Padi Sumenep Menurun, Alarm bagi Ketahanan Pangan Daerah

waktu baca 4 menit
Senin, 9 Feb 2026 17:46 127 Kamura

KAMURA.id –Produksi padi di Kabupaten Sumenep sepanjang 2024 menunjukkan penurunan yang tak bisa dianggap sekadar fluktuasi musiman. Dilansir dari data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep yang dirilis September 2025 mencatat luas panen hanya mencapai 36,76 ribu hektare, turun 5,67 ribu hektare atau 13,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dampaknya langsung terasa pada produksi, yang merosot menjadi 189,50 ribu ton gabah kering giling (GKG), setara 109,42 ribu ton beras, atau menurun sekitar 13 persen dari capaian 2023. Di tengah agenda nasional swasembada pangan yang terus digaungkan pemerintah, penurunan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi pada sektor pertanian di daerah ujung timur Pulau Madura tersebut?

Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Joko Santoso, menjelaskan adanya pergeseran pola panen sepanjang 2024. Puncak panen yang sebelumnya terjadi pada Maret dengan luas 20,17 ribu hektare pada 2023, bergeser menjadi April pada 2024 dengan luas 18,06 ribu hektare. Produksi tertinggi pun terjadi pada April dengan capaian 95,45 ribu ton GKG atau setara 55,12 ribu ton beras.

Sebaliknya, aktivitas panen paling minim tercatat pada November, hanya 0,00003 ribu hektare. Meski penurunan tajam produksi pada Maret 2024 sempat terkompensasi oleh lonjakan produksi April yang meningkat 76,25 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, akumulasi tahunan tetap menunjukkan tren menurun.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung ekonomi Sumenep dengan kontribusi 20,79 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2024.

Selain itu, sekitar 28,18 persen penduduk Sumenep menggantungkan hidup di sektor pertanian. Dengan posisi strategis seperti ini, penurunan produksi padi tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Analisis di Balik Fenomena

Namun, membaca fenomena ini hanya dari sisi perubahan iklim atau pergeseran pola panen tentu belum cukup. Penurunan produksi padi juga perlu dilihat dari aspek struktural yang selama ini membayangi kehidupan petani. Ketidakpastian pasar, misalnya, masih menjadi masalah klasik.

Fluktuasi harga gabah yang sering tidak sebanding dengan biaya produksi membuat petani berada dalam posisi rentan. Saat harga pupuk dan kebutuhan produksi meningkat, sementara harga jual tak stabil, banyak petani terpaksa mengurangi intensitas tanam atau bahkan beralih komoditas.

Ketidakjelasan nasib petani juga menjadi persoalan serius. Skema perlindungan harga, akses terhadap teknologi pertanian, hingga jaminan pembelian hasil panen belum sepenuhnya memberi kepastian. Kondisi ini membuat sebagian petani memilih strategi bertahan—mengurangi risiko dengan menanam lebih sedikit atau menunda musim tanam. Akibatnya, luas panen menyusut, dan produksi pun ikut menurun.

Di sisi lain, perubahan iklim memang berperan dalam menggeser pola tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Curah hujan yang tidak menentu memengaruhi kalender tanam tradisional yang selama ini menjadi acuan petani Madura. Pergeseran puncak panen dari Maret ke April menjadi salah satu indikator bahwa sistem pertanian lokal sedang beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.

Perlunya Studi yang Mendalam

Dalam konteks inilah, pernyataan BPS Sumenep mengenai urgensi data pertanian yang akurat menjadi sangat relevan. Data yang digunakan dalam laporan ini dikumpulkan melalui Survei Kerangka Sampel Area (KSA), metode pengukuran objektif berbasis citra satelit resolusi tinggi yang dipadukan dengan pengamatan lapangan langsung.

Sebanyak 130 segmen sampel diamati setiap bulan dengan tingkat realisasi pengamatan mencapai 100 persen sepanjang 2024. Kolaborasi nasional antara BPS, BRIN, ATR/BPN, dan Badan Informasi Geospasial menunjukkan bahwa penguatan basis data menjadi langkah penting dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.

Namun, ketersediaan data akurat hanyalah langkah awal. Fenomena penurunan produksi padi di Sumenep juga mengisyaratkan kebutuhan mendesak akan riset pertanian yang lebih serius, mendalam, dan berkelanjutan di Madura.

Selama ini, kajian pertanian di kawasan tersebut masih relatif terbatas, padahal karakteristik lahan, pola hujan, serta kondisi sosial-ekonomi petani memiliki kekhasan tersendiri. Tanpa riset yang terarah dan berkelanjutan, kebijakan pertanian berisiko hanya menjadi respons jangka pendek yang tidak menyentuh akar persoalan.

Inilah pentingnya membaca fenomena di balik penurunan produksi padi di Sumenep yang semata bukan sekadar angka statistik tahunan. Ia menjadi sinyal peringatan tentang rapuhnya sistem pertanian lokal di tengah tekanan pasar, perubahan iklim, dan minimnya kepastian bagi petani.

Jika agenda swasembada pangan ingin benar-benar terwujud, maka perhatian terhadap nasib petani, stabilitas pasar, serta investasi serius pada riset pertanian di Madura harus menjadi prioritas. Tanpa itu, target besar di tingkat nasional bisa saja berjarak jauh dari realitas keseharian para petani di ladang-ladang Sumenep. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x